Bukan Roket atau Peluru, "Hantu" Ini Bisa Bikin Iran Runtuh dari Dalam

4 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah klaim pemerintah Iran bahwa negara itu masih mampu bertahan dalam perang dengan Amerika Serikat (AS), tekanan ekonomi di dalam negeri justru semakin berat. Ancaman sanksi ekonomi baru dari Presiden AS Donald Trump dikhawatirkan memperparah kesulitan hidup masyarakat, memicu kembali gejolak sosial, dan makin menggerus legitimasi pemerintahan Republik Islam.

Trump pada Jumat lalu berjanji akan menghantam Iran dengan tekanan ekonomi yang lebih keras. Sehari sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan menjatuhkan langkah-langkah terhadap Teheran yang "belum pernah dilihat sebelumnya", kemungkinan mulai pekan depan.

Namun, hingga kini Washington belum menjelaskan secara rinci bentuk sanksi atau langkah ekonomi yang akan diberlakukan.

Di tengah ancaman tersebut, para pemimpin Iran menghadapi tekanan yang makin besar di dalam negeri. Tiga pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa kondisi ekonomi yang memburuk berpotensi memicu kembali keresahan nasional.

Reuters berbicara dengan tiga pejabat Iran, yang terdiri dari dua orang dalam politik dan seorang mantan pejabat Iran, serta 12 warga biasa untuk laporan ini. Seluruhnya berbicara dengan syarat anonim karena khawatir akan pembalasan atau tidak memiliki kewenangan untuk berbicara kepada media.

Iran memang masih menunjukkan ketahanan setelah hampir enam bulan berkonflik dan secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dunia. Namun, kemampuan bertahan tersebut datang ketika ekonomi domestik sudah berada dalam kondisi rapuh.

Adapun Iran memasuki perang dengan tingkat inflasi tinggi, mata uang yang melemah, kekurangan energi, sanksi ekonomi serta berbagai persoalan struktural. Perang kini menambah kerusakan infrastruktur, gangguan perdagangan, hilangnya produksi dan kebutuhan biaya besar untuk membangun kembali fasilitas yang rusak.

Ekonomi Iran Makin Tertekan

Dampak perang pun sudah dirasakan langsung oleh masyarakat.

Arshia, seorang insinyur sipil yang selama satu dekade bekerja di industri konstruksi Iran sebelum perang, kini kesulitan mendapatkan pekerjaan. Proyek-proyek konstruksi yang sebelumnya menjadi sumber penghasilannya sebagian besar tertunda atau dibatalkan, sementara biaya terus melonjak dan tidak ada prospek pemulihan yang cepat.

"Saya khawatir. Jika Trump menjatuhkan lebih banyak sanksi, bagaimana rakyat biasa bisa bertahan? Saya tidak ingin negara saya dihukum secara militer atau ekonomi. Kami sudah kesulitan," kata ayah dua anak dari Kota Isfahan, Iran tengah tersebut, kepada Reuters.

Kondisi Arshia mencerminkan tekanan yang lebih luas di berbagai wilayah Iran. Serangan AS telah merusak pabrik, pembangkit listrik, jaringan transportasi dan infrastruktur penting lainnya, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian yang sebelumnya sudah terbebani.

Tekanan ekonomi juga memukul sektor usaha.

Mohsen, 53 tahun, terpaksa menutup bisnis kecil impor-ekspornya dengan negara-negara Teluk setelah Iran membalas serangan AS dengan menargetkan pangkalan dan aset Amerika di kawasan tersebut.

"Saya harus memecat 10 karyawan. Itu menyakitkan, tetapi saya tidak punya pilihan. Saya tidak lagi mampu membayar gaji mereka, dan sekarang saya mengandalkan tabungan untuk menghidupi keluarga saya," ujarnya dari Kota Bandar Abbas di wilayah selatan Iran.

Inflasi Iran Tembus 66%

Tekanan terhadap rumah tangga semakin terlihat dari lonjakan harga.

Menurut Pusat Statistik Iran, tingkat inflasi tahunan mencapai 66% pada Juli, sementara harga konsumen naik 87,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Inflasi pangan bahkan mencapai 128% secara tahunan.

Bagi para penguasa Iran, persoalan terbesar bukan hanya penderitaan ekonomi itu sendiri. Dua orang dalam politik dan seorang pejabat mengatakan ancaman yang lebih besar adalah kemungkinan memburuknya kondisi hidup yang kembali memicu demonstrasi massal.

Pengangkatan Hossein Taeb sebagai pemimpin milisi Basij pada pekan lalu menjadi salah satu tanda paling jelas mengenai kekhawatiran terhadap kemungkinan munculnya kembali keresahan sosial, menurut seorang mantan pejabat reformis.

Taeb dikenal sebagai salah satu arsitek utama tindakan penindakan terhadap demonstrasi sebelumnya.

Basij merupakan milisi sukarelawan paramiliter yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Keduanya pernah digunakan penguasa Iran untuk meredam aksi protes.

