Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
19 February 2026 19:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) kini masuk ke situasi yang disebut "boomcession". Kondisi ini menggambarkan jarak antara data ekonomi yang terlihat melaju kencang dengan perasaan masyarakat yang tidak ikut merasakan hasilnya.
Istilah boomcession merupakan gabungan dari kata boom dan recession. Kondisi ini diperkenalkan oleh Matt Stoller, pegiat antimonopoli sekaligus direktur riset di American Economic Liberties Project, sebuah lembaga think tank nonpartisan di AS.
Fenomena ini muncul ketika output ekonomi meningkat dan pasar saham melesat. Belanja konsumen juga masih tinggi, sementara resesi pascapandemi yang sempat banyak diprediksi nyatanya tidak terjadi.
Namun di sisi lain, banyak warga Amerika justru merasa dompet mereka makin sesak. Utang menembus rekor tertinggi, dan mayoritas masyarakat bahkan keliru mengira ekonomi AS sedang melambat. Jurang inilah yang membuat banyak orang merasa mesin ekonomi yang ikut mereka jalankan tidak otomatis mendorong mereka maju.
Istilah boomcession kerap disandingkan dengan vibecession yang populer pada 2022, ketika data ekonomi terlihat solid namun sentimen konsumen justru muram. Ada juga kemiripan dengan konsep K-shaped economy, yakni pemulihan yang terasa sangat berbeda antar kelompok pendapatan.
Bedanya, boomcession menekankan bahwa yang dirasakan masyarakat bukan semata soal suasana hati, melainkan kesulitan finansial yang benar-benar terjadi. Dalam konteks ini, menjadi lebih mudah memahami mengapa banyak orang merasa tidak ikut menikmati pertumbuhan, meski ekonomi terlihat baik di atas kertas.
Inflasi Jadi Pemicu
Salah satu pemicu utama ketimpangan rasa itu adalah inflasi yang dampaknya tidak sama bagi semua orang. Melansir dari CNBC International, laju kenaikan harga yang dihadapi konsumen bisa berbeda tergantung pendapatan dan lokasi.
Morgan Stanley mencatat inflasi bahan pangan dan biaya tempat tinggal menjadi yang paling tinggi kenaikannya di antara kebutuhan pokok yang mereka pantau sepanjang 2020 hingga 2025.
Dua pos ini juga menyedot porsi belanja yang jauh lebih besar pada kelompok berpendapatan rendah pada 2024. Artinya, ketika harga kebutuhan pokok naik, tekanan paling terasa cenderung jatuh pada kelompok yang porsi belanjanya memang didominasi kebutuhan dasar.
Ekonom Morgan Stanley Heather Berger menilai kelompok berpenghasilan lebih rendah secara historis lebih sering mengalami inflasi yang lebih tinggi dibanding kelompok yang lebih mapan. Kesenjangan itu makin lebar saat inflasi berada di atas target 2% bank sentral AS (The Federal Reserve), seperti yang banyak terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu regional bank sentral AS yakni Atlanta juga melaporkan bahwa harga makanan naik sekitar 9% lebih besar di wilayah yang lebih miskin dibanding wilayah yang lebih kaya pada periode kuartal II 2006 hingga kuartal III 2020.
Beda Hidup Beda Harga
Sejumlah pengamat menilai, jika praktik monopoli dan perbedaan harga dipandang sebagai bagian yang melekat dalam perekonomian AS, maka wajar bila pengalaman masyarakat terasa timpang. Ada kelompok yang merasa lebih diuntungkan karena menghadapi harga yang berbeda, sementara kelompok lain justru tertekan karena beban harga yang lebih berat.
Di tengah situasi ini, Presiden AS Donald Trump mendorong sejumlah inisiatif untuk menurunkan harga rumah dan obat-obatan. Trump juga sempat menyebut inflasi hampir tidak ada pada Januari lalu, padahal data terbaru masih menunjukkan laju inflasi lebih tinggi dari level tahunan 2% yang kerap dianggap sehat oleh pejabat The Fed.
Para ekonom dan investor kini menunggu seberapa agresif program keterjangkauan itu digencarkan menjelang pemilu paruh waktu yang akan berlangsung pada November tahun ini.
Sementara kebijakan terus berjalan, rasa aman rumah tangga di AS tidak lagi sekuat awal 2020-an saat stimulus pandemi masih mengalir kencang. Ekonom senior NerdWallet Elizabeth Renter menilai banyak keluarga kini merasa lebih rentan terhadap kondisi ekonomi mereka.
Data New York Fed menunjukkan utang kartu kredit menembus rekor tertinggi US$1,28 triliun pada kuartal IV tahun lalu. Ini mempertegas bahwa meski ekonomi terlihat tumbuh, tekanan finansial di level rumah tangga ikut membesar.
Pasar Tenaga Kerja AS Ikut Seret
Selain soal harga, perhatian juga mengarah ke pasar tenaga kerja. Sejumlah ekonom menggambarkan situasi saat ini sebagai jobless boom atau hiring recession. Ketua The Fed Jerome Powell menyebut kondisinya sebagai lingkungan dengan perekrutan rendah dan PHK rendah.
Data menunjukkan lowongan pekerjaan di AS pada Desember 2025 turun ke level terendah sejak 2020, yakni hanya ada 6.542 lowongan. Padahal pasar saham yang tercermin dari indeks Dow Jones Industrial Average justru menguat.
Karena masyarakat berpendapatan tinggi lebih banyak memiliki saham, penguatan bursa bisa ikut mengangkat kepercayaan diri dan menopang belanja mereka. Namun bagi kelompok yang tidak punya aset saham, reli di pasar saham tidak banyak membantu mereka. Di saat yang sama, kekhawatiran meningkat ketika peluang kerja makin sempit.
Di sisi lain, produktivitas output per pekerja per jam mencapai rekor tertinggi baru tahun lalu setelah pulih dari pelemahan era pandemi. Namun bagi pekerja, peningkatan ini juga bisa memicu kekhawatiran karena dapat dibaca sebagai sinyal teknologi Artificial Intelligence (AI) yang mempercepat produktivitas. Hal ini berpotensi mendorong perusahaan untuk mengurangi jumlah karyawan.
Porsi untuk Pekerja Menyusut, Kepercayaan Ikut Turun
Porsi output ekonomi yang mengalir ke pekerja lewat kompensasi atau labor share turun ke level terendah baru pada tahun lalu. Pada saat yang sama, jarak antara laba korporasi dan upah karyawan sebagai porsi dari Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) ikut melebar. Survei sentimen yang dilakukan oleh University of Michigan pun turun mendekati titik terendah sepanjang masa.
Meski sentimen cukup suram, belanja konsumen tetap cukup kuat sehingga ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan, yakni 4,3% pada kuartal III 2025. Namun analisis Moody's menilai belanja total kini semakin digerakkan oleh 20% warga AS teratas.
Laporan nonfarm payroll periode Januari 2026 ini juga lebih tinggi dari perkiraan para ekonom, sehingga memberi harapan pasar kerja mulai stabil. Namun kenaikan tersebut terutama ditopang sektor layanan kesehatan, yang menyumbang lebih dari setengah pertumbuhan bersih.
Mayoritas Merasa Ekonomi AS Resesi
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Guardian Harris pada Desember lalu, menunjukkan hampir tiga perlima warga Amerika percaya ekonomi AS sedang resesi, naik 11% dibanding survei serupa lebih awal pada 2025, meski resesi umumnya dimaknai sebagai beberapa kuartal pertumbuhan PDB negatif.
Survei Snap Finance yang dilansir dari CNBC International juga menunjukkan tekanan paling berat dirasakan kelompok bawah.
Sekitar seperempat responden menilai kondisi finansialnya tidak stabil atau sangat tidak stabil. Angkanya naik menjadi 41% pada mereka dengan skor kredit di bawah 670 dan 54% pada rumah tangga berpendapatan US$50.000 atau lebih rendah, dari lebih 1.400 responden yang disurvei pada Desember 2025.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/luc)

3 hours ago
4

















































