Darah di Pasar Kripto: Duit Rp 204 Triliun "Hangus"

2 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

12 February 2026 17:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar aset kripto kembali mengalami tekanan jual yang cukup dalam dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi justru saat instrumen investasi lain, seperti saham teknologi, sedang mencatatkan kinerja positif.

Berdasarkan data perdagangan hingga 12 Februari 2026, harga Bitcoin tercatat turun dari level tertingginya di kisaran US$ 124.000 pada awal Oktober tahun lalu, menjadi sekitar US$ 67.000 saat ini. Penurunan harga aset kripto terbesar ini turut berdampak pada total kapitalisasi pasar kripto secara global, yang berkurang lebih dari US$ 2 triliun.

Secara persentase, penurunan Bitcoin sekitar 45% ini memang belum sedalam koreksi pada akhir 2021 yang mencapai 77%, namun situasi pasar saat ini memiliki karakteristik yang berbeda.

Perbedaan Arah dengan Pasar Saham

Poin utama yang membedakan kondisi saat ini dengan siklus penurunan sebelumnya adalah korelasi aset. Pada tahun 2022, penurunan harga kripto terjadi beriringan dengan jatuhnya pasar saham, khususnya sektor teknologi. Saat itu, indeks NASDAQ 100 juga mengalami koreksi signifikan.

Sebaliknya, pada awal 2026 ini terjadi divergensi atau perbedaan arah pergerakan. Indeks NASDAQ 100 saat ini justru berada di dekat level tertingginya, hanya selisih tipis di bawah 4% dari rekor puncak. Hal ini menunjukkan bahwa aset kripto sedang bergerak turun secara independen dan tidak mengikuti tren pemulihan yang terjadi di pasar ekuitas Amerika Serikat.

Faktor Leverage dan Likuidasi Posisi

Salah satu pemicu utama koreksi harga adalah tingginya posisi leverage (transaksi dengan dana pinjaman). Data pasar mencatat bahwa pada akhir September lalu, total pinjaman yang menggunakan jaminan aset kripto mencapai angka US$ 74 miliar. Angka ini naik dua kali lipat dibandingkan periode setahun sebelumnya.

Tingginya posisi utang ini memicu likuidasi ketika harga aset mulai turun. Tercatat sejak 10 Oktober, terjadi likuidasi pada posisi leveraged senilai kurang lebih US$ 19 miliar atau sekitar Rp 319,39 triliun.

Tekanan jual ini terjadi secara bertahap dan terus-menerus. Dampak dari penurunan ini juga terlihat pada kinerja saham perusahaan yang memiliki eksposur besar ke Bitcoin, seperti Strategy Inc, yang harga sahamnya terkoreksi hampir 70% sejak bulan Juli.

Liquidation Heatmap Kripto 1Y, CoinglassFoto: Liquidation Heatmap Kripto 1Y, Coinglass

Arus Modal Keluar dari ETF

Instrumen Exchange-Traded Funds (ETF) Bitcoin, yang sempat menjadi pendorong kenaikan harga pada tahun 2024, kini justru mencatatkan arus dana keluar (outflow). Produk iShares Bitcoin Trust (IBIT), yang sebelumnya mengalami pertumbuhan aset kelolaan yang sangat cepat hingga menembus US$ 100 miliar, kini menghadapi situasi berbeda.

Dalam 80 hari perdagangan terakhir, data menunjukkan adanya arus keluar dana dari IBIT sebesar US$ 3,5 miliar. Hal ini mengindikasikan bahwa investor institusi yang masuk melalui jalur ETF mulai mengurangi posisi mereka, yang pada akhirnya menambah tekanan jual di pasar spot.

Perubahan Minat dan Sentimen Pasar

Selain faktor teknis dan aliran dana, terdapat perubahan sentimen terkait daya tarik aset kripto. Masuknya aset ini ke dalam sistem keuangan formal dinilai oleh sebagian pihak justru mengurangi sisi eksklusivitasnya.

Co-founder Ethereum, Charles Hoskinson, menyebutkan bahwa integrasi kripto ke sistem arus utama membuat aset ini menjadi "bagian dari sistem" itu sendiri, yang bagi sebagian komunitas awal kripto dianggap mengurangi nilai uniknya.

Charles Hoskinson. (Tangkapan Layar Youtube Crypto Crow)Foto: Charles Hoskinson. (Tangkapan Layar Youtube Crypto Crow)

Dari sisi adopsi institusi keuangan konvensional, survei Bank of America pada bulan September memperlihatkan bahwa alokasi aset digital dalam portofolio manajer investasi global masih sangat kecil, yakni di angka 0,4%.

Sementara itu, bank sentral di berbagai negara tampaknya masih lebih memilih emas fisik sebagai instrumen lindung nilai (hedging) terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, dibandingkan beralih ke aset digital. Hingga saat ini, belum ada tren pembelian aset kripto dalam jumlah besar yang dilakukan oleh bank sentral sebagai bagian dari cadangan devisa mereka.

Kombinasi dari faktor leverage, arus keluar dana ETF, dan minimnya katalis positif baru membuat pasar kripto masih berada dalam fase konsolidasi dan koreksi, meskipun kondisi ekonomi makro global relatif stabil.

Dampak Pengetatan Likuiditas (Quantitative Tightening)

Selain faktor internal pasar, kondisi makroekonomi global juga memberikan pengaruh besar. Kebijakan Quantitative Tightening (QT) yang dijalankan oleh bank sentral, khususnya The Fed, selama beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan dampak nyata pada ketersediaan uang tunai di pasar.

Secara sederhana, kebijakan ini mengurangi jumlah likuiditas atau uang beredar di dalam "mesin ekonomi". Ketika likuiditas menjadi lebih ketat, investor cenderung menjadi lebih selektif dan berhati-hati dalam menempatkan dana mereka. Fokus pasar kini beralih mencari aset-aset yang lebih aman atau less aggressive.

Dalam spektrum investasi, aset kripto sering ditempatkan sebagai kelas aset yang paling agresif (most aggressive asset class). Berbeda dengan saham yang memiliki dasar arus kas perusahaan atau obligasi yang memberikan kupon bunga, pergerakan kripto sangat bergantung pada ketersediaan likuiditas berlebih.

Akibatnya, ketika keran likuiditas diputar semakin kecil, aset dengan profil risiko paling tinggi inilah yang pertama kali terkena dampak penyesuaian portofolio investor. Pelaku pasar lebih memilih mengamankan aset ke instrumen yang memiliki fundamental lebih jelas, sehingga membuat aliran dana ke pasar kripto menjadi tersendat.

Gedung Federal Reserve di Washington.(AP Photo/Patrick Semansky/File Foto)Foto: Gedung Federal Reserve di Washington. (AP/Patrick Semansky/File Foto)

Outlook Pasar

Dengan keadaan seperti ini, pergantian Jerome Powell pada bulan Mei 2026 mendatang menimbulkan proyeksi arah kebijakan The Fed yang beragam. Pada saat ini di era Chairman baru The Fed Kevin Warsh, The Fed berpotensi menunda quantitative easing. Hal ini masih berpotensi menjadi risiko tambahan pada aset beresiko tinggi seperti Bitcoin karena kurangnya likuiditas yang berada di pasar.

Sehingga arah kebijakan Kevin Warsh ini menjadi peran sangat penting pada pergerakan cycle Bitcoin selanjutnya yang akan dimulai pada Q4 2026 atau awal tahun 2027 mendatang.

Kebijakannya berpengaruh terhadap volume bensin yang bisa diberikan untuk memompa kenaikan harga Bitcoin dalam pencarian harga tertinggi terbarunya pada Bitcoin cycle yang akan datang.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |