Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
03 September 2026 08:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham emiten penambang batu bara masih mencatatkan penguatan dalam sekitar sebulan terakhir hingga perdagangan Rabu (2/9/2026).
Pergerakan tersebut berlangsung di tengah kenaikan harga batu bara global, meskipun sejumlah saham mengalami koreksi pada perdagangan hari ini.
Penelusuran ini mencakup 14 perusahaan yang mempunyai operasi tambang batu bara, langsung maupun melalui anak usaha, dengan pendapatan yang didominasi bisnis batu bara. Kelompok tersebut terdiri atas produsen batu bara termal serta Alamtri Minerals Indonesia (ADMR), yang memproduksi batu bara metalurgi.
13 Saham Menguat, IATA Memimpin Kenaikan
Dari 14 emiten yang ditelusuri, sebanyak 13 saham berada di atas posisi akhir Juli, sementara satu saham melemah. Karya Pacific Energy (IATA) memimpin kenaikan, disusul Bumi Resources (BUMI) dan Bukit Asam (PTBA).
Berikut perbandingan harga penutupan 31 Juli 2026 dengan kuotasi yang tersedia pada 2 September 2026:
IATA mencatatkan kenaikan terbesar, yakni 61,84%, dari Rp76 menjadi Rp123. Emiten yang sebelumnya bernama MNC Energy Investments tersebut menempati posisi teratas dalam kelompok saham yang ditelusuri.
Di kelompok produsen besar, BUMI menguat 24,85%, sementara PTBA naik 17,24%. MBAP dan AADI menyusul dengan kenaikan masing-masing 15,85% dan 15,45%.
Penguatan juga menjangkau BYAN dan GEMS, yang masing-masing naik 13,93% dan 10,04%. Sementara itu, BSSR, ARII, SMMT, ITMG, dan KKGI mencatatkan kenaikan satu digit.
Harga Batu Bara Naik 9,32% dalam Sebulan
Harga batu bara semakin mengangkasa di tengah naiknya harga minyak dan persoalan pasokan.
Pada perdagangan Rabu (2/9/2026), harga batu bara ditutup di posisi US$ 148,9 per troy ons. Harganya naik 0,78%.
Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 7,6% dalam enam hari beruntun.
Harga penutupan kemarin adalah yang tertinggi sejak 11 Juni 2026.
Penguatan harga ditopang kenaikan harga minyak hingga persoalan pasokan global.
Bagi perusahaan tambang, kenaikan harga komoditas berpotensi memperbaiki harga jual dan margin. Namun, besarnya manfaat bergantung pada kualitas batu bara, kontrak penjualan, volume produksi, serta biaya penambangan dan pengangkutan.
Menanti Kenaikan Harga Berubah Menjadi Tambahan Laba
Penguatan harga batu bara membuka peluang perbaikan kinerja bagi para produsen. Peluang tersebut akan lebih besar apabila kenaikan harga jual diikuti volume penjualan yang terjaga dan biaya produksi yang terkendali.
Sebaliknya, kenaikan biaya pengupasan tanah, bahan bakar, maupun pengangkutan dapat mengurangi manfaat dari harga jual yang lebih tinggi.
Realisasi harga jual, volume penjualan, dan biaya produksi pada semester kedua menjadi faktor yang perlu dicermati untuk menilai sejauh mana penguatan komoditas dapat diterjemahkan menjadi tambahan laba perusahaan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

4 hours ago
5

















































