Jakarta, CNBC Indonesia - Pesatnya industri kendaraan listrik (EV) mengubah peta persaingan global. Perebutan kini bukan lagi sekadar pasar mobil listrik, melainkan penguasaan rantai pasok baterai, dari tambang hingga pabrik sel.
Di tengah persaingan itu, Indonesia memiliki modal besar sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, komponen utama baterai EV berbasis nikel. Cadangan besar berpotensi mengantarkan Indonesia menjadi salah satu pusat industri baterai global.
Nikel menjadi bahan penting dalam baterai kendaraan listrik karena mampu meningkatkan kepadatan energi baterai. Semakin tinggi kandungan nikel, semakin banyak energi yang dapat disimpan baterai dalam ukuran yang sama.
Ilustrasi Nikel. (Dok. Freepik) Foto: Ilustrasi Nikel. (Dok. Freepik)
Bagi produsen mobil listrik, hal ini sangat penting karena membuat kendaraan bisa menempuh jarak lebih jauh dalam sekali pengisian daya tanpa harus menggunakan baterai yang lebih besar dan berat.
Nikel merupakan salah satu bahan baku paling penting dalam baterai kendaraan listrik, terutama untuk baterai jenis NMC (Nickel Manganese Cobalt) dan NCA (Nickel Cobalt Aluminum) yang banyak digunakan oleh produsen mobil listrik global.
Menurut USGS, sumber daya nikel global mencapai lebih dari 350 juta ton, dengan mayoritas berasal dari endapan laterit (54%) dan sulfida magmatik (35%).
Bahkan, studi USGS pada 2022 memperkirakan dasar laut dunia menyimpan sekitar 4,5 miliar ton nikel, menunjukkan besarnya potensi pasokan jangka panjang.
Menurut data USGS, produksi nikel global diperkirakan naik 5% menjadi 3,9 juta ton pada 2025.
Indonesia menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan produksi sekitar 13% atau 2,6 juta ton. Jumlah ini berkontribusi lebih dari 50% pasokan global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia dan pemain paling diperhitungkan.
Sebaliknya, produksi Australia anjlok sekitar 54% menjadi 45.000 ton akibat rendahnya harga nikel, sementara Filipina turun 24% menjadi 270.000 ton.
Nilai Industri Baterai Diproyeksi Tembus US$400 Miliar pada 2030
Seiring meningkatnya kebutuhan kendaraan listrik dan penyimpanan energi, industri baterai global juga berkembang pesat.
Setelah mencapai 1 terawatt-hour (TWh) pada 2024, permintaan baterai isi ulang diperkirakan melonjak lebih dari empat kali lipat pada 2030 dibandingkan level 2023.
Proyeksi McKinsey & Company menunjukkan permintaan baterai lithium-ion global akan melonjak hampir tujuh kali lipat pada 2030.
Nilai bisnisnya pun diperkirakan melesat, dari US$85 miliar pada 2022 menjadi lebih dari US$400 miliar pada akhir 2030. Lonjakan terbesar diperkirakan berasal dari bisnis bahan aktif baterai (active materials) dan manufaktur sel baterai, dua mata rantai yang kini menjadi rebutan banyak negara.Top of Form
Industri ini juga diperkirakan bisa menyerap 18 juta lapangan kerja.
Permintaan sel baterai Li-ion global, GWh, skenario dasar (base case) Foto: Mckinsey
Persaingan Baterai LFP vs NMC
Industri baterai kendaraan listrik sendiri kini diramaikan persaingan dua teknologi utama, yakni Nickel Manganese Cobalt (NMC) dan Lithium Iron Phosphate (LFP). Meski sama-sama berbasis lithium-ion, keduanya memiliki komposisi kimia yang berbeda sehingga menawarkan keunggulan dan karakteristik yang berbeda pula.
Persaingan ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga perebutan rantai pasok dan pengaruh industri global.
Baterai NMC sempat mendominasi berkat kepadatan energi yang tinggi tetapi LFP semakin agresif merebut pasar.
Baterai LFP menggunakan lithium iron phosphate (LiFePO4) sebagai material katoda. Baterai ini memiliki tegangan nominal sekitar 3,2 volt.
Nitip baterai mobil listrik dari Musium Nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah. (CNBC Indonesia/Shanta Curanggana) Foto: (CNBC Indonesia/Shanta Curanggana)
Sementara itu, baterai NMC menggunakan campuran nikel, mangan, dan kobalt sebagai material katoda, serta grafit pada anoda. Tegangan nominalnya sekitar 3,7 volt, sehingga mampu menghasilkan energi lebih besar.
Baterai LFP menjadi salah satu faktor utama turunnya harga baterai global. Pada 2025, harga paket baterai LFP rata-rata lebih dari 40% lebih murah dibandingkan baterai berbasis NMC per kWh.
Pada 2025, baterai LFP menyumbang lebih dari 55% dari total baterai EV yang digunakan secara global tetapi penggunaannya masih sangat terkonsentrasi di China. Pasalnya, perusahaan-perusahaan China memimpin dalam produksi, inovasi, dan pasokan material baterai LFP.
Jika hanya melihat baterai kendaraan listrik yang digunakan di luar China pada 2025, hampir 80% masih menggunakan baterai berbasis nikel, seperti NMC.
Salah satu keunggulan utama baterai natrium-ion adalah kemampuannya bekerja pada suhu ekstrem. Dibandingkan baterai lithium-ion, khususnya LFP, baterai natrium-ion memiliki performa jauh lebih baik pada cuaca dingin.
Generasi terbaru baterai natrium-ion mampu mempertahankan sekitar 90% kapasitasnya pada suhu -40°C dan tetap dapat beroperasi hingga 70°C.
Bagi produsen besar, mengembangkan teknologi natrium-ion juga menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap harga lithium yang sangat fluktuatif.
Meski demikian, teknologi ini masih memiliki kelemahan utama berupa kepadatan energi yang lebih rendah.

3 hours ago
3

















































