FOTO : Ilustrasi [ Ai ]
Oleh : Rosadi Jamani [ Ketua Satupena Kalimantan Barat ]
DI saat orang dewasa sibuk jadi penonton pasif, pura-pura budek, justru bocil-bocil Gen Alpha ini tampil ke depan kayak komika open mic kelas nasional.
Gubernur Kalbar? Digoreng hidup-hidup di depan publik. Bukan di ruang rapat, bukan di forum resmi… tapi di jalan berlumpur yang lebih cocok buat ternak lele dari dilewati kendaraan.
Langsung lah netizen warung kopi, grup WA alumni, sampai tongkrongan pinggir jalan rame satu suara. “Bang… ini bocil kok berani kali? Jangan-jangan efek MBG nih?”
Nah loh… masuklah kita ke teori konspirasi paling gurih tahun ini.
Nuan bayangkan! Program Makan Bergizi Gratis alias MBG itu umurnya masih seumur jagung. Baru ngebut sejak 2025, baru merata 2026. Tapi efeknya? Buset… kayak minum ramuan sakti dari Bukit Kelam. Bocil yang dulunya cuma jago nangis minta es lilin, sekarang berubah jadi komentator politik garis keras.
Di Desa Bedayan SP3, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, tiba-tiba muncul fenomena yang bikin dahi pejabat berkerut dan netizen ngakak salto. Sekelompok bocil SD, bermodalkan HP pinjaman ibu guru, berdiri gagah di tengah jalan becek, hancur lebur. Dengan ekspresi tanpa dosa, mereka melontarkan kalimat yang bikin kuping panas.
“Jalan kami licak! Lecut! Gubernur Ria Norsan kerjanya molor tidur pingsan! Ganti aja sama Dedi Mulyadi, biar mulus kayak pantat bayi!”
Ini bukan kritik. Ini bukan aspirasi. Ini roasting level dewa, wak!
Yang bikin makin lucu sekaligus bikin pejabat keringetan, adalah cara mereka ngomong. Polos, jujur, tapi nusuk sampai ke tulang sumsum. Tanpa data APBD, tanpa peta kewenangan, tanpa analisis kebijakan. Pure… kejujuran bocil + efek percaya diri overclock.
Lalu muncullah teori paling absurd tapi terasa “masuk akal secara ngaco” ini efek MBG.
Coba kita tarik mundur. Sebelum MBG, bocil pedalaman itu gizinya pas-pasan. Energi cukup buat lari ngejar ayam, tapi belum cukup buat ngejar janji politik. Sekarang? Tiap pagi masuk protein, karbohidrat, vitamin, mineral. Telur rebus, ikan, sayur, susu, komplit kayak paket upgrade otak versi premium.
Efeknya? Otak jadi encer. Mulut jadi tajam. Mental jadi anti takut. Dulu lihat jalan rusak,
“Ibu… motor jatuh lagi…” Sekarang? Langsung konten. Langsung viral. Langsung roasting pejabat. Ini bukan lagi bocil biasa. Ini bocil versi “after MBG update 2.0”.
Yang lebih kacau lagi, mereka nggak peduli soal kewenangan. Jalan Bedayan–Nanga Libau itu urusan kabupaten, bukan provinsi. Tapi karena efek “keberanian tanpa rem”, semua ditembak. Gubernur kena, sistem kena, logika kadang ikut terseret. Boom… efek domino terjadi.
Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, kebakaran jenggot. Ia ngaku itu wewenangnya dan minta maaf ke gubernur. Sementara itu, Gubernur Ria Norsan bilang ini eksploitasi anak. Nah ini dia… plot twist. Bocil cuma pengen sekolah tanpa tergelincir kayak lomba seluncur lumpur, tapi malah dianggap korban eksploitasi. Padahal yang paling dieksploitasi itu mungkin cuma paket data dan baterai HP.
Akhirnya kita sampai di kesimpulan paling absurd tapi terasa nyata, MBG ini bukan cuma program gizi… ini program upgrade keberanian nasional. Kalau efeknya baru beberapa bulan aja sudah begini. Gimana kalau enam tahun penuh?
Tahun 2031, bocil kelas 6 SD sarapan protein tinggi, makan siang ikan omega-3, minum susu fortifikasi. Otaknya encer level “AI berjalan”, mulutnya tajam kayak silet baru.
Bisa-bisa nanti muncul video massal, “Pak Presiden, jalan nasional kami macam bubur! Molor tidur pingsan ya? Ganti aja, wak!”
Di situlah sejarah berubah. Bukan demo mahasiswa. Bukan debat elite. Tapi bocil SD yang jadi oposisi paling jujur di republik ini. Indonesia? Makin ngocol, makin seru, makin bikin perut sakit… bukan karena lapar, tapi karena kebanyakan ketawa.
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

1 day ago
3

















































