Warga AS Kian Merana, Ramai-Ramai Rumah Tangga Makin Rasa Tak Aman

2 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) kini berada dalam kondisi yang oleh sejumlah pengamat disebut sebagai boomcession. Istilah ini merujuk pada ketimpangan antara indikator ekonomi yang tampak kuat dengan pengalaman nyata masyarakat yang justru tidak sejalan.

Boomcession merupakan gabungan kata boom dan recession. Konsep ini diperkenalkan oleh Matt Stoller, aktivis antimonopoli sekaligus direktur riset di American Economic Liberties Project, lembaga riset nonpartisan di AS.

Fenomena tersebut muncul ketika kinerja ekonomi meningkat, pasar saham mencatat reli, dan belanja konsumen masih terjaga. Prediksi resesi pascapandemi yang sempat ramai dibicarakan pun tidak benar-benar terjadi.

Namun, di balik data yang tampak positif itu, banyak warga Amerika merasa kondisi keuangan mereka justru semakin tertekan. Tingkat utang rumah tangga mencapai rekor tertinggi, dan sebagian besar masyarakat bahkan meyakini ekonomi AS sedang melemah. Kesenjangan inilah yang membuat banyak orang merasa tidak ikut menikmati hasil pertumbuhan, meski turut menjadi bagian dari roda ekonomi.

Boomcession kerap dibandingkan dengan fenomena vibecession yang ramai pada 2022, saat data ekonomi terlihat solid tetapi sentimen publik memburuk. Konsep ini juga memiliki irisan dengan K-shaped economy, yakni pemulihan yang dirasakan sangat berbeda antar kelompok pendapatan.

Perbedaannya, boomcession tidak sekadar menyoroti persepsi atau suasana hati, melainkan tekanan finansial yang benar-benar dialami masyarakat. Dalam konteks ini, menjadi lebih mudah dipahami mengapa banyak orang merasa tertinggal meskipun ekonomi tampak sehat secara statistik.

Inflasi Jadi Biang Ketimpangan

Salah satu faktor utama yang memperlebar jurang tersebut adalah inflasi, yang dampaknya tidak merata. Mengutip CNBC International, laju kenaikan harga yang dirasakan konsumen berbeda-beda tergantung tingkat pendapatan dan wilayah tempat tinggal.

Data Morgan Stanley menunjukkan bahwa harga pangan dan biaya perumahan mencatat kenaikan tertinggi di antara kebutuhan pokok sepanjang periode 2020-2025. Kedua pos ini juga menyerap porsi belanja yang jauh lebih besar bagi kelompok berpendapatan rendah pada 2024.

Artinya, setiap kenaikan harga kebutuhan dasar akan lebih membebani kelompok masyarakat yang pengeluarannya didominasi oleh kebutuhan pokok. Ekonom Morgan Stanley, Heather Berger, menilai kelompok berpenghasilan rendah secara historis memang lebih sering menghadapi inflasi yang lebih tinggi dibanding kelompok yang lebih mapan. Kesenjangan ini semakin melebar ketika inflasi berada di atas target 2% bank sentral AS, The Federal Reserve.

Salah satu bank sentral regional AS, Federal Reserve Bank of Atlanta, juga mencatat harga pangan meningkat sekitar 9% lebih tinggi di wilayah berpendapatan rendah dibanding wilayah kaya pada periode kuartal II 2006 hingga kuartal III 2020.

Pengalaman Hidup yang Tak Sama

Beberapa pengamat menilai, jika praktik monopoli dan perbedaan harga dianggap sebagai bagian inheren dari ekonomi AS, maka wajar bila pengalaman masyarakat terasa timpang. Sebagian kelompok menikmati harga yang relatif lebih ringan, sementara kelompok lain harus menanggung beban biaya hidup yang lebih berat.

Di tengah kondisi ini, Presiden AS Donald Trump mendorong berbagai inisiatif untuk menekan harga rumah dan obat-obatan. Trump sempat menyatakan inflasi nyaris tidak ada pada Januari lalu, meskipun data terbaru masih menunjukkan inflasi berada di atas level tahunan 2% yang kerap dianggap ideal oleh pejabat The Fed.

Para ekonom dan investor kini menanti seberapa agresif kebijakan keterjangkauan tersebut akan dijalankan menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.

Sementara kebijakan terus bergulir, rasa aman keuangan rumah tangga AS tak lagi sekuat awal dekade 2020-an saat stimulus pandemi masih mengalir deras. Ekonom senior NerdWallet, Elizabeth Renter, menilai banyak keluarga kini merasa lebih rentan terhadap kondisi ekonomi mereka.

Data Federal Reserve Bank of New York menunjukkan utang kartu kredit mencapai rekor tertinggi US$1,28 triliun pada kuartal IV tahun lalu, menegaskan bahwa tekanan finansial rumah tangga meningkat di tengah pertumbuhan ekonomi.

Pasar Kerja Tak Seiring Bursa

Selain harga, sorotan juga tertuju pada pasar tenaga kerja. Sejumlah ekonom menyebut situasi saat ini sebagai jobless boom atau hiring recession. Ketua The Fed Jerome Powell menggambarkannya sebagai lingkungan dengan perekrutan rendah sekaligus tingkat PHK yang juga rendah.

Data menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS pada Desember 2025 turun ke titik terendah sejak 2020, hanya tersisa 6.542 posisi. Kondisi ini kontras dengan pasar saham yang tercermin dari Dow Jones Industrial Average yang justru menguat.

Karena kepemilikan saham lebih banyak berada di tangan kelompok berpendapatan tinggi, reli bursa turut menopang kepercayaan dan konsumsi mereka. Sebaliknya, bagi masyarakat tanpa aset saham, kenaikan pasar modal nyaris tidak memberi manfaat, sementara peluang kerja justru terasa semakin sempit.

Di sisi lain, produktivitas output per pekerja per jam mencetak rekor tertinggi baru tahun lalu setelah pulih dari tekanan pandemi. Namun bagi pekerja, lonjakan produktivitas ini juga memicu kekhawatiran karena dikaitkan dengan adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja.

Bagian Pekerja Menyempit

Porsi output ekonomi yang mengalir ke pekerja melalui kompensasi atau labor share turun ke level terendah baru pada tahun lalu. Pada saat yang sama, selisih antara laba korporasi dan upah sebagai porsi dari Produk Domestik Bruto (PDB) semakin melebar. Survei sentimen University of Michigan pun mendekati titik terendah sepanjang sejarah.

Meski sentimen publik cenderung muram, belanja konsumen tetap cukup kuat sehingga ekonomi AS tumbuh 4,3% pada kuartal III 2025, lebih cepat dari perkiraan. Namun analisis Moody's menunjukkan pertumbuhan konsumsi kini semakin bergantung pada 20% kelompok pendapatan teratas.

Laporan nonfarm payroll Januari 2026 juga melampaui ekspektasi, memberi sinyal stabilisasi pasar tenaga kerja. Meski demikian, kenaikan tersebut terutama ditopang sektor layanan kesehatan yang menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan bersih.

Persepsi Resesi Masih Kuat

Survei Guardian Harris pada Desember lalu menunjukkan hampir tiga perlima warga Amerika percaya ekonomi AS sedang berada dalam resesi, naik 11% dibandingkan survei serupa awal 2025, meskipun secara teknis resesi biasanya diartikan sebagai beberapa kuartal pertumbuhan PDB negatif.

Sementara itu, survei Snap Finance yang dikutip CNBC International menunjukkan tekanan paling berat dirasakan kelompok berpendapatan bawah. Sekitar seperempat responden menyatakan kondisi keuangannya tidak stabil atau sangat tidak stabil.

Angka tersebut melonjak menjadi 41% pada responden dengan skor kredit di bawah 670, dan 54% pada rumah tangga berpendapatan US$50.000 atau lebih rendah, dari lebih 1.400 responden yang disurvei pada Desember 2025.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |