Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
31 August 2026 12:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik bagi berbagai merek global. Besarnya jumlah penduduk dan kuatnya konsumsi masyarakat membuat banyak perusahaan asing berlomba membangun bisnisnya di Tanah Air.
Namun, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Sejumlah brand pernah menghentikan penjualan, menutup seluruh gerai, atau kehilangan mitra lokalnya. Penyebabnya beragam, mulai dari krisis ekonomi, lemahnya penjualan, pergantian distributor, berakhirnya lisensi, hingga perubahan strategi perusahaan.
Sebagian dari mereka akhirnya kembali setelah vakum selama beberapa tahun. Comeback tersebut umumnya dilakukan dengan menggandeng mitra baru, mengambil kendali bisnis secara langsung, atau membawa konsep yang lebih sesuai dengan pasar Indonesia.
1. ACE Hardware
ACE Hardware telah beroperasi selama hampir tiga dekade di Indonesia bersama Kawan Lama Group. Namun, kerja sama lisensi antara kedua pihak berakhir pada 31 Desember 2024 dan tidak diperpanjang.
Kawan Lama kemudian mengubah seluruh jaringan toko ACE Hardware miliknya menjadi AZKO mulai awal 2025. Sementara itu, merek ACE Hardware kembali ke Indonesia pada Juli 2026 melalui kerja sama dengan PT Mitra Adiperkasa Tbk atau MAP.
Artinya, bukan toko lama Kawan Lama yang berpindah ke MAP. ACE Hardware hadir kembali sebagai jaringan baru, sedangkan AZKO tetap berjalan sebagai brand milik Kawan Lama. Keduanya kini menjadi pesaing di pasar perlengkapan rumah.
Ace Hardware (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
2. Volvo Cars
Volvo pernah memasarkan mobil penumpang di Indonesia melalui sejumlah distributor, termasuk Indomobil dan Garansindo. Namun, penjualannya terus melemah hingga aktivitas bisnisnya praktis berhenti sekitar 2017.
Merek mobil asal Swedia tersebut kembali pada 2023 melalui PT Leading Vision Otomotif. Pada periode barunya, Volvo tidak hanya mengandalkan citra sebagai mobil premium dengan standar keselamatan tinggi.
Perusahaan juga membawa strategi elektrifikasi dengan memasarkan kendaraan listrik dan plug-in hybrid. Strategi ini digunakan untuk membidik konsumen kelas atas yang mulai mencari kendaraan lebih ramah lingkungan.
3. Chery
Chery pertama kali masuk ke Indonesia pada 2006 melalui kerja sama dengan Indomobil. Namun, mobil asal China tersebut saat itu kesulitan membangun penjualan dan kepercayaan konsumen. Operasionalnya akhirnya berhenti sekitar 2013.
Setelah absen hampir sembilan tahun, Chery kembali pada 2022 melalui PT Chery Sales Indonesia dengan dukungan langsung dari perusahaan induknya.
Comeback kali ini dilakukan lebih serius. Chery membawa deretan SUV baru, memperluas dealer, memperkuat layanan purnajual, dan menyiapkan produksi lokal. Merek tersebut juga mulai masuk ke pasar kendaraan listrik yang sedang berkembang di Indonesia.
Logo Chery. (REUTERS/Anton Vaganov/File Photo)
4. Ford
Ford Motor Indonesia menghentikan seluruh kegiatan bisnisnya pada 2016. Keputusan tersebut membuat penjualan mobil baru dan operasional dealer Ford berhenti, meskipun layanan purnajual masih dipertahankan melalui RMA Indonesia.
Enam tahun kemudian, Ford kembali menjual kendaraan di Indonesia dengan menunjuk RMA Indonesia sebagai distributor resmi.
Ford tidak langsung bermain di pasar mobil massal. Perusahaan lebih memilih produk yang memiliki karakter kuat seperti Ranger, Ranger Raptor, dan Everest. Strategi ini membuat Ford fokus pada konsumen pikap serta SUV kelas menengah atas.
5. Subway
Subway pernah hadir di Indonesia pada dekade 1990-an. Namun, jaringan restoran sandwich asal Amerika Serikat tersebut tidak mampu bertahan dan seluruh gerainya berhenti beroperasi pada Oktober 2000.
Setelah menghilang selama sekitar 21 tahun, Subway kembali pada Oktober 2021. Operasionalnya dijalankan PT Sari Sandwich Indonesia, perusahaan di bawah kelompok MAP Boga Adiperkasa.
Gerai comeback pertamanya dibuka di Cilandak Town Square, Jakarta. Subway kemudian berekspansi ke berbagai pusat perbelanjaan dan kota besar dengan menawarkan konsep makanan cepat saji yang dapat disesuaikan oleh konsumen.
The Subway logo is seen on on a soft drink cup next to a sandwich at a restaurant in Londonderry, N.H., Friday, Feb. 23, 2018. Subway is shaking up its loyalty rewards program, giving customers the ability to earn $2 discounts instead of free Footlongs.(AP Photo/Charles Krupa) Foto: AP/Charles Krupa
6. Burger King
Burger King pertama kali masuk ke Indonesia pada 1986 melalui Grup Gelael. Namun, krisis finansial Asia dan tekanan bisnis membuat jaringan restoran tersebut menutup operasinya pada 1998.
Merek restoran cepat saji itu kembali pada April 2007 melalui PT Sari Burger Indonesia yang terafiliasi dengan MAP. Gerai pertamanya dalam periode baru dibuka di Senayan City, Jakarta.
Sejak itu, Burger King memperluas jaringan gerainya secara bertahap. Brand tersebut kembali bersaing dengan sejumlah pemain besar, terutama McDonald's, KFC, dan berbagai jaringan restoran cepat saji lokal.
burger king Foto: Reuters
7. KKV
KKV masuk ke Indonesia sekitar 2020 dengan konsep toko gaya hidup berukuran besar, desain berwarna-warni, dan pilihan produk yang sangat beragam.
Namun, pada 2024, nama KKV menghilang dari sejumlah pusat perbelanjaan. Banyak gerai yang sebelumnya menggunakan merek tersebut kemudian berubah menjadi OH!SOME.
KKV akhirnya kembali secara terpisah di bawah kendali langsung KK Group pada April 2026. Comeback tersebut dimulai melalui pengoperasian enam gerai. Kini KKV dan OH!SOME merupakan dua jaringan berbeda yang saling bersaing dalam segmen ritel gaya hidup Indonesia.
8. Yoshinoya
Yoshinoya pernah hadir di Indonesia pada dekade 1990-an, termasuk membuka restoran di Pondok Indah Mall. Namun, kerja sama waralabanya berakhir dan jaringan restoran tersebut menghentikan operasinya pada 1998.
Setelah vakum selama sekitar 12 tahun, Yoshinoya kembali pada Juni 2010 melalui PT Multirasa Nusantara. Gerai pertama pada periode barunya dibuka di Grand Indonesia, Jakarta.
Yoshinoya kemudian berkembang dengan mengandalkan menu beef bowl, harga relatif terjangkau, dan ekspansi gerai di pusat perbelanjaan. Brand asal Jepang tersebut kini menjadi salah satu pemain utama dalam kategori restoran rice bowl.
9. Cheetos dan Lay's
Cheetos dan Lay's berhenti diproduksi serta dipasarkan di Indonesia pada Agustus 2021. Hal ini terjadi setelah Indofood CBP membeli seluruh saham PepsiCo dalam perusahaan patungan PT Indofood Fritolay Makmur.
Berakhirnya kerja sama tersebut juga membuat PepsiCo tidak boleh memasarkan produk makanan ringan pesaing di Indonesia selama tiga tahun. Setelah pembatasan itu berakhir, PepsiCo kembali dengan membangun pabriknya sendiri di Cikarang, Jawa Barat.
Pabrik senilai sekitar US$200 juta tersebut mulai berproduksi pada Januari 2025. Cheetos dan Lay's kemudian kembali beredar bersama Doritos di bawah PT PepsiCo Indonesia Foods and Beverages, tanpa menggandeng Indofood.
Sumber: INDF Foto: Sumber: INDF
10. Domino's Pizza
Domino's Pizza pertama kali masuk ke Indonesia pada 1994 di bawah PT Duniapizza Indonesia. Gerai pertamanya berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan. Pada 1997, jaringan tersebut telah memiliki sekitar lima gerai di Jakarta.
Namun, krisis moneter yang menghantam Indonesia membuat bisnisnya tidak bertahan dan seluruh gerainya ditutup sekitar 1998.
Domino's Pizza kembali pada 22 Agustus 2008 melalui PT Dom Pizza Indonesia yang berada dalam kelompok MAP. Gerai comeback pertamanya dibuka di kawasan Pondok Indah, Jakarta.
Dalam periode barunya, Domino's lebih menonjolkan layanan pesan antar, pemesanan digital, dan ekspansi gerai yang agresif. Jaringannya kemudian berkembang dari Jabodetabek menuju berbagai kota besar di Indonesia.
Kembalinya sepuluh brand tersebut menunjukkan bahwa hengkang dari Indonesia tidak selalu berarti pasar lokal sudah tidak menarik. Penyebabnya justru sering berasal dari krisis ekonomi, masalah distributor, berakhirnya lisensi, atau strategi bisnis yang kurang tepat.
Sebagian besar brand tersebut kembali dengan modal lebih besar, mitra yang lebih kuat, dan pengelolaan yang lebih serius. Comeback mereka sekaligus membuktikan bahwa Indonesia masih menjadi pasar yang terlalu besar untuk diabaikan oleh perusahaan global.
-
(gls/gls)

1 hour ago
1

















































