Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dikecam oleh umat Kristen setelah membandingkan Yesus Kristus dengan Genghis Khan, dalam sebuah pertemuan dengan media asing di Yerusalem dan disiarkan di televisi akhir pekan lalu. Dalam transkrip konferensi pers yang dirilis The Times of Israel, ia menyatakan Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan.
"Sejarah membuktikan bahwa, sayangnya dan dengan berat hati, Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan. Karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Agresi akan mengalahkan moderasi," kata Netanyahu dalam konferensi pers berbahasa Inggris pertamanya sejak dimulainya perang Iran, dikutip Selasa (23/3/2026).
Meski begitu, Netanyahu keesokan harinya menolak tuduhan bahwa ia bermaksud menyinggung umat Kristen ketika mengatakan bahwa Yesus "tidak memiliki keunggulan" atas Genghis Khan. Ia bahkan menyinggung itu berita palsu.
"Berita palsu lagi tentang sikap saya terhadap umat Kristen, yang dilindungi dan berkembang di Israel. Izinkan saya memperjelas: Saya tidak menghina Yesus Kristus dalam konferensi pers saya," tulis Netanyahu dalam bahasa Inggris di media sosial, dikutip AFP.
Netanyahu mengatakan, pernyataannya itu sebatas, mengutip catatan sejarawan besar Amerika, Will Durant. Sebagai pengagum setia Yesus Kristus, Durant kata Netanyahu menyebut moralitas saja tidak cukup untuk menjamin kelangsungan hidup.
"Peradaban yang unggul secara moral pun masih bisa jatuh ke tangan musuh yang kejam jika tidak memiliki kekuatan untuk membela diri. Tidak ada maksud untuk menyinggung perasaan," ungkapnya lagi.
Pernyataannya itu dalam konteks membela serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran yang diluncurkan pada 28 Februari dan menegaskan bahwa itu adalah cara terbaik untuk melindungi tidak hanya Israel tetapi "seluruh dunia" dari apa yang disebutnya sebagai ancaman program nuklir dan rudal balistik Iran.
Meski demikian, pernyataannya itu telah memicu gelombang kritik di media sosial. Khususnya dari umat Kristen yang marah dengan perbandingan antara Yesus- yang mereka anggap sebagai Tuhan yang menjelma sebagai juru damai- dan Genghis Khan, pendiri Kekaisaran Mongol abad ke-13 yang pasukannya menghancurkan Asia dari China hingga Mediterania.
Munther Isaac, seorang pendeta Lutheran Palestina dari Betlehem, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus, mengatakan di media sosial bahwa pernyataan Netanyahu "menyinggung dalam berbagai hal". "Buku itu tidak hanya membandingkan Yesus dengan Genghis Khan," katanya.
"Tetapi juga menyiratkan bahwa jalan Yesus itu naif, sementara pendekatan yang kejam dan berprinsip 'kekuatanlah yang menentukan kebenaran'... adalah apa yang pada akhirnya memungkinkan kebaikan untuk mengalahkan kejahatan," tambahnya.
"Netanyahu, dan para pendukung Zionis Kristennya, sedang memperolok-olok etika Yesus," katanya lagi.
(sef/sef)
Addsource on Google

6 hours ago
4

















































