Awas! Seluruh Pantai Selatan Jawa Masuk Zona Subduksi Megathrust Aktif

8 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Pakar mengingatkan pelajaran penting dalam mengantisipasi gempa di zona subduksi megathrust. Adapun seluruh Pantai Selatan Jawa berada di Zona Megathrust, yakni sumber gempa tumbukan lempeng di kedalaman dangkal.

Dalam hal ini, lempeng samudra yang menujam ke bawah lempeng benua membentuk medan tegangan (stress) pada bidang kontak antar lempeng yang kemudian dapat bergeser secara tiba-tiba memicu gempa. Jika terjadi gempa, maka bagian lempeng benua yang berada di atas lempeng samudra bergerak terdorong naik (thrusting).

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono mengingatkan, Tsunami Pangandaran pada 17 Juli 2006 lalu adalah ancaman megathrust yang nyata. Tsunami itu dipicu oleh gempa megathrust bertipe tsunami earthquake di zona subduksi selatan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Daryono menyebut gempa berkekuatan dengan magnitudo 7,7 ini menghasilkan tsunami dahsyat yang menewaskan lebih dari 668 orang dan menyebabkan ribuan lainnya terluka serta kehilangan tempat tinggal.

"Peristiwa Tsunami Pangandaran 2006 memberi pelajaran, bahwa tidak semua gempa megathrust menghasilkan guncangan yang sangat kuat," kata Daryono dalam keterangannya, dikutip Sabtu (18/7/2026).

Pada tipe tsunami earthquake, ia menjelaskan guncangan di darat dapat terasa relatif lemah, tetapi tsunami yang ditimbulkan justru sangat merusak. Karena itu, Daryono menekankan beberapa pelajaran dari Tsunami Pangandaran 2006 sangat penting untuk dipahami.

Pertama, kata dia, memahami karakter ancaman, mengenali tanda-tanda tsunami, dan segera melakukan evakuasi setelah gempa meskipun dirasakan lemah di wilayah pantai merupakan kunci untuk menyelamatkan nyawa.

"Megathrust bukan sekadar potensi, tetapi ancaman nyata yang harus dihadapi dengan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan budaya mitigasi," terang Daryono.

Kedua, satu hal penting yang harus dipahami bahwa tsunami dapat terjadi meskipun guncangan gempa sangat lemah. Gempa Pangandaran dengan magnitudo 7,7 merupakan tsunami earthquake, yaitu gempa yang menghasilkan tsunami besar tetapi guncangannya relatif lemah di daratan. Akibatnya banyak orang tetap berada di pantai karena merasa gempa yang terjadi "tidak berbahaya".

"Pelajaran yang dapat diambil, jangan menunggu gempa terasa kuat. Jika berada di pantai dan terjadi gempa, segera evakuasi meninggalkan pantai," ucap Daryono.

Ketiga, ia mengatakan tsunami datang sangat cepat. Gelombang tsunami tiba di pantai hanya membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit setelah gempa, terlalu singkat apabila masyarakat hanya menunggu informasi resmi.

"Pelajaran untuk kita, lakukan evakuasi mandiri (natural warning) jauh lebih penting daripada menunggu peringatan dini / sirene perintah evakuasi," tutur Daryono.

Keempat, ia menyampaikan edukasi masyarakat menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada teknologi. Sistem peringayan dini, aplikasi informasi dan sirime memang sangat penting.

"Namun ketika masyarakat memahami tanda-tanda alam tsunami, mereka dapat menyelamatkan diri bahkan tanpa teknologi. Pelajaran bahwa mitigasi terbaik dimulai dari masyarakat yang paham risiko," papar Daryono.

Kelima, pantai wisata memiliki risiko korban jauh lebih besar. Saat tsunami terjadi, Daryono menuturkan saat itu Pangandaran sedang ramai wisatawan karena sore hari dan musim liburan. Banyak korban berasal dari wisatawan/pendatang yang tidak mengenal jalur evakuasi.

"Pelajaran, bahwa seluruh destinasi wisata pantai harus memiliki jalur evakuasi, papan petunjuk evakuasi, latihan evakuasi, titik kumpul aman dan informasi tsunami bagi wisatawan," terangnya.

Daryono melanjutkan, pelajaran keenam adalah jalur evakuasi harus lebih dekat daripada zona datangnya tsunami. Tinggi tsunami Pangandaran 2006 bervariasi ada yang mencapai 5-8 meter, bahkan lebih dari 10 meter.

"Masyarakat hanya memiliki waktu emas yang singkat untuk selamat. Pelajarannya bahwa evakuasi harus dirancang agar dapat dicapai dengan berjalan kaki dalam waktu singkat," pungkas Daryono.

Ketujuh, korban terbesar berasal dari tsunami, bukan gempa. Gempa sendiri saat itu hampir tidak merusak. Yang menimbulkan lebih dari 668 korban jiwa adalah tsunami. Daryono mengatakan hal ini menunjukkan bahwa bahaya terbesar di pantai selatan Jawa bukan hanya gempa, tetapi tsunami.

"Pelajaran penting bahwa mitigasi pesisir harus memberi perhatian yang sama besar pada ancaman tsunami," tandasnya.

Kedelapan, Daryono mengingatkan tsunami dapat terjadi di sepanjang pantai selatan Jawa. Peristiwa Tsunami Pangandaran membuktikan bahwa seluruh pantai selatan Jawa berada pada zona subduksi megathrust aktif. Wilayah yang terdampak saat itu meliputi Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cilacap, Kebumen, Purworejo, hingga Bantul.

Pelajaran bahwa semua kabupaten pesisir selatan Jawa harus memiliki budaya dan masyarakat siaga tsunami, kata Daryono. Korban jiwa dapat ditekan melalui kesiapsiagaan terhadap potensi gempa megathrust yang memicu tsunami.

Pelajaran kesembilan, dua puluh tahun setelah Pangandaran, Daryono menilai Indonesia telah memiliki sistem peringatan dini tsunami, peta bahaya tsunami, jalur evakuasi, sekolah lapang gempa dan tsunami, dan Tsunami Ready UNESCO di beberapa kawasan. Namun, Daryono menegaskan bahwa pekerjaan belum selesai.

"Pelajaran terbesar yaitu keberhasilan penanggulangan tsunami bukan diukur dari banyaknya korban yang berhasil diselamatkan setelah bencana, tetapi dari sedikitnya korban yang harus diselamatkan karena masyarakat sudah siap sebelum tsunami datang," tegasnya.

Lebih lanjut, Daryono menyimpulkan, bencana Tsunami Pengandaran 2006 menjadi salah satu tonggak penting yang mendorong penguatan sistem peringatan dini tsunami nasional dan peningkatan budaya kesiapsiagaan masyarakat pesisir.

Berikut pesan kunci yang harus dipahami masyarakat, menurut Daryono:

1. Dua puluh tahun Pangandaran bukan sekadar mengenang korban, tetapi mengingatkan bahwa tsunami akan selalu menjadi ancaman nyata di pantai selatan Jawa.

2. Gempa di Pantai yang terasa lemah bukan berarti aman. Jika berada di pantai dan terjadi gempa, segera menjauh ke tempat tinggi.

3. Natural Warning tetap menjadi penyelamat pertama: gempa kuat atau gempa lemah berayun lama, air laut surut mendadak, dan suara gemuruh dari laut adalah tanda alam yang harus dikenali semua orang yang berada di pantai rawan tsunami.

4. Teknologi peringatan dini tsunami sangat penting, tetapi budaya kesiapsiagaan masyarakat adalah benteng pertahanan terakhir.

5. Peringatan 20 tahun Tsunami Pangandaran adalah momentum untuk membangun generasi yang tidak panik, tetapi siap menghadapi tsunami melalui pengetahuan, latihan, dan evakuasi yang cepat.

Mengutip situs BMKG, gempa megathrust dipahami masyarakat sebagai sesuatu yang baru dan akan segera terjadi dalam waktu dekat, berkekuatan sangat besar, dan menimbulkan kerusakan serta tsunami dahsyat. Pemahaman seperti ini tentu saja kurang tepat.

Zona Megathrust sebenarnya sekadar istilah untuk menyebutkan sumber gempa tumbukan lempeng di kedalaman dangkal. Dalam hal ini, lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua membentuk medan tegangan (stress) pada bidang kontak antar lempeng yang kemudian dapat bergeser secara tiba-tiba memicu gempa. Jika terjadi gempa, maka bagian lempeng benua yang berada di atas lempeng samudra bergerak terdorong naik (thrusting).

Jalur subduksi lempeng umumnya sangat panjang dengan kedalaman dangkal mencakup bidang kontak antar lempeng. Dalam perkembangannya, zona subduksi diasumsikan sebagai "patahan naik yang besar", yang kini populer disebut sebagai Zona Megathrust.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |