Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
28 May 2026 19:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri panel surya China selama ini dikenal sebagai raksasa dunia. Negeri Tirai Bambu itu mampu memproduksi lebih dari 80% panel surya global dan menjadi salah satu motor utama lonjakan energi terbarukan di dunia.
Namun, posisi dominan itu tidak otomatis membuat industrinya aman. Saat perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran mengguncang pasar energi dan membuat kebutuhan energi alternatif terlihat makin penting, industri surya China justru sedang menghadapi tekanan besar.
Mengutip The Economist, ekspor panel surya China memang sempat naik sejak serangan dimulai. Akan tetapi, kenaikan itu belum cukup untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan surya China dari tiga masalah besar, yakni permintaan domestik yang mulai turun, pasokan panel yang terlalu banyak, dan makin kuatnya proteksionisme di pasar luar negeri.
Kondisi ini datang di saat yang buruk. Sejak 2024, banyak perusahaan surya China sudah merugi akibat perang harga yang sangat ketat. Sejumlah perusahaan bahkan mulai bangkrut.
Setelah bertahun-tahun tumbuh sangat cepat, industri yang sempat menjadi "pabrik panel surya dunia" kini menghadapi ujian berat.
Pasar Dalam Negeri China Mulai Jenuh
Masalah pertama datang dari dalam negeri. China selama ini menjadi pasar terbesar bagi panel surya. Namun, pemasangan panel surya yang terlalu cepat membuat jaringan listrik negara itu mulai kewalahan.
Di berbagai wilayah China, panel surya kini mudah ditemukan di atap bangunan, perbukitan, hingga kawasan gurun. Masalahnya, listrik dari tenaga surya hanya bisa dihasilkan saat matahari bersinar. Pada malam hari, pasokannya turun. Sebaliknya, pada siang hari listrik yang dihasilkan bisa terlalu banyak.
Selama ini, China banyak mengandalkan pembangkit listrik tenaga batu bara karena bisa dinyalakan dan dimatikan sesuai kebutuhan. Sementara itu, listrik dari tenaga surya tidak sefleksibel itu.
Akibatnya, sebagian listrik surya yang dihasilkan tidak bisa terserap oleh jaringan. Pada Januari dan Februari, sekitar 9% listrik surya China terbuang. Angka ini naik dari sekitar 6% pada periode yang sama tahun lalu.
Kondisi tersebut membuat penambahan kapasitas panel surya baru menjadi semakin sulit dibenarkan. Berdasarkan data The Economist, tambahan kapasitas surya China pada 2026 diperkirakan turun cukup tajam dibandingkan 2025.
Menurut kelompok industri, pemasangan panel surya di China tahun ini bisa turun antara 24% hingga 43% dari 2025. Jika benar terjadi, BloombergNEF memperkirakan permintaan panel surya global pada 2026 bisa turun untuk pertama kalinya dalam dua dekade.
Agar jaringan listrik China bisa menampung lebih banyak energi surya, negara itu membutuhkan investasi besar pada baterai penyimpanan energi dan jaringan transmisi listrik. Dengan begitu, kelebihan listrik surya di satu wilayah bisa disimpan atau dikirim ke wilayah lain yang membutuhkan.
Masalahnya, pembangunan baterai, jaringan listrik, dan sistem pasar yang lebih fleksibel membutuhkan waktu. Artinya, meskipun pemasangan panel surya kembali naik tahun depan, laju pertumbuhannya kemungkinan tidak akan sekencang sebelumnya.
The Economist Foto: The Economist
Produksi Terlalu Banyak, Harga Jatuh
Masalah kedua adalah kelebihan pasokan. Investasi besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir membuat perusahaan surya China memiliki kapasitas produksi lebih dari 1.000 gigawatt (GW) panel surya per tahun.
Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan pemasangan panel surya global pada 2025 yang mencapai sekitar 600 GW. Bahkan, menurut Jenny Chase dari BloombergNEF, kapasitas sebesar itu kemungkinan lebih besar daripada kemampuan pasar global untuk menyerap panel surya dalam jangka panjang.
Sederhananya, terlalu banyak pabrik memproduksi barang yang sama. Panel surya juga relatif sulit dibedakan antara satu produsen dan produsen lain. Ketika satu perusahaan membuat inovasi, pesaingnya bisa cepat meniru.
Akibatnya, perusahaan berlomba memperbesar skala produksi demi merebut pangsa pasar. Namun ketika produksi tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan permintaan, harga jatuh dan margin keuntungan tergerus.
Situasi seperti ini pernah terjadi pada 2018, ketika pendapatan industri surya turun tajam sebelum akhirnya pulih setelah permintaan mengejar pasokan. Namun, tekanan kali ini dinilai lebih berat karena masalahnya bukan hanya siklus biasa, melainkan juga pasar domestik yang mulai jenuh.
Sejumlah produsen sempat menyerukan "disiplin diri" untuk mengurangi kelebihan kapasitas. Tahun lalu, beberapa perusahaan mencoba mengatur kuota produksi dan menetapkan batas bawah harga panel. Namun, kesepakatan itu sulit dijalankan.
Beberapa pekan setelah kesepakatan dibuat, ada perusahaan yang dituding melanggarnya. Pada Januari, pejabat China bahkan menyampaikan kekhawatiran bahwa koordinasi tersebut bisa berubah menjadi praktik kartel.
Pemerintah China juga mulai mengurangi dukungan. Dulu, industri panel surya mendapat banyak bantuan, mulai dari lahan murah hingga pinjaman tanpa bunga. Kini, dukungan itu mulai ditarik.
Sejak Juni tahun lalu, proyek surya baru harus menjual listrik dengan harga pasar, bukan lagi menikmati tarif tetap yang dijamin pemerintah. Lonjakan ekspor pada Maret juga sebagian terjadi karena perusahaan mempercepat pengiriman sebelum 1 April, saat fasilitas pengembalian pajak ekspor berakhir.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pemerintah daerah di China bahkan mulai meminta perusahaan surya mengembalikan subsidi bernilai jutaan yuan. Beberapa daerah lebih memilih membiarkan perusahaan yang lemah bangkrut ketimbang terus menopangnya.
Hambatan Dagang Makin Berat
Masalah ketiga datang dari luar negeri. Panel surya murah China memang membuat energi surya semakin terjangkau. Namun, keberhasilan itu juga memicu reaksi proteksionis dari banyak negara.
Negara-negara Barat dan sejumlah negara tetangga China, termasuk India, mulai mengambil langkah untuk membatasi dominasi produk surya China. Sejak 2022, AS menerapkan pembatasan ketat terhadap impor panel surya China, termasuk tarif besar untuk produk yang masih bisa masuk.
Di Eropa, kekhawatiran tidak hanya soal harga murah, tetapi juga keamanan infrastruktur listrik. Pada Mei, Uni Eropa menyatakan akan menghentikan secara bertahap penggunaan pemasok inverter asal China dalam proyek-proyek yang didanai Uni Eropa. Inverter merupakan komponen penting dalam sistem pembangkit listrik tenaga surya.
Untuk menghindari tekanan politik dan hambatan dagang tersebut, sebagian perusahaan China mulai memindahkan atau mengalihkan produksi ke luar negeri.
Namun, itu bukan solusi yang mudah. Biaya produksi di luar China bisa lebih tinggi, sementara tekanan terhadap harga panel surya masih berlanjut.
Masa Keemasan Mulai Meredup
Prospek industri surya China kini terlihat suram. Sejak 2024, lebih dari 40 perusahaan surya China bangkrut, diakuisisi, atau keluar dari bursa saham. Reuters melaporkan, sepertiga tenaga kerja dari lima perusahaan surya terbesar China juga telah terkena pemutusan hubungan kerja.
Jessica Jin dari S&P Global menilai gelombang konsolidasi terbesar di industri ini bahkan belum terjadi. Harga panel surya memang sempat naik dalam beberapa bulan terakhir, tetapi masih berada di bawah rata-rata biaya produksi.
Saham sejumlah produsen besar seperti LONGi Green Energy Technology, Tongwei, Jinko Solar, dan Trina Solar juga masih bergerak jauh di bawah separuh level puncaknya beberapa tahun lalu.
Industri ini masih punya peluang untuk bangkit. Salah satunya jika negara-negara lain menurunkan hambatan dagang terhadap produk China. Peluang lain datang dari teknologi baru yang bisa meningkatkan efisiensi panel surya.
Saat ini, sebagian besar panel surya mampu mengubah sekitar 22% hingga 24% cahaya matahari menjadi listrik. Teknologi sel surya yang lebih maju, seperti perovskite, secara teori bisa mendorong efisiensi di atas 30% dan bahkan berpotensi lebih murah untuk diproduksi.
Namun, pertanyaan besarnya adalah berapa banyak perusahaan surya China yang mampu bertahan cukup lama sampai teknologi baru itu benar-benar siap digunakan secara luas.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

3 hours ago
5

















































