Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
01 September 2026 06:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) Indonesia memperlihatkan kontras tajam. Jumlah emiten baru dan penghimpunan dana merosot, tetapi lonjakan harga saham setelah pencatatan belum kehilangan tenaga.
Hingga pembaruan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 28 Agustus 2026, tujuh perusahaan resmi mencatatkan saham dengan penghimpunan dana sekitar Rp2,16 triliun.
Jumlahnya turun 68,2% dibandingkan 22 perusahaan sepanjang Januari-Agustus 2025. Sementara itu, penghimpunan dana anjlok sekitar 79,2% dari Rp10,39 triliun.
Namun, penyusutan tersebut tidak berarti seluruh saham IPO kehilangan peminat. PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) masih mencatatkan 11 kali penutupan auto rejection atas (ARA) beruntun dan sempat melesat 855,36% dari harga IPO sebelum mengalami penutupan merah pertama.
IPO 2025: Ditopang Penawaran Jumbo
Berdasarkan penghitungan nilai penawaran masing-masing emiten, 22 IPO sepanjang Januari-Agustus 2025 memiliki total penggalangan dana sekitar Rp10,38 triliun dan gabungan kapitalisasi awal Rp86,12 triliun.
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), dan PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) menjadi penopang utama. Ketiganya menyumbang Rp6,72 triliun atau sekitar 64,7% dari total nilai penawaran dalam tabel.
Dalam perbandingan ini, market cap menggunakan harga IPO.
ARA dihitung berdasarkan penutupan beruntun sejak debut. Adapun kenaikan tertinggi menggunakan puncak harga intraday hingga hari penutupan merah pertama, termasuk perdagangan pada hari tersebut. "Merah" berarti turun dibandingkan penutupan sebelumnya, bukan kembali di bawah harga IPO.
CDIA mencatat lonjakan paling besar, dari harga IPO Rp190 hingga menyentuh Rp1.950 atau naik 926,32%. RATU menyusul dengan kenaikan 760,87%, kemudian COIN sebesar 635%.
Sebaliknya, YUPI yang memiliki nilai penawaran lebih dari Rp2 triliun hanya mencatat kenaikan maksimum 3,77% sebelum penutupan merah pertama. Besarnya IPO ternyata tidak otomatis berbanding lurus dengan lonjakan harga awal.
IPO 2026: Lebih Sedikit, tetapi Tetap Agresif
Tujuh IPO yang sudah terealisasi pada 2026 memiliki total penggalangan dana Rp2,16 triliun dan kapitalisasi awal Rp11,64 triliun. Gabungan kapitalisasi tersebut menyusut sekitar 86,5% dibandingkan kelompok IPO Januari-Agustus 2025.
Bahkan, kapitalisasi awal seluruh emiten IPO 2026 itu belum mencapai separuh kapitalisasi CDIA sendiri saat IPO, yakni Rp23,72 triliun.
Ketujuh perusahaan yang IPO di tahun ini adalah PT Widarana Bhakti Sejahtera Tbk (WBSA), PT Jeli Indonesia Tbk (JELI), PT Jakarta Eye Center Tbk (JECX), PT Emdeki Tbk (EMMI), PT Bank Artha Centra Tbk (BACH), PT Prima Rasa Delapan Tbk (PRDL), dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS)
Sementara itu, PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) tengah menjalani proses IPO dengan rencana menawarkan 323 juta saham pada kisaran harga awal Rp130-Rp140, sehingga berpotensi menghimpun Rp41,99-Rp45,22 miliar.
SWAP belum dimasukkan dalam realisasi IPO hingga pembaruan akhir Agustus karena sahamnya belum tercatat dan diperdagangkan di bursa.
Dana Menyusut, Proporsi Saham yang Melonjak Justru Mirip
Kontras pertama terlihat pada ukuran transaksi. Rata-rata nilai penawaran turun dari sekitar Rp471,91 miliar per emiten pada 2025 menjadi Rp308,76 miliar pada 2026, atau menyusut 34,6%. Artinya, pasar bukan hanya kehilangan jumlah IPO, tetapi juga mengalami pengecilan rata-rata nilai penawaran.
Kontras kedua muncul pada pergerakan harga. Sebanyak sembilan dari 22 saham IPO 2025, atau 40,9%, sempat naik sedikitnya 100% sebelum penutupan merah pertama.
Pada 2026, proporsinya mencapai tiga dari tujuh emiten, atau 42,9%, yakni WBSA, PRDL, dan JELI. Ini merupakan gambaran historis dari sampel kecil, bukan peluang keuntungan yang bisa diasumsikan untuk IPO berikutnya.
Kontras ketiga adalah penawaran kecil tetap dapat menghasilkan lonjakan besar. MERI menghimpun sekitar Rp30,10 miliar, tetapi sempat naik 446,88%. Pada 2026, PRDL menghimpun Rp62,75 miliar dan sempat melesat 341,67%.
Meski demikian, puncak intraday tidak sama dengan keuntungan yang bertahan hingga penutupan. JELI, misalnya, sempat menyentuh Rp2.190 sebelum ditutup Rp1.495 pada hari merah pertamanya-sekitar 31,7% di bawah puncak hari itu.
Tujuh Antrean Belum Menjamin Pemulihan
BEI masih memiliki tujuh perusahaan dalam pipeline IPO. Tiga di antaranya beraset di atas Rp250 miliar, dua beraset Rp50-250 miliar, dan dua beraset di bawah Rp50 miliar. Sektor kesehatan mendominasi dengan empat perusahaan.
Jika seluruh antrean tersebut terealisasi, jumlah pencatatan menjadi 14 perusahaan, masih 36,4% di bawah realisasi Januari-Agustus 2025. Label aset jumbo pun belum menjamin nilai IPO besar karena dana yang dihimpun bergantung pada harga dan jumlah saham yang dilepas.
Dengan demikian, anomali IPO Indonesia terletak pada dua kondisi yang berjalan bersamaan: pasar perdana menyusut tajam, sementara lonjakan harga awal saham tertentu tetap ekstrem. Ramainya ARA belum dapat disamakan dengan pulihnya fungsi penggalangan dana melalui bursa.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

5 hours ago
2

















































