Gawat! Lebih dari 70% Kelas Menengah Cemas soal Keuangan

2 hours ago 3

Achmad Aris,  CNBC Indonesia

09 February 2026 18:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Survei terbaru yang dilakukan oleh FWD Group mengungkap bahwa lebih dari 70% masyarakat kelas menengah di Asia khawatir terhadap kondisi kesehatan keuangan mereka sehingga tidak siap menghadapi masa pensiun.

Biaya hidup yang meningkat dan tanggungjawab keluarga yang semakin besar membentuk kembali prioritas keuangan lintas generasi.

Survei yang dilakukan terhadap lebih dari 9.000 responden usia 21 tahun-65 tahun di 10 negara termasuk Indonesia, menunjukkan sekitar 71% responden kelas menengah menyatakan kecemasannya tentang kesejahteraan finansial mereka secara keseluruhan.

Negara yang disurvei adalah negara-negara tempat FWD beroperasi yaitu Kamboja, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Makau, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Tiga kekhawatiran utama yang memicu kecemasan kesehatan keuangan adalah meningkatnya biaya hidup sehari-hari (71%), biaya perawatan kesehatan yang tinggi (43%), dan kehilangan pekerjaan yang tidak terduga atau pengurangan pendapatan (37%).

Akibatnya, setengah responden memprioritaskan membangun dana pengaman keluar dalam horizon 2 tahun-3 tahun, sedangkan hanya sekitar sepertiga yang menargetkan kemandirian finansial jangka panjang.

Lee Yen Ho, Chief Distribution and Proposition Officer Group, mengatakan ada rasa kerentanan finansial yang sama di berbagai generasi kelas menengah di Asia. Menurutnya, seiring dengan bertambahnya usia harapan hidup dan berkembangnya struktur keluarga, membangun ketahanan finansial untuk melindungi orang-orang terkasih dan mengubah tabungan menjadi pendapatan seumur hidup yang berkelanjutan akan menjadi semakin penting.

Dalam situasi ini, dia menambahkan, asuransi berperan penting tidak hanya sebagai proteksi risiko tetapi juga sebagai alat membangun ketahanan finansial dan sumber pendapatan pensiun jangka panjang.

"Mengubah cara pandang orang terhadap asuransi memiliki peran penting. Asuransi memberikan perlindungan di masa-masa sulit tetapi juga dapat membantu membangun ketahanan, mengamankan pendapatan untuk masa pensiun, dan memberi orang kepercayaan diri yang mereka butuhkan untuk menikmati hidup," jelasnya, dikutip Senin (9/2/2026).

Tekanan di Tiap Generasi

Survei ini menemukan tekanan finansial yang berbeda di setiap generasi. Gen X yang lahir pada 1965-1980 menghadapi beban simultan biaya pendidikan anak, cicilan rumah, dan persiapan pensiun (triple pressure).

Sebanyak 62% generasi ini khawatir tabungan mereka tidak akan mampu mengimbangi inflasi dan 52% menempatkan pendapatan seumur hidup yang terjamin sebagai kebutuhan pensiun utama mereka.

Sementara itu Generasi Y yang lahir 1981-1995 memikul berbagai tanggungjawab keuangan. Sebagian besar (85%) segmen ini berada dalam posisi sandwich generation. Kendati hampir setengahnya (47%) mencari solusi tunggal dan efisien untuk mencakup beberapa anggota keluarga, sebagian besar (61%) belum pernah mendengar tentang rencana asuransi keluarga.

Berikutnya Generasi Z yang lahir 1996-2010 menghadapi tekanan biaya hidup yang meningkat dengan lebih dari separuhnya memperkirakan kondisi finansial akan makin sulit dalam 5 tahun-10 tahun ke depan. Segmen ini menganggap produk asuransi terlalu mahal.

Temuan survei ini menegaskan perubahan prioritas kelas menengah di Asia karena tekanan ekonomi dan perubahan struktur keluarga membuat fokus keuangan bergeser dari wealth building jangka panjang menjadi stabilitas jangka pendek.

Kecemasan kelas menengah ini sekaligus menjadi sinyal risiko makro dimana permintaan konsumsi dan proteksi bisa tertekan. Pasalnya, kelompok kelas menengah selama ini menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi.

Penetrasi asuransi dan dana pensiun bisa stagnan karena rumah tangga kelas menengah fokus survival jangka pendek sehingga menunda pembelian proteksi jangka panjang. Di sisi lain, risiko social protection gap bakal makin lebar karena banyak keluarga yang masuk kategori near vulnerable.

Jika industri keuangan dan regulator tidak segara merespons, temuan ini dapat berpotensi menghambat pertumbuhan konsumsi, pendalaman pasar keuangan, dan ketahanan ekonomi jangka panjang Asia.

(ach/ach)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |