Bukti Nyata Kekuatan China, Negara Lain Pelan-Pelan Ditendang

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan alat pembuat chip terbesar dari Jepang ke China mulai menunjukkan pelemahan. Ini terjadi di tengah upaya Beijing memperkuat industri semikonduktor domestik.

Tercatat setidaknya lima perusahaan utama Jepang mengalami penurunan penjualan ke pasar China untuk pertama kalinya.

Laporan Nikkei Asia menyebutkan, lima produsen peralatan chip terbesar Jepang membukukan penurunan gabungan penjualan ke China sebesar 10% pada tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2026.

Penurunan ini menjadi yang pertama kalinya terjadi dan disebut berkaitan dengan dorongan China untuk memperkuat industri dalam negerinya.

Para pengamat di China menilai kebijakan pembatasan ekspor chip yang semakin ketat dari Jepang justru mulai menjadi bumerang. Sementara itu, strategi swasembada semikonduktor yang dijalankan Beijing disebut membantu perusahaan lokal merebut pangsa pasar yang sebelumnya dikuasai pemasok asing.

Lima perusahaan tersebut, yakni Tokyo Electron, Advantest, Screen Holdings, Disco, dan Kokusai Electric, mencatat total penjualan di China sebesar 1,47 triliun yen atau sekitar US$ 9,19 miliar. Angka tersebut turun 12% dibandingkan tahun fiskal sebelumnya.

Di Tokyo Electron, kontribusi penjualan dari China hanya mencapai 27% dari total pendapatan pada kuartal Januari-Maret 2026. Porsi tersebut turun tujuh poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan, kontribusi pasar China anjlok tajam dari level 50% yang tercatat pada kuartal April-Juni 2024.

Mengutip Global Times, penurunan paling besar terjadi pada perusahaan yang memproduksi peralatan untuk proses awal (front-end process) dalam pembuatan sirkuit pada wafer silikon. Tokyo Electron, Screen Holdings, dan Kokusai Electric secara gabungan mengalami penurunan penjualan di China hampir 20% dibandingkan tahun sebelumnya.

Analis teknologi senior China, Ma Jihua, mengatakan rantai pasok semikonduktor antara China dan Jepang selama ini sangat terintegrasi dengan kerja sama yang luas dari sektor hulu hingga hilir.

Menurut dia, hubungan tersebut pada dasarnya saling menguntungkan bagi kedua negara. Namun, setelah Jepang mengikuti pembatasan yang dipimpin Amerika Serikat terhadap sektor semikonduktor China, perusahaan-perusahaan China terpaksa mempercepat inovasi dan lokalisasi teknologi.

Ma menilai investasi bertahun-tahun dan berbagai terobosan teknologi telah memperkuat kemampuan China dalam bidang peralatan dan material semikonduktor.

Kondisi ini membuat ketergantungan terhadap pemasok Jepang berkurang dan menjadi bukti bahwa kebijakan pembatasan tersebut justru merugikan industri Jepang sendiri.

Sebagai informasi, pada 2023 Jepang mengumumkan pembatasan ekspor terhadap 23 jenis peralatan manufaktur semikonduktor.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya Amerika Serikat membatasi kemampuan China dalam memproduksi chip canggih.

Kemudian pada 26 April 2024, Jepang mengumumkan rencana penerapan kontrol ekspor terhadap berbagai produk sensitif, termasuk barang terkait semikonduktor, serta membuka konsultasi publik terkait kebijakan tersebut.

Selanjutnya pada 3 April 2025, pemerintah Jepang secara resmi memberlakukan kontrol ekspor terhadap lebih dari selusin produk yang berkaitan dengan industri semikonduktor. Pemerintah China berulang kali menyampaikan keberatannya terhadap kebijakan kontrol ekspor Jepang tersebut.

Menanggapi keputusan Jepang pada 3 April 2025, juru bicara Kementerian Perdagangan China mengatakan industri semikonduktor merupakan sektor yang sangat terglobalisasi.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |