Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
28 May 2026 15:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib mata uang Garuda cukup menyedihkan di sepanjang tahun berjalan ini.
Tak hanya mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga terus mencetak level terlemah sepanjang masa, rupiah ternyata juga terkapar ketika melawan mata uang regional Asia.
Melansir data Refinitiv, sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), rupiah terpantau melemah terhadap setidaknya 10 mata uang Asia.
Pelemahan paling dalam harus dihadapi rupiah ketika berhadapan dengan ringgit Malaysia. Tercatat, rupiah melemah 9,02% terhadap mata uang Negeri Jiran tersebut.
Kurs ringgit kini sudah berada di level Rp4.466/MYR, dari posisi awal tahun Rp4.097/MYR. Level ini sekaligus menjadi rekor terlemah baru rupiah terhadap ringgit Malaysia.
Sebetulnya, pelemahan rupiah terhadap ringgit tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, ringgit memang sedang menjadi salah satu mata uang yang cukup kuat di kawasan. Mata uang Malaysia mendapat dukungan dari prospek ekonomi domestik yang solid, arus investasi asing, serta sentimen positif terhadap sektor manufaktur dan teknologi.
Ketika investasi asing masuk, permintaan terhadap ringgit ikut meningkat. Kondisi ini membuat ringgit lebih bertenaga, sementara rupiah justru masih dibebani tekanan dari dalam dan luar negeri.
Selain ringgit, rupiah juga harus menelan tekanan dalam menghadapi dolar Singapura. Sepanjang tahun ini, rupiah melemah 7,38% terhadap SGD.
Kurs dolar Singapura kini berada di level Rp13.912,81/SGD, atau semakin dekat dengan level psikologis Rp14.000/SGD. Padahal, pada awal tahun kursnya masih berada di Rp12.957,64/SGD.
Artinya, hanya dalam waktu sekitar lima bulan, rupiah kehilangan nilai hampir Rp1.000 untuk setiap satu dolar Singapura.
Tekanan juga terlihat terhadap riel Kamboja, dong Vietnam, dan dolar Taiwan. Rupiah masing-masing melemah 6,52%, 6,39%, dan 6,34% terhadap tiga mata uang tersebut.
Begitu pula terhadap kip Laos. Sejak awal tahun, rupiah sudah melemah 5,24% terhadap mata uang Laos. Padahal, secara ukuran ekonomi, Laos jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak bisa hanya dijelaskan dengan alasan dolar AS sedang kuat. Sebab, rupiah juga kalah terhadap banyak mata uang Asia, termasuk negara tetangga dan negara dengan skala ekonomi yang lebih kecil.
Rupiah juga melemah terhadap yen Jepang sebesar 4,9%. Kurs yen kini berada di Rp111,87/JPY, dari posisi awal tahun Rp106,53/JPY.
Sementara terhadap baht Thailand, rupiah melemah 3,13%. Kurs baht kini berada di level Rp545,71/THB, naik dari posisi awal tahun Rp526,26/THB.
Tekanan rupiah juga terlihat terhadap won Korea Selatan dan peso Filipina. Rupiah melemah 2,21% terhadap won Korea Selatan dan 2,03% terhadap peso Filipina.
Jika dilihat dari grafik penguatan mata uang Asia terhadap rupiah, tekanan terhadap mata uang Garuda semakin jelas sejak April hingga Mei. Sejumlah mata uang Asia terus menanjak terhadap rupiah, terutama ringgit Malaysia dan dolar Singapura.
Jadi Rupiah Melemah Bukan Cuma Faktor Eksternal?
Pelemahan rupiah terhadap berbagai mata uang Asia menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda bukan hanya berasal dari faktor eksternal.
Selama ini, pelemahan rupiah terhadap dolar AS kerap dijelaskan karena faktor global. Mulai dari penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, lonjakan harga minyak, hingga ekspektasi suku bunga The Fed yang masih tinggi.
Namun, data di atas memperlihatkan gambaran yang lebih luas. Rupiah tidak hanya melemah terhadap dolar AS, tetapi juga kalah dari banyak mata uang Asia. Artinya, ada faktor dari dalam negeri yang ikut membuat rupiah lebih rentan dibandingkan mata uang kawasan.
Pada dasarnya, nilai tukar bukan hanya mencerminkan kuat atau lemahnya terhadap mata uang negara lain. Nilai tukar juga menggambarkan bagaimana pasar menilai kepercayaan terhadap perekonomian suatu negara.
Pasar melihat banyak hal. Mulai dari prospek pertumbuhan ekonomi, arus modal asing, neraca perdagangan, stabilitas politik, arah kebijakan pemerintah, hingga keberlanjutan pengelolaan fiskal.
Ketika pasar melihat risiko di dalam negeri meningkat, tekanan terhadap mata uang bisa menjadi lebih besar. Apalagi jika pada saat yang sama dana asing keluar, defisit fiskal melebar, dan arah kebijakan ekonomi dianggap belum cukup memberi kepastian.
Inilah yang membuat rupiah terlihat lebih rapuh dibandingkan sejumlah mata uang regional. Tekanan global memang menjadi pemicu, tetapi faktor dalam negeri membuat pelemahan rupiah menjadi lebih dalam.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

8 hours ago
8

















































