Jakarta, CNBC Indonesia - Utang nasional Amerika Serikat (AS) resmi menembus US$ 39 triliun (Rp 661.440 triliun) pada Maret 2026. Utang bengkak, menyusul lonjakan pengeluaran akibat konflik AS-Israel-Iran.
Beban ini menambah tekanan pada prioritas anggaran, dari pemotongan pajak, belanja pertahanan, hingga pengelolaan utang.
Sebagai catatan, populasi AS saat ini ada di angka 342,62 juta jiwa.
Dengan beban utang yang menumpuk maka utang per penduduk AS kini tembus US$113.875 atau sekitar Rp 1,93 miliar.
Artinya, per kepala warga AS atau setiap bayi yang baru lahir di AS akan menanggung beban utang Rp 1,93 miliar. Tentu saja ini bukan dalam pengertian sebenarnya karena utang AS akan dibayar dari pajak dan pendapatan lainnya.
Trump, Raja Utang
Utang pemerintah AS tercatat meningkat lebih cepat pada awal pemerintahan Donald Trump periode kedua dibandingkan pada fase awal masa jabatan pertamanya.
Hal ini terlihat dari data yang dipublikasikan melalui FiscalData.treasury.gov, situs web resmi Pemerintah AS yang dikelola oleh U.S. Treasury. Salah satu indikator yang digunakan adalah Debt to the Penny, yakni catatan harian yang menunjukkan total utang pemerintah federal AS.
Kenaikan utang di Era Trump bisa dihitung dengan membandingkan total utang pada dua waktu. Untuk melihat perkembangan sejak awal masa jabatan Trump periode kedua, posisi utang pada Desember 2024 digunakan sebagai titik awal, lalu dibandingkan dengan posisi pada 10 Maret 2026 di mana data utang terakhir keluar.
Berdasarkan data tersebut, total utang pemerintah AS pada akhir Desember 2024 tercatat sebesar US$36,2 triliun. Angka ini kemudian naik menjadi sekitar US$38,9 triliun pada 10 Maret 2026.
Dengan demikian, dalam 14 bulan pertama pemerintahan Donald Trump pada periode keduanya sebagai presiden, utang pemerintah AS bertambah sekitar US$2,7 triliun.
Jika dikonversikan dengan asumsi kurs Rp16.960 per US$1, nilainya setara dengan sekitar Rp45.792 triliun. Jika dihitung per hari maka Trump menarik utang sebanyak Rp 110,6 triliun sehari dalam 414 hari sejak dilantik pada 20 Januari 2025 hingga 10 Maret 2026.
Utang pemerintah Amerika Serikat (AS) tercatat meningkat lebih cepat pada awal pemerintahan Donald Trump periode kedua dibandingkan pada fase awal masa jabatan pertamanya.
AS, Dulu Nol Utang Kini Jadi Penimbun
Selama dua abad terakhir atau dalam 200 tahun, perjalanan utang Amerika Serikat (AS) menunjukkan perubahan besar dalam arah ekonomi, politik, dan kebijakan fiskal negeri adidaya tersebut.
Dari titik di mana AS nyaris tanpa utang di awal abad ke-19, kini Negeri Paman Sam menanggung beban utang yang sangat besar. Hasil dari dua abad ekspansi ekonomi, pembiayaan perang, serta stimulus kebijakan di masa krisis.
AS kini menjadi negara dengan beban utang terbesar di dunia, melampaui gabungan beberapa negara maju seperti Jepang, Inggirs, dan Prancis.
Dalam konteks global, lonjakan utang ini juga menjadi simbol perubahan era fiskal dunia. Dari disiplin anggaran menuju pembiayaan berbasis defisit yang lebih agresif.
Meski kerap dikritik karena ketergantungan pada pinjaman, kekuatan ekonomi AS dan status dolar sebagai mata uang cadangan global menjadikan posisi fiskal negara ini sarat risiko, namun tetap dipercaya pasar.
Dari Reformasi Jackson ke Perang Dunia
Pada 1825, total utang pemerintah AS hanya sekitar US$83,8 juta, dan sempat hampir lenyap total di bawah Presiden Andrew Jackson pada 1835, yang menurunkannya hingga tersisa US$34 ribu saja.
Jackson melunasi utang melalui hasil penjualan tanah publik dan tarif impor tinggi, namun kebijakan ekstrem tersebut memicu krisis besar Panic of 1837, salah satu resesi terdalam dalam sejarah AS.
Memasuki abad ke-20, utang kembali menanjak tajam seiring pembiayaan Perang Dunia I pada 1914 yang menambah beban menjadi US$2,9 miliar, dan meningkat drastis saat Perang Dunia II yang dimulai pada 1941 menjadi US$49 miliar.
Setelah perang, ekspansi fiskal untuk membiayai pembangunan dan program sosial membuat utang melonjak ke US$257 miliar pada 1950, dan US$533 miliar pada 1975, meskipun rasio terhadap PDB sempat turun berkat pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Quantitative Easing dan Ledakan Utang
Lonjakan paling signifikan terjadi pada era modern. Dari US$5,7 triliun pada tahun 2000, utang AS melonjak hampir tujuh kali lipat hanya dalam 25 tahun terakhir.
Krisis keuangan global 2008 dan pandemi Covid-19 membuat Federal Reserve mencetak triliunan dolar melalui quantitative easing (QE). Kebijakan moneter longgar yang awalnya bersifat darurat, namun kini menjadi bagian permanen dari instrumen kebijakan bank sentral.
Kenaikan tajam ini menandakan bahwa AS semakin bergantung pada defisit fiskal untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas pasar keuangan.
Meski begitu, status dolar AS sebagai mata uang cadangan global (global reserve currency) memberikan ruang yang relatif aman bagi pemerintah AS untuk terus menambah utang tanpa memicu gejolak pasar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae)
Addsource on Google

3 hours ago
5

















































