Gencatan Senjata Hanya Omdo Pemimpin Dunia, Kekerasan Jalan Terus

10 hours ago 9

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

19 April 2026 22:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan pada 8 April lalu langsung diwarnai dengan sejumlah insiden kekerasan. Ini menunjukkan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dibuat para pemimpin dunia tersebut hanya omong doang alias omdo. 

Sesaat setelah kesepakatan tersebut dipublikasikan, Israel mengintensifkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon, yang menurut klaim Israel tidak termasuk dalam kesepakatan.

Pada saat yang sama, Iran meluncurkan pesawat nirawak dan rudal ke beberapa negara di kawasan Teluk, sementara Bahrain melaporkan serangan dari milisi proksi Iran. Selain itu, arus lalu lintas maritim di Selat Hormuz belum kembali normal, sehingga memicu Presiden Donald Trump menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk memberlakukan blokade pelayaran.

Rentetan peristiwa ini memperlihatkan bahwa penerapan gencatan senjata di lapangan sering kali jauh dari kata ideal. Namun, meskipun pelanggaran-pelanggaran ini menguji kesepakatan yang masih rapuh, hal tersebut tidak selalu menghancurkan proses negosiasi.

Sejarah mencatat bahwa gencatan senjata sering kali dilanggar dengan sengaja tanpa mengembalikan status konflik menjadi perang terbuka. Kesepakatan di Gaza, misalnya, secara resmi masih berlaku setelah enam bulan berlalu, meskipun serangan udara Israel terpantau masih terjadi pada pekan ini.

Data konflik pada suatu kejadian (dok. Economist)Foto: Data konflik pada suatu kejadian (dok. Economist)

Penurunan Kekerasan di Lapangan

Untuk memahami dinamika ini, The Economist menganalisis data dari Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) mengenai 12.333 peristiwa kekerasan di sekitar sembilan gencatan senjata pasca-2020 di wilayah Timur Tengah.

Data tersebut menunjukkan bahwa gencatan senjata secara konsisten terbukti mengurangi tingkat pertempuran, namun tidak ada satupun yang benar-benar menghasilkan penghentian kekerasan secara total. Rata-rata, insiden fatal menurun sebesar 81% dalam 30 hari pertama gencatan senjata dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Gencatan senjata Armenia-Azerbaijan pada 2020 tercatat sebagai yang paling sukses dengan hanya menyisakan kekerasan sporadis. Sebaliknya, jeda sementara antara Israel dan Hamas pada akhir 2023 serta awal 2025 langsung diikuti dengan kembalinya tingkat pertempuran ke level awal setelah durasi kesepakatan berakhir.

Secara umum, sebagian besar gencatan senjata menunjukkan penurunan kekerasan yang drastis di fase awal, namun tidak pernah benar-benar menyentuh angka nol, dan kerap kali meningkat kembali secara perlahan seiring berjalannya waktu.

Data konflik pada suatu kejadian 2 (dok. Economist)Foto: Data konflik pada suatu kejadian 2 (dok. Economist)

Strategi Tawar-Menawar

Peneliti dari Centre for Security Studies ETH Zurich, Valerie Sticher, menjelaskan bahwa gencatan senjata yang tidak sepenuhnya menghentikan kekerasan tetap memiliki fungsi yang signifikan.

Menurutnya, gencatan senjata sering kali bertindak sebagai bentuk tawar-menawar strategis untuk mengatur ulang ketentuan konflik, bukan sekadar tindakan kemanusiaan. Mengutip pemikiran ahli strategi militer Carl von Clausewitz, gencatan senjata justru dapat dipandang sebagai kelanjutan perang melalui cara yang lain.

Meski beberapa pelanggaran di lapangan murni terjadi secara tidak sengaja, insiden dalam Perang Teluk Ketiga belakangan ini tampaknya merupakan langkah yang terkoordinasi.

Literatur mengenai game theory dalam gencatan senjata menunjukkan bahwa kesepakatan damai menciptakan ambang batas toleransi baru di mana serangan skala kecil masih dibiarkan berlanjut.

Batasan ini biasanya dikelola oleh kedua belah pihak melalui strategi balasan yang setara (tit-for-tat). Serangan di awal gencatan senjata berfungsi untuk memberikan tekanan psikologis dan politis kepada lawan di meja perundingan, sekaligus menguji seberapa jauh batas toleransi lawan sebelum perang kembali pecah seutuhnya.

Menguji Persamaan Pencegahan

Strategi pelanggaran yang terukur ini bukanlah hal yang benar-benar baru. Iran dan proksinya, Hizbullah, telah lama menggunakan taktik serupa untuk menciptakan apa yang mereka sebut sebagai "deterrence equations".

Dengan merespons setiap serangan musuh secara proporsional dan setara, aktor yang lebih lemah dapat memberikan tekanan dan menahan lawan yang lebih kuat tanpa harus memicu perang skala penuh.

Konflik di perbatasan Lebanon selatan telah menjadi laboratorium strategis bagi Iran dalam menguji coba taktik ini selama bertahun-tahun.

Dalam konteks Perang Teluk Ketiga saat ini, Iran secara terbuka berupaya menerapkan persamaan pencegahan tersebut terhadap Amerika Serikat. Dengan mengancam akan membalas setiap serangan ke infrastruktur sipilnya dengan serangan ke fasilitas energi dan desalinasi air di kawasan Teluk, Iran berhasil memaksa Washington untuk menahan diri dari langkah-langkah eskalasi ekstrem.

Taktik ini, dikombinasikan dengan penutupan Selat Hormuz, dinilai berhasil menciptakan simetri kekuatan yang sementara waktu menumpulkan kemampuan eskalasi militer Amerika Serikat.

Tantangan Meraih Perdamaian Permanen

Meskipun gencatan senjata memberikan ruang esensial untuk berdialog, mencapai perdamaian permanen di Timur Tengah tetap menjadi tantangan yang kompleks. Data dari The Ceasefire Project menunjukkan bahwa dari 2.203 gencatan senjata antara tahun 1989 dan 2020, kawasan Timur Tengah mencatatkan tingkat kegagalan tertinggi, mencapai lebih dari 50%.

Kesepakatan juga terbukti paling rapuh di masa-masa awal, seperti yang terlihat dari kegagalan gencatan senjata AS-Iran pada tahun 2025 yang sebelumnya sempat diklaim akan bertahan selamanya.

Kehadiran pihak ketiga sebagai pemantau independen umumnya dapat meningkatkan peluang keberhasilan sebuah kesepakatan. Namun, dinamika menjadi jauh lebih rumit ketika Amerika Serikat bertindak langsung sebagai kombatan, sehingga mempersulit masuknya pihak netral untuk melakukan pengawasan.

Pada akhirnya, perundingan damai adalah proses yang panjang. Di meja perundingan saat ini, kesediaan untuk kembali mengangkat senjata justru menjadi alat tawar yang krusial.

Dalam hal ini, Iran, layaknya seorang pemain poker, menunjukkan sikap tidak hanya berani mengikuti permainan lawan, tetapi juga siap terus menaikkan taruhannya di tengah perundingan.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |