Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mendadak mengoreksi pernyataannya soal serangan siber yang diduga dilakukan peretas China. Sejumlah lembaga pemerintah AS yang sebelumnya disebut sebagai "korban" peretasan kini dinyatakan baru menjadi "target" kelompok peretas tersebut.
Departemen Kehakiman AS (Department of Justice/DOJ) pada Jumat (28/8) mengubah pernyataan sebelumnya terkait kelompok peretas yang diduga disponsori pemerintah China, QTFY.
Dalam pernyataan, DOJ menyebut Senat AS, Federal Reserve, NASA, dan sejumlah lembaga lainnya termasuk di antara target QTFY. Kelompok tersebut diidentifikasi pejabat AS pada Rabu dalam operasi penyitaan domain internet.
Pernyataan awal DOJ sebelumnya menyebut lembaga-lembaga pemerintah tersebut sebagai korban serangan kelompok peretas China.
DOJ kemudian menambahkan catatan dalam pernyataan yang telah diperbarui.
"Perubahan telah dilakukan untuk memastikan siaran pers ini secara akurat mencerminkan tuduhan pemerintah dalam pernyataan tertulis yang mendukung penyitaan domain," tulis DOJ, dikutip dari Reuters, Senin (31/8/2026).
DOJ juga menjelaskan alasan perubahan tersebut. Departemen itu mengatakan rilis pada 26 Agustus menggambarkan semua lembaga sebagai korban, sedangkan pernyataan tertulis pemerintah menjelaskan bahwa semuanya menjadi target, tetapi hanya beberapa yang berhasil dikompromikan.
Perbedaan istilah tersebut cukup penting. Koreksi itu mempersempit cakupan peretasan yang telah dikonfirmasi pemerintah AS dalam kampanye spionase siber China yang disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Kampanye tersebut disebut menyasar jaringan pemerintah AS, kontraktor pertahanan, hingga sejumlah target sensitif lainnya.
Berdasarkan pernyataan tertulis FBI yang dirilis bersamaan dengan pernyataan awal pemerintah AS, kelompok peretas tersebut setidaknya sejak 2018 telah menargetkan jaringan federal AS.
Beberapa di antaranya adalah jaringan NASA, Federal Reserve, Departemen Energi, Departemen Kehakiman, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS), National Institutes of Health (NIH), serta Senat AS. Namun, tidak seluruh upaya tersebut berhasil.
Catatan kaki dalam pernyataan tertulis FBI menyebut badan tersebut telah menyelidiki upaya peretasan terhadap NASA. Hasilnya, serangan tersebut gagal karena NASA telah melakukan patching terhadap perangkat lunak yang menjadi sasaran.
Di sisi lain, FBI menuduh para peretas berhasil melakukan penyusupan komputer pada September 2024 terhadap tiga laboratorium nasional di bawah Departemen Energi AS, NIH, salah satu lembaga HHS, serta sebuah produsen perangkat keamanan AS.
FBI menyebut entitas-entitas di atas sebagai korban.
Pemerintah AS juga merilis imbauan keamanan siber bersama yang diterbitkan FBI, National Security Agency (NSA), dan Cyber National Mission Force milik U.S. Cyber Command pada Rabu.
Dokumen tersebut mencatat pencurian data yang berhasil dilakukan dari sejumlah kontraktor pertahanan, institusi keuangan, dan universitas yang tidak disebutkan namanya pada Mei 2024.
Pada saat yang sama, kelompok peretas tersebut juga tercatat melakukan upaya yang gagal untuk mengakses jaringan Senat AS dan sebuah rumah sakit AS pada Maret 2026.
Reuters menyebut FBI dan Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) belum segera memberikan tanggapan atas permintaan klarifikasi mengenai perubahan pernyataan tersebut.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

4 hours ago
6

















































