Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan, kondisi neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit utamanya bukan berasal dari pelemahan ekspor, melainkan kenaikan harga minyak dunia yang mendorong nilai impor meningkat.
Budi menjelaskan, kinerja ekspor Indonesia sepanjang semester I-2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif. Pada saat yang sama, defisit neraca perdagangan juga terus menyusut.
"Jadi ekspor kita Januari-Juni itu kan tumbuh 4,1%. Surplus kita US$3,5 miliar. Kemudian bulan Mei memang defisit US$1,6 miliar ya kan, tapi sekarang bulan Juni itu defisitnya US$0,45 miliar. Artinya sudah mulai membaik. Ya karena ekspor kita juga meningkat, meningkat dari bulan Mei ke bulan Juni itu kan 9,7%. Jadi meningkat terus," kata Budi saat ditemui di Fairmont, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Ia mengatakan lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang membuat nilai impor meningkat sehingga memengaruhi neraca perdagangan.
"Nah, kalau kita lihat misalnya satuan nilai impor per tahun bulan Maret ya. Kenapa menjadi defisit? Ini kan karena harga minyak yang naik. Bulan Maret-April itu kan puncaknya naik harga minyak, itu di atas US$110 per barel, padahal sebelumnya di bawah US$100 per barel," ujarnya.
Budi menjelaskan, kenaikan harga minyak membuat nilai satuan impor per ton ikut meningkat dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
"Kalau kita lihat harga satuan impor per ton bulan Maret itu dibandingkan satuan impor per ton bulan Juni, itu selisihnya atau naiknya bisa 14% rata-rata. Artinya harga atau nilainya itu menjadi lebih tinggi," jelas dia.
"Nah kalau kami simulasikan, misalnya harga minyak itu sama dengan bulan Maret, ya, dengan nilai ekspor dan impor kita volumenya seperti sekarang, maka kita surplus US$2,73 miliar. Itu hitungan-hitungan kami ya. Kalau nilai satuan impornya tadi kita pakai yang bulan Maret, dibandingkan bulan Juni. Jadi ini lebih terutama karena harga minyak naik," sambung Budi.
Karena itu, menurutnya, pemerintah akan terus mendorong peningkatan ekspor sebagai langkah untuk menjaga neraca perdagangan tetap surplus. Ia pun berharap kondisi tersebut dapat kembali tercapai pada Juli 2026.
"Apa yang harus kita lakukan? Kalau kita menurunkan harga minyak kan juga nggak mudah, kan bukan kuasa kita juga ya, nggak semudah itu. Yang harus kita lakukan ya terus kita meningkatkan ekspor kita. Ya, biar kita tetep surplus, ekspor kita harus kita naikkan sebesar-besarnya, mudah-mudahan bulan Juli bisa surplus kembali," katanya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 defisit sebesar US$450 juta. Defisit Juni 2026 terutama disebabkan pada komoditas migas yaitu US$3,49 miliar dengan komoditas utama penyumbang defisit migas, terutama hasil minyak dan minyak mentah.
Sejalan dengan ini, BPS mencatat neraca perdagangan kumulatif Januari-Juni 2026 masih mengalami surplus sebesar US$3,58 miliar. Surplus Januari-Juni 2026 terutama ditopang pada komoditas nonmigas yaitu US$19,35 miliar. Sementara itu, migas defisit US$15,77 miliar.
Adapun, neraca perdagangan RI masih mencatatkan surplus dengan Amerika Serikat (AS) US$8,55 miliar, India US$6,68 miliar, Filipina US$4,24 miliar.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

11 hours ago
2

















































