Banyak Perusahaan Menyesal Ganti Manusia dengan AI

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia — Banyak perusahaan yang kini mulai mengubah strategi penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mereka.

Setelah sebelumnya memangkas tenaga kerja dan menggantinya dengan AI, kini sejumlah perusahaan justru kembali merekrut karyawan karena menyadari teknologi tersebut belum mampu menangani seluruh pekerjaan secara optimal.

Perubahan sikap ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor mengenai keberlanjutan masifnya penggunaan AI yang selama ini mendorong pasar keuangan.

Salah satu perusahaan terbaru yang mengambil langkah tersebut adalah produsen mobil Ford. Perusahaan dilaporkan kembali mempekerjakan ratusan insinyur berpengalaman untuk menangani berbagai persoalan kualitas produk yang gagal diselesaikan oleh sistem otomatis berbasis AI.

"Kecerdasan buatan adalah alat yang luar biasa, tetapi kemampuannya hanya sebaik informasi yang digunakan untuk melatihnya," kata Wakil Presiden Rekayasa Perangkat Keras Kendaraan Ford, Charles Poon, dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (5/7/2026).

Ford bukan satu-satunya perusahaan yang mengoreksi strategi perekrutannya. Commonwealth Bank of Australia (CBA) dan raksasa perangkat lunak IBM juga kembali menaruh fokus pada tenaga kerja manusia setelah menghadapi keterbatasan AI.

Tahun lalu, CBA memutuskan memberhentikan lebih dari 40 pegawai layanan pelanggan dan menggantikan mereka dengan bot suara berbasis AI. Namun, sistem tersebut ternyata tidak mampu menangani seluruh kebutuhan nasabah sehingga justru menyebabkan lonjakan panggilan masuk.

Kondisi itu akhirnya memaksa CBA membatalkan pengurangan tenaga kerja tersebut.

"Membuat CBA membatalkan pemangkasan pekerjaan ini merupakan kemenangan besar," ujar serikat pekerja sektor keuangan Australia dalam sebuah pernyataan.

Mengutip laporan ABC pada Agustus tahun lalu, CBA mengakui perusahaan "tidak mempertimbangkan secara memadai seluruh aspek bisnis yang relevan" ketika mengumumkan pemutusan hubungan kerja tersebut. Bank itu juga mengakui bahwa "kami seharusnya melakukan penilaian yang lebih menyeluruh terhadap peran-peran yang dibutuhkan."

Kasus serupa juga terjadi di IBM. Perusahaan menggantikan sebagian besar fungsi sumber daya manusia (HR) dengan AI yang mampu menangani sekitar 94% permintaan rutin. Namun, AI gagal menyelesaikan 6% kasus lainnya, terutama yang berkaitan dengan dilema etika.

Akibatnya, IBM mengumumkan rencana untuk melipatgandakan hingga tiga kali lipat perekrutan karyawan level pemula di seluruh unit bisnisnya di Amerika Serikat pada 2026.

"Jika kami tidak terus berinvestasi pada perekrutan level pemula, apa yang akan terjadi dalam tiga hingga lima tahun ke depan?" kata Chief Human Resources Officer IBM, Nickle LaMoreaux, dalam Charter AI Summit di New York.

"Tidak akan ada regenerasi; sumber talenta itu akan benar-benar mengering," tambahnya.

Fenomena ini sejalan dengan pandangan sejumlah analis yang menilai strategi menggantikan manusia sepenuhnya dengan AI belum tentu menjadi jalan terbaik untuk mendorong pertumbuhan bisnis.

Laporan Intuition Labs menyebut banyak perusahaan terlalu fokus menggunakan teknologi untuk menggantikan manusia tanpa diiringi investasi pada pelatihan maupun peningkatan keterampilan karyawan.

"Mengalokasikan anggaran pada 'teknologi untuk menggantikan manusia' tanpa berinvestasi pada pelatihan atau peningkatan keterampilan membuat tim tidak siap memanfaatkan AI," tulis laporan tersebut.

Menariknya, di antara perusahaan yang mendorong otomatisasi, banyak yang kemudian menyesali PHK tersebut karena mereka justru memberhentikan orang-orang yang dibutuhkan untuk mengawasi AI.

Temuan serupa juga muncul dalam laporan Orgvue. Sebanyak 39% pemimpin perusahaan mengaku melakukan PHK akibat implementasi AI. Namun, dari kelompok tersebut, 55% mengakui keputusan pemutusan hubungan kerja itu ternyata keliru.

Senior Vice President APAC di penyedia solusi SDM ADP, Jessica Zhang, mengatakan perusahaan sering kali harus kembali melibatkan manusia ketika hasil kerja AI tidak konsisten atau sulit diterapkan.

"Ketika hasil AI tidak konsisten, tidak akurat, atau sulit diterapkan, perusahaan sering kali perlu kembali menghadirkan pengawasan manusia," ujar Zhang.

"Hal ini dapat menyebabkan pekerjaan menjadi berlipat, pengambilan keputusan lebih lambat, dan penurunan produktivitas," tambahnya.

Sementara itu, data perusahaan rekrutmen Robert Half yang dikirimkan kepada CNBC menunjukkan sebanyak 32% manajer perekrutan di Amerika Serikat mengaku pernah menghapus suatu posisi kerja karena AI, tetapi kemudian kembali merekrut orang untuk posisi yang sama atau serupa.

Capitol Technology University menyimpulkan bahwa AI memang mengubah dunia kerja, tetapi perusahaan kini mulai melihat nilai yang lebih besar dari kolaborasi antara manusia dan AI dibandingkan menggantikan pekerjaan manusia sepenuhnya.

"AI sedang mengubah dunia kerja, tetapi semakin jelas bahwa organisasi menemukan nilai yang lebih besar dalam membangun kolaborasi manusia dan AI dibandingkan menggantikan pekerjaan manusia sepenuhnya," demikian pernyataan Capitol Technology University.

(mkh/mkh)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |