Hari-Hari Ini di RI Terasa Makin Mahal, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat Indonesia menghadapi tekanan yang cukup berat belakangan ini, akibat kenaikan harga barang-barang, membuat terasa semakin mahal.

Riset dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkapkan kondisi berat yang dialami banyak masyarakat Indonesia saat ini karena adanya inflasi akibat kenaikan harga barang-barang, terutama pangan, BBM, dan pelemahan rupiah.

"Dibanding tahun lalu, tren harga telah berubah cukup signifikan. Misal, cabai merah dan bawang merah yang dulu menahan inflasi, kini justru mendorong kenaikan," kata riset LPEM FEB UI, dikutip Rabu (10/6/2026).

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi nasional pada Mei 2026 mencapai 3,08% (year-on-year/yoy), dari sebelumnya pada April 2026 yang mencapai 2,42% (yoy). Berbeda dengan Mei 2026 yang mencatatkan deflasi, pada Mei 2026 justru Indonesia mengalami inflasi.

Adapun komponen Harga bergejolak pada Mei 2026 meningkat menjadi 6,24% (yoy), dari sebelumnya pada April 2026 mencapai 3,37% (yoy).

Komoditas pangan penyumbang utama inflasi Mei 2026 yakni cabai merah mencapai 0,08 poin, minyak goreng 0,04 poin, bawang merah 0,04 poin, tomat 0,03 poin, dan beras 0,02 poin.

Kenaikan harga pangan menjadi penyebab utama kebutuhan masyarakat semakin berat. Harga pangan seperti beras, minyak goreng, cabai merah, bawang merah, dan tomat menjadi perhatian utama.

Naiknya harga pangan disebabkan karena berakhirnya musim panen raya, gangguan produksi akibat cuaca di mana saat ini mayoritas Indonesia sudah memasuki musim kemarau, kenaikan permintaan saat Idul Adha, dan distribusi pangan yang belum lancar.

Selain kenaikan harga pangan, kenaikan harga energi, termasuk BBM makin mencekik masyarakat, terutama masyarakat kelas menengah hingga menengah ke bawah. Komoditas yang terdampak kenaikan harga meliputi bahan bakar rumah tangga, BBM, dan tarif angkutan udara.

"Kelompok harga yang diatur pemerintah baik menjadi 2,07% yoy, dari sebelumnnya 1,53%," lanjut riset tersebut.

Berbeda dari awal 2026 yang banyak dipengaruhi efek basis tarif listrik, pada Mei 2026 lebih banyak dipicu oleh kenaikan biaya langsung, di mana penyesuaian harga LPG non-subsidi dan kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi pendorong utama.

Tak hanya itu saja, rencana pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang akan menaikkan tarif angkutan udara akibat kenaikan harga bahan bakar makin menguras 'dompet' masyarakat.

Berikutnya, pelemahan rupiah turut menjadi penyebab kondisi di masyarakat semakin tercekik. Tekanan rupiah turut memperbesar risiko kenaikan harga, terutama barang-barang yang berbasis impor, termasuk bahan baku impor.

"Dampak pelemahan rupiah menyebabkan barang impor lebih mahal, bahan baku industri naik, biaya energi dan elektronik pun naik, dan biaya logistik turut terkerek naik," jelas riset tersebut.

Merespons fenomena ini, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya (BI Rate) sebanyak 50 basis poin (bp) pada RDG Mei 2026. Belum sebulan, BI Kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bp kemarin.

Kebijakan ini dilakukan sebagai Langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas makroekonomi, terutama menahan tekanan pelemahan rupiah dan mengendalikan ekspektasi inflasi. Namun, dampaknya pada inflasi jangka pendek diperkirakan terbatas, karena tekanan harga pangan, energi, dan transportasi ditentukan oleh faktor pasokan.

Peningkatan suku bunga memang dapat membantu menahan tekanan dari nilai tukar dan ekspektasi, tetapi pengendalian inflasi pada kelompok harga bergejolak tetap membutuhkan intervensi yang lebih terarah dari sisi pasokan," imbuh riset tersebut.

Selain kenaikan harga berimbas ke masyarakat, tekanan tersebut juga berimbas ke rantai awal produksi. Secara tahunan, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) pada Mei 2026 mengalami kenaikan di tingkat hulu, yakni menjadi 5,76% (yoy), dari sebelumnya pada April lalu mencapai 3,81% (yoy).

"Artinya, biaya produksi dan harga di tingkat grosir ikut meningkat," terang lagi riset tersebut.

Jika dilihat dari per sektornya, kenaikan di sector pertambangan menjadi yang paling tajam yakni menjadi 8,92% pada Mei 2026, dari sebelumnya pada April lalu mencapai 2,43%. Berikutnya sektor pertanian naik menjadi 7,73%, dari sebelumnya 4,52%. Selanjutnya industri pengolahan naik menjadi 3,72%, dari sebelumnya 2,99%.

Adapun faktor pendorong tingginya IHPB pada Mei 2026 yakni naiknya harga komoditas di hulu, terutama bijih besi, mineral, listrik, gas, dan air. Selain itu, ada tekanan biaya energi dan bahan baku industri yang belum sepenuhnya mereda akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Melihat kondisi tersebut, LPEM FEB UI memperkirakan inflasi Juni 2026 bisa meningkat lebih kencang di atas 3% secara tahunan (yoy).

"Kami perkirakan inflasi nasional periode Juni 2026 berisiko meningkat di kisaran 3,14% -3,30% secara tahunan dan meningkat 0,24% - 0,39% secara bulanan," pungkas riset tersebut.

(chd/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |