Jakarta, CNBC Indonesia - Penampakan langka muncul di kawasan Gunung Bromo pada Senin pagi (8/6/2026). Yaitu, munculnya fenomena bak salju, alias embun upas atau embun beku di area kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur.
Melansir detikjatim, tampak lapisan kristal es menutupi rerumputan, dedaunan, hingga hamparan pasir di sekitar kaldera Bromo. Fenomena langka ini pun menarik perhatian para wisatawan karena Indonesia yang juga beriklim tropis sedang mengalami Musim Kemarau.
BMKG mencatat, hasil monitoring perkembangan musim pada akhir bulan Mei 2026, dari 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 200 Zona Musim atau 11,83 dari luas daratan di Indonesia sedang mengalami Musim Kemarau.
Musim Kemarau kali ini diwarnai fenomena El Nino dengan potensi kategori Moderat-Kuat, yang dapat mengurangi curah hujan di Indonesia. Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang.
Lantas apa pemicu fenomena ini muncul?
Dikatakan, fenomena embun upas adalah kejadian tahunan di kawasan Bromo dan Semeru saat puncak musim kemarau. Meski, tetap tergantung pada kondisi cuaca dan suhu di malam hingga dini hari.
"Fenomena embun beku (frost) terjadi akibat pendinginan radiasi yang sangat kuat pada malam hingga dini hari, terutama saat kelembaban udara yang rendah, langit cerah, dan wilayah berada di dataran tinggi," kata Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardhani saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (10/6/2026).
Dalam kondisi seperti ini, jelas Ida, panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari, sehingga suhu permukaan turun drastis.
"Jika suhu udara atau suhu permukaan mendekati 0°C atau lebih rendah, embun yang terbentuk dapat membeku menjadi kristal es atau frost/embun beku. Kondisi ini juga diperkuat oleh masuknya massa udara kering dan relatif dingin dari Australia pada periode Monsun Australia," terangnya.
"Fenomena ini masih tergolong wajar selama terjadi sesuai pola musimnya, pada musim kemarau kondisi kelembapan udara umumnya lebih rendah, tutupan awan berkurang, malam hari cenderung lebih cerah, serta aliran massa udara kering dari Australia semakin dominan," lanjutnya.
Hal ini, sambung dia, karena kondisi langit cerah. Padahal, awan seharusnya menahan panas.
"Awan berperan seperti "selimut" yang menahan panas bumi. Saat langit cerah tanpa awan, panas dari permukaan lebih mudah lepas ke atmosfer sehingga suhu malam hingga pagi hari turun lebih cepat," ucapnya.
"Kondisi ini umumnya lebih terasa di wilayah dataran tinggi atau pegunungan, serta sebagian wilayah Indonesia bagian selatan yang lebih banyak dipengaruhi aliran udara kering dan relatif dingin dari Australia," papar Ida.
Fenomena Bediding Dimulai
Menurut Ida, wilayah yang mulai berpotensi mengalami suhu dingin/bediding umumnya merupakan daerah yang telah memasuki atau sedang menuju musim kemarau, terutama di Indonesia bagian selatan.
"Daerah yang biasanya lebih awal dan lebih jelas merasakan kondisi ini antara lain Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, wilayah selatan Jawa hingga kawasan dataran tinggi di Pulau Jawa, serta sebagian wilayah Sumatra bagian selatan seperti Sumatra Selatan dan Lampung," kata Ida.
"Meski demikian, fenomena bediding tidak merata karena dipengaruhi oleh perbedaan tutupan awan, kelembapan udara, angin, topografi, ketinggian tempat, dan karakter permukaan wilayah," lanjutnya.
Wilayah dataran tinggi, daerah pegunungan, lembah, serta wilayah yang jauh dari pengaruh laut biasanya lebih mudah merasakan suhu dingin dibandingkan wilayah pesisir atau perkotaan. Sebaliknya, wilayah pesisir, perkotaan, atau daerah yang masih lembap biasanya tidak mengalami bediding secara kuat karena suhu udara lebih stabil dan pelepasan panas tidak secepat daerah terbuka atau dataran tinggi.
"BMKG mengimbau khususnya masyarakat di sekitar Bromo serta Dieng untuk mewaspadai suhu dingin terutama pada malam hingga pagi hari, dengan menggunakan pakaian hangat, menjaga kondisi tubuh, serta berhati-hati saat berkendara karena udara dingin dan kabut dapat mengurangi jarak pandang," kata Ida.
"BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk secara berkala memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui berbagai kanal informasi BMKG, antara lain laman www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah-langkah antisipatif di lingkungan sekitar guna meminimalkan potensi dampak cuaca ekstrem," pungkasnya.
Fenomena embun upas atau embun beku mulai terlihat di kawasan Gunung Bromo pada Senin (8/6). Hamparan kristal es tampak menutupi rerumputan, dedaunan, hingga lautan pasir setelah suhu dini hari turun di bawah 5 derajat Celsius. (Dok. Bams Tour Bromo/DetikJatim) Foto: Fenomena embun upas atau embun beku mulai terlihat di kawasan Gunung Bromo pada Senin (8/6). Hamparan kristal es tampak menutupi rerumputan, dedaunan, hingga lautan pasir setelah suhu dini hari turun di bawah 5 derajat Celsius. (Dok. Bams Tour Bromo/DetikJatim)
(dce/dce)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































