Hajar Aswad Disebut Jatuh dari Surga, Begini Penjelasan Ilmiahnya

3 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Batu Hajar Aswad telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim dan memegang peranan penting dalam sejarah dunia Islam. Secara religius, batu hitam yang tertanam di sudut Ka'bah ini diyakini umat Muslim berasal dari surga.

Namun, bagaimana jika asal-usul batu suci ini dibedah dari kacamata sains? Para ilmuwan dunia ternyata telah lama melakukan pengkajian mendalam untuk mengungkap kategori dan asal-usul batuan tersebut.

Sejumlah ahli berpendapat bahwa Hajar Aswad masuk dalam kategori batu meteor atau meteorit. Kesimpulan ini muncul bukan tanpa alasan, melainkan mencoba menyelaraskan kisah religius bahwa batu tersebut "jatuh dari langit" atau surga. Terlebih, fakta sejarah menunjukkan adanya jejak-jejak meteorit yang ditemukan tidak jauh dari wilayah Ka'bah.

E. Thomsen dalam studi bertajuk "New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka'ba" (1980) mengungkapkan fakta menarik. Ia merujuk pada temuan seorang peneliti bernama Philby di wilayah Al-Hadidah pada tahun 1932. Philby menemukan kawah tumbukan meteor yang kemudian dikenal dengan nama kawah Wabar.

Kawah tersebut dilaporkan memiliki diameter berukuran lebih dari 100 meter, dengan beberapa pecahan batu yang tersebar di sekitar kawah dan area gurun sekitarnya.

Secara ilmiah, pecahan batu di kawah Wabar terbentuk dari peleburan pasir dan silika yang bercampur dengan unsur nikel. Thomsen menjelaskan bahwa kombinasi zat kimia ini menciptakan lapisan dalam yang berwarna putih, sementara bagian luarnya terbungkus oleh cangkang berwarna hitam.

Warna hitam pekat pada bagian luar batuan tersebut berasal dari komponen nikel yang dihasilkan dari ledakan Nikel serta Ferum (besi) di luar angkasa.

Menariknya, Thomsen menilai ciri-ciri fisik pecahan meteorit Wabar ini sangat mirip dengan gambaran fisik Hajar Aswad. Dalam sejarah Islam, Hajar Aswad disebut awalnya berwarna putih cerah namun perlahan berubah menjadi hitam karena menyerap dosa-dosa manusia.

Dari sisi sains, pancaran warna putih yang sempat terlihat pada Hajar Aswad kemungkinan berasal dari paparan bagian inti atau bagian dalam campuran zat kimia batuan tersebut. Lapisan putih di bagian dalam ini tidak akan bertahan lama terhadap paparan lingkungan, sehingga seiring berjalan waktu posisinya tergeser ke bawah dan menyisakan lapisan luar yang dominan hitam.

Adapun bintik-bintik putih yang saat ini masih terlihat pada Hajar Aswad dianalisis sebagai sisa-sisa kaca dan batu pasir yang mengkristal akibat dampak benturan suhu tinggi.

"Batu meteor itu kemungkinan batu yang sama dengan Hajar Aswad," tulis Thomsen dalam laporan studinya.

Penelitian lain juga mencoba melacak usia batuan tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa usia geologis batuan ini cocok dengan rentang waktu pengamatan masyarakat Arab kuno, dan ada kemungkinan batu tersebut dibawa menuju Makkah melalui jalur perdagangan kuno lewat Oman.

Meski demikian, teori yang menyatakan Hajar Aswad adalah sebuah meteorit tetap memicu perdebatan dan memiliki kelemahan di mata sebagian ilmuwan. Kritik terhadap teori ini muncul karena karakteristik umum batu meteor biasanya tidak mengapung di air, tidak mudah pecah menjadi serpihan kecil, dan memiliki ketahanan yang berbeda terhadap proses erosi alami jika dibandingkan dengan karakteristik fisik asli dari Hajar Aswad.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |