10 Saham Ditendang MSCI, Risiko Asing Kabur Rp 13,45 Triliun

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia — Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan dua emiten Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes. Perubahan tersebut dinilai berpotensi memicu total outflow sekitar US$753 juta atau setara Rp13,45 triliun dari pasar Indonesia.

Kedua saham yang didepak MSCI adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). CPIN kemudian masuk ke MSCI Small Cap Indexes, sementara sembilan saham lainnya terhapus dari indeks Small Cap tersebut.

Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati mengatakan berdasarkan estimasi aliran dana, perubahan tersebut berpotensi memicu total outflow sekitar US$753 juta.

"Angka tersebut terdiri dari sekitar US$684 juta dari MSCI Standard Cap dan US$68 juta dari MSCI Small Cap," ungkap Desy kepada wartawan, Kamis, (13/8/2026).

Perubahan tersebut juga diperkirakan menurunkan bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Investable Market Index (EM IMI). Estimasi bobot Indonesia turun dari 0,59% menjadi 0,55% setelah adanya perubahan komposisi indeks tersebut.

"Dari sisi pasar saham domestik, IHSG berpeluang menguji level resistance 6.400. Adapun level pivot IHSG berada di 6.350 dengan support di 6.270," ungkap Desy.

Beberapa sentimen yang mendorong IHSG setelah ini adalah rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat. Namun, pasar masih akan mencermati rilis Producer Price Index (PPI) AS, dinamika MSCI, serta risiko geopolitik di Timur Tengah.

Selain itu, pidato kenegaraan dan penyampaian Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 pada 14 Agustus 2026 akan menjadi salah satu katalis penting bagi arah pasar saham domestik. Investor akan mencermati berbagai kebijakan pemerintah yang berpotensi memengaruhi prospek perekonomian dan pasar keuangan Indonesia.

Sementara itu, Analis sekaligus Founder Stocknow Hendra Wardana menilai keluarnya GOTO dari MSCI Global Standard Indexes dan turunnya CPIN ke MSCI Small Cap Indexes menjadi alarm keras bagi pasar modal Indonesia.

Menurutnya, persoalan pasar modal nasional bukan lagi sekadar jumlah emiten atau kapitalisasi pasar, tetapi telah menyentuh kualitas likuiditas dan tingkat investability.

Menurut Hendra, kondisi tersebut menjadi lebih mengkhawatirkan karena terjadi ketika pasar modal Indonesia tengah berupaya meyakinkan investor global bahwa proses reformasi telah berjalan.

Di satu sisi, Indonesia mendorong peningkatan free float, transparansi pemegang saham, penguatan tata kelola, dan berbagai reformasi lainnya, tetapi di sisi lain sejumlah saham Indonesia justru kehilangan tempat di indeks global yang menjadi rujukan investor institusi.

"Ini menunjukkan bahwa reformasi di atas kertas belum otomatis menghasilkan pasar yang lebih dalam dan lebih likuid," ungkap Hendra.

Hendra mempertanyakan mengapa semakin sulit bagi saham Indonesia untuk mempertahankan posisi sebagai saham yang investable bagi investor global.

Menurutnya, perlu dilihat apakah pertumbuhan jumlah investor domestik telah benar-benar mampu menciptakan likuiditas yang dalam atau pasar masih terlalu bergantung pada transaksi jangka pendek dan terkonsentrasi pada segelintir saham.

Dia juga menilai pengembangan pasar modal tidak dapat hanya berorientasi pada sisi pasokan atau supply side. Penambahan emiten, penerbitan produk baru, dan peningkatan jumlah perusahaan tercatat memang penting, tetapi harus diikuti pertumbuhan permintaan dan likuiditas.

Pasar modal, lanjut Hendra, tidak cukup hanya memiliki banyak saham. Yang dibutuhkan adalah saham-saham yang aktif diperdagangkan, memiliki free float yang sehat, tata kelola kredibel, serta mampu menyerap transaksi investor institusi dalam skala besar.

Di sisi lain, Annual Country Review MSCI perlu dipahami secara tepat karena perubahan tersebut tidak berarti Indonesia turun kelas menjadi negara frontier market.

Tidak terdapat perubahan terhadap daftar negara Emerging Markets dalam MSCI Frontier Emerging Markets Index, sehingga perubahan kali ini berkaitan dengan komposisi saham Indonesia dalam indeks MSCI.

Dengan demikian, fokus evaluasi seharusnya diarahkan pada kualitas saham dan kedalaman pasar, bukan status Indonesia sebagai sebuah negara. Keluarnya GOTO dari MSCI Global Standard Indexes dan turunnya CPIN menjadi sinyal bagi pelaku pasar bahwa kualitas investability saham Indonesia perlu terus diperkuat.

(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |