Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) sebagai WHO Listed Authority (WLA) dalam regulasi produk medis (vaksin) beberapa waktu lalu.
Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM RI William Adi Teja mengatakan meski status WHO Listed Authority (WLA) baru di dapatkan selama dua bulan, namun sudah banyak negara yang datang ke BPOM. Secara rinci, dia menyebut negara tersebut adalah beberapa negara di Timur Tengah dan juga Asia.
"Mereka ingin belajar, baik itu Jepang, Pakistan, dan Negara Afrika. Mereka ingin tahu bagaimana bisa masuk WLA dan bisa efisien, seperti yang terjadi di BPOM," ungkap dia dalam Health Forum CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (28/2/2026).
Menurutnya, BPOM terus bebenah untuk memajukan industri dalam negeri dan memperkuat perlindungan untuk masyarakat. Dengan begitu baik BPOM sebagai regulator dan industri farmasi pun bisa berkontribusi lebih besar pada perekonomian.
"Di Indonesia pertumbuhan sektor farmasi tahun lalu 10%, artinya angka tersebut bisa membantu untuk mendorong pertumbuhan Indonesia," tegas dia.
Oleh karena itu, William berharap dengan WLA pertumbuhan sektor farmasi bisa lebih baik lagi, dengan memperbesar fasilitas karena ada banyak permintaan. Selain itu, William juga berharap uang beredar di sektor farmasi bisa lebih banyak lagi, membuka lapangan kerja, hingga investasi yang masuk.
"Kami berharap bukan hanya dari tiga industri farmasi, namun yang lain juga bisa masuk. Kita juga berharap ada transfer teknologi karena sesuai aturan BPOM obat-obatan yang masuk ke Indonesia juga melalui transfer teknologi untuk bisa memproduksi obatnya di Indonesia," pungkas dia.
(rah/rah)
Addsource on Google

8 hours ago
5

















































