Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor ritel nasional kerap menikmati lonjakan transaksi saat momentum hari besar keagamaan. Namun di balik euforia belanja menjelang Ramadan dan Idulfitri, pelaku usaha justru menyimpan kekhawatiran terhadap periode setelahnya. Bagi banyak peritel, masa inilah yang dianggap sebagai fase paling menantang dalam satu tahun kalender bisnis.
Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menggambarkan periode pasca-Lebaran sebagai fase penurunan konsumsi yang tidak sebentar. Ia menyebut jarak menuju musim belanja berikutnya, yakni Natal dan Tahun Baru (Nataru), terasa panjang dan berisiko bagi arus kas usaha.
"Nah tinggal para peritel mikirin, sehabis Ramadan, sehabis Idulfitri, ya, masa pasifnya agak jauh. Kita menyebutnya panjang dan dalam karena ketemu lagi nanti di Nataru. Nah itulah ujian yang sebenarnya sebetulnya. Nah mudah-mudahan nanti teman-teman peritel sudah mempunyai strategi tertentu untuk menghadapi masa yang panjang dan dalam nantinya, mudah-mudahan," katanya di Kuningan City, Jumat (13/2/2026)
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Setelah lonjakan penjualan saat Ramadan dan Lebaran, pola konsumsi masyarakat umumnya kembali normal bahkan cenderung melambat. Kondisi ini membuat pengelolaan stok, promosi, hingga perencanaan keuangan menjadi penentu apakah bisnis ritel bisa tetap stabil atau justru terpukul.
Foto: Kondisi peritel modern tampak lengang masih berjalan normal dan tidak ada fenomena panic buying. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Kondisi peritel modern tampak lengang masih berjalan normal dan tidak ada fenomena panic buying. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Di sisi lain, Solihin menegaskan bahwa persiapan menghadapi Ramadan sebenarnya telah dilakukan jauh hari oleh para pelaku usaha. Menurutnya, momen tahunan tersebut bukan kejutan sehingga antisipasi pasokan barang dan distribusi logistik telah disusun sejak awal.
"Ada yang menanyakan bagaimana persiapan para peritel dalam menghadapi Ramadan dan Lebaran? Saya pastikan karena Ramadan dan Lebaran datangnya enggak mendadak. Jarang orang bilang 'Eh besok Ramadan' gitu. Artinya sudah sekian lama sebelumnya sudah tahu dan antisipasi soal stok, dan Menteri Perdagangan juga sudah mengundang kita dalam hal ini untuk memastikan persediaan stok Lebaran itu bisa cukup. Insyaallah dengan kondisi yang saat ini logistik lancar khususnya ya, walaupun di beberapa tempat masih ada kendala," ujar Solihin.
Koordinasi antara pemerintah, pusat perbelanjaan, pasar rakyat, dan pelaku usaha disebut menjadi kunci menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan barang tersedia merata di berbagai daerah. Gerakan bersama ini bukan hanya untuk mengamankan suplai, tetapi juga menjaga daya beli agar tidak tergerus tekanan ekonomi global.
Optimisme pelaku usaha terhadap kuartal pertama setiap tahun juga didorong oleh faktor musiman yang hampir selalu menciptakan permintaan tinggi. Konsumsi rumah tangga menjadi mesin utama pergerakan ekonomi nasional, terutama ketika Ramadan dan Idulfitri berdekatan dengan periode awal tahun anggaran.
"Banyak teman-teman bertanya bagaimana dengan kuartal satu? Bisa dipastikan penjualannya pasti baik, karena ada momen-momen yang kita tahu sendiri kebutuhan masyarakat sangat-sangat sangat lebih dibandingkan biasanya. Kita tahu Ramadan puasa, makan cuma dua kali. Kalau hari biasa makan mungkin tiga kali: sarapan, siang, sama malam. Tapi kebutuhannya lebih banyak pada saat makan dua kali. Ya ini luar biasa nih, Indonesia luar biasa," ujar Solihin.
(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
4

















