Keluhan mengenai kondisi ekonomi berulang kali berkembang menjadi demonstrasi berskala nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Pada Januari, demonstrasi nasional yang dipicu kesulitan ekonomi ditumpas oleh IRGC dan Basij. Ribuan orang tewas dalam penindakan tersebut.

Dalam beberapa bulan terakhir, penguasa Iran juga merespons kekhawatiran terhadap munculnya kembali keresahan dengan eksekusi, penangkapan, pemanggilan dan hukuman penjara panjang terhadap jurnalis, pengacara, aktivis, pembela hak asasi manusia serta mahasiswa, menurut kelompok-kelompok hak asasi.

Para pejabat mengatakan tindakan tersebut diperlukan untuk mempertahankan stabilitas selama perang. Namun, para pengkritik menilai langkah itu justru berpotensi memperlebar jarak antara pemerintahan ulama dan masyarakat yang semakin frustrasi akibat tekanan ekonomi.

Gaji Habis dalam Hitungan Hari

Tekanan inflasi membuat keluarga Iran mulai memangkas pengeluaran untuk kebutuhan pokok.

Sejumlah keluarga mengurangi konsumsi daging dan kebutuhan pokok lainnya, kemudian beralih ke produk yang lebih murah.

"Saya malu di hadapan anak-anak saya. Gaji saya habis dalam hitungan hari. Daging dan ayam sudah menghilang dari meja makan kami. Saya tidak tahu bagaimana kami akan bertahan," kata Hossein, seorang pegawai pemerintah di Kota Yazd, Iran tengah.

Kenaikan biaya perumahan juga makin menambah beban.

Menurut Pusat Statistik Iran, harga sewa naik 31% secara tahunan pada Maret. Sementara itu, media pemerintah melaporkan harga rumah di Teheran sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemerintah Iran menaikkan upah minimum sekitar 60% tahun ini. Namun, pelemahan nilai tukar rial terus menggerus daya beli masyarakat.

Nilai upah minimum jika dikonversikan ke dolar AS turun dari sekitar US$105 menjadi US$86 sejak akhir Maret.

Bijan, 40 tahun, mengalami tekanan serupa. Ketika pertama kali masuk pasar kerja 15 tahun lalu, ia memperoleh penghasilan sekitar US$1.000 per bulan sebagai seorang insinyur.

Kini, untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia beralih menjadi pengajar daring. Ia dan istrinya hanya mampu memperoleh sekitar US$400 per bulan dan bahkan telah meninggalkan Teheran untuk pindah ke provinsi yang biaya hidupnya lebih murah.

"Dulu saya mungkin bekerja lima atau enam jam sehari. Sekarang, semuanya adalah bekerja atau mencari pekerjaan, atau merasa cemas karena tidak memiliki cukup pekerjaan," kata Bijan.

Bagi banyak warga Iran, kekhawatiran terhadap kemungkinan konflik kembali terjadi juga membuat mereka semakin sulit membuat rencana untuk masa depan.

Blokade AS Bikin Biaya Logistik Membengkak

Tekanan ekonomi Iran tidak hanya berasal dari kerusakan infrastruktur dan hilangnya aktivitas produksi. Blokade laut yang dilakukan AS juga semakin memperumit distribusi barang.

Iran berusaha menjaga agar kebutuhan pokok tetap masuk melalui jalur alternatif, termasuk koridor darat dan Laut Kaspia. Namun, jalur-jalur tersebut juga menghadapi tekanan.

Serangan terhadap jembatan telah mengganggu transportasi darat. Akibatnya, biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk mengirim barang menuju Iran meningkat.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui tekanan tersebut pada pekan lalu.

"Masalah kami telah berlipat ganda beberapa kali, sementara pendapatan kami juga telah turun," kata Pezeshkian.

Menurutnya, barang-barang yang sebelumnya masuk melalui kapal kini harus menempuh jalur yang lebih panjang menuju Iran. Kondisi tersebut kemudian mendorong harga naik.

Pezeshkian juga mengatakan Iran menjual lebih sedikit minyak dan menerima lebih sedikit penerimaan pajak karena bisnis mengalami kerusakan atau kesulitan beroperasi.

Dampak blokade bahkan mulai terasa pada pasokan bahan bakar. Blokade tersebut secara efektif telah memutus impor bensin Iran, menurut anggota parlemen Reza Sepahvand kepada kantor berita ILNA pada Sabtu.

Sepahvand mengatakan produksi bensin harian Iran telah mencapai batas sekitar 130 juta liter, sementara konsumsi mencapai sekitar 137 juta liter per hari.

Artinya, terdapat kesenjangan sekitar 7 juta liter per hari antara produksi dan konsumsi.

Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap perekonomian Iran yang sudah menghadapi inflasi tinggi, pelemahan mata uang, gangguan perdagangan, kerusakan infrastruktur dan penurunan pendapatan.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |