Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas resmi merilis Indeks Modal Manusia (IMM) yang memperbarui indeks sebelumnya, yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
IMM merupakan adaptasi dari Human Capital Index (HCI) World Bank yang disesuaikan dengan karakteristik data, konteks, dan kebutuhan pembangunan Indonesia. Disertai dengan terbitnya Buku Pedoman Penghitungan IMM.
"Human Capital Index adalah perbaikan dari pada Human Development Index," kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dikutip dari siaran pers, Selasa (1/9/2026).
Rachmant Pambudy menjelaskan, perbedaan mendasar antara IMM dan IPM terletak pada ukuran menilai manusia Indonesia mendatang sebagai subjek, bukan lagi objek pembangunan. Dengan begitu, bobot penilaiannya menitikberatkan pada kesehatan sejak dalam kandungan, bukan lagi saat lahir.
"Modal manusia dicerminkan dari kesehatannya, dan kesehatan itu ada sejak dalam kandungan. Jadi sejak dalam kandungan, manusia Indonesia harus sehat," ujar Rachmat.
Ia menekankan, pembangunan manusia merupakan fondasi utama bagi tercapainya visi Indonesia Emas 2045. Maka, kualitas manusia yang dibangun sejak awal kehidupan akan menentukan produktivitas dan daya saing SDM Indonesia di masa yang akan datang.
Dengan pendekatan siklus hidup, IMM melihat pembangunan manusia sebagai investasi jangka panjang berdasarkan kondisi kelangsungan hidup, pendidikan, dan kesehatan yang diperoleh sepanjang masa tumbuh kembang dalam membentuk potensi produktivitas dan daya saing manusia Indonesia di masa depan.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, IMM digunakan sebagai indikator untuk mengukur pencapaian sasaran peningkatan daya saing sumber daya manusia.
Pada 2025, capaian IMM Indonesia tercatat sebesar 0,562. Artinya seorang anak yang lahir hari ini diperkirakan akan mencapai 56,2% dari potensi produktivitas optimalnya ketika memasuki usia kerja.
Capaian ini menunjukkan peningkatan dari angka IMM 2020 sebesar 0,540 yang pernah dipublikasikan World Bank, namun masih memerlukan kerja keras untuk mencapai target IMM di akhir RPJMN 2025-2029 sebesar 0,590.
Pada tingkat daerah, capaian IMM juga masih bervariasi antara nilai tertinggi 0,705 di Dl Yogyakarta dan nilai terendah 0,366 di Provinsi Papua Pegunungan.
Dari angka indeks ini, pemerintah menganggap, peningkatan kualitas modal manusia membutuhkan sinergi berbagai intervensi, mulai dari kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, pencegahan stunting, imunisasi, pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, hingga penguatan keterampilan dan produktivitas pada usia kerja.
"Saya berharap IMM dapat dimanfaatkan secara luas, serta memastikan setiap investasi pembangunan benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia," tegasnya.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]

4 hours ago
3

















































