Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas hanya beberapa hari setelah kedua negara menyepakati nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk menghentikan konflik.
Meski sempat diwarnai saling serang di sekitar Selat Hormuz dan Teluk Persia, Washington dan Teheran kini dikabarkan sepakat menghentikan sementara aksi militer serta membuka jalan bagi perundingan lanjutan di Qatar.
Seorang pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan kedua negara akan bertemu di Qatar pada Selasa dan sepakat untuk "menghentikan sementara untuk saat ini". Sementara itu, mantan penasihat keamanan nasional AS Jake Sullivan menilai ketegangan semacam ini justru lazim terjadi dalam proses negosiasi.
"Iran cenderung menunjukkan kendali atas selat itu, lalu mundur ketika pemerintahan Trump bereaksi keras karena mereka tetap ingin mempertahankan keuntungan dari nota kesepahaman tersebut," ujarnya kepada CNN International, dikutip Senin (29/6/2026).
Kesepakatan tersebut muncul setelah empat hari bentrokan yang melibatkan serangan Iran terhadap kapal dagang, balasan militer AS, hingga serangan rudal Teheran ke pangkalan AS dan negara-negara Teluk. Eskalasi itu sempat memicu kekhawatiran terganggunya distribusi minyak dunia karena Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global.
Bagi Iran, mempertahankan pengaruh di Selat Hormuz menjadi kepentingan strategis. Teheran berupaya menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kemampuan mengendalikan lalu lintas di salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia, sekaligus memberi tekanan politik kepada Trump menjelang pembahasan isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran.
Di sisi lain, Washington menegaskan tidak akan membiarkan Iran menguasai jalur pelayaran tersebut. Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz memperingatkan bahwa setiap agresi Iran akan dibalas.
"Jika rezim Iran berpikir Presiden Trump akan tinggal diam sementara Iran menyerang kapal internasional atau pangkalan kami tanpa konsekuensi, mereka salah besar," tegas Waltz dalam wawancara di Fox News Sunday.
Meski demikian, kedua pihak juga memiliki kepentingan besar untuk mempertahankan gencatan senjata. AS mulai melonggarkan sebagian sanksi terhadap Iran sambil menunggu kesepakatan permanen, sedangkan Teheran kembali meningkatkan ekspor minyaknya demi menghidupkan ekonomi yang terpukul bertahun-tahun akibat embargo.
Stabilnya arus pelayaran di Selat Hormuz juga membantu meredakan harga minyak dunia. Di AS, harga rata-rata bensin kini turun menjadi US$3,87 per galon, dari puncaknya US$4,56 per galon pada akhir Mei. Meski demikian, harga tersebut masih sekitar 30% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang pecah.
Namun, para analis menilai jalan menuju perdamaian masih panjang. Sullivan memperkirakan Iran akan menggunakan strategi negosiasi bertahap dengan memberikan konsesi kecil, kemudian menariknya kembali untuk menjaga AS tetap berada di meja perundingan.
"Ketika menyangkut isu nuklir, saya rasa mereka akan memberikan konsesi sedikit demi sedikit, lalu menariknya kembali, kemudian mengajukannya lagi. Saya ragu akan ada kemajuan besar dalam 60 hari," katanya.
Situasi ini juga memicu perdebatan politik di Washington. Sejumlah anggota Partai Republik menilai konflik besar telah berakhir dan kini hanya tersisa "operasi pembersihan". Sebaliknya, Partai Demokrat menyebut nota kesepahaman Trump sebagai kesepakatan yang terlalu dini dan mempertanyakan dasar hukum operasi militer yang dilancarkan pemerintahan AS.
(luc/luc)
Addsource on Google

4 hours ago
2

















































