Jakarta, CNBC Indonesia - Hujan ekstrem yang melanda Semenanjung Iberia memaksa ribuan warga di Spanyol selatan meninggalkan rumah mereka, sementara aktivitas pendidikan lumpuh dan aparat darurat dikerahkan secara besar-besaran untuk mengantisipasi banjir serta longsor.
Badan meteorologi Spanyol, AEMET, pada Rabu (4/2/2026) menetapkan status siaga merah atau peringatan tertinggi di sejumlah wilayah Andalusia akibat hujan lebat yang disebut sebagai "luar biasa". Badai yang diberi nama Leonardo itu dinilai berpotensi memicu banjir besar dan pergerakan tanah di kawasan yang sudah jenuh air.
"Hujan dalam jumlah luar biasa sedang turun di wilayah di mana tanahnya sangat jenuh dan alur sungai sudah membawa banyak air akibat curah hujan sebelumnya," kata juru bicara AEMET, Ruben del Campo, dilansir AFP.
Layanan darurat Andalusia melaporkan lebih dari 3.000 orang dievakuasi sejak Selasa dari daerah-daerah rawan banjir sebagai langkah pencegahan. Evakuasi dilakukan di berbagai titik permukiman yang berada dekat sungai atau dataran rendah yang mudah tergenang.
Untuk membantu penanganan di lapangan, ratusan personel militer dikerahkan guna memperkuat tim penyelamat sipil. Pemerintah daerah juga menutup seluruh sekolah di Andalusia, kecuali di provinsi paling timur, Almeria, yang relatif lebih aman dari dampak langsung badai.
Situasi ini membangkitkan kembali trauma bencana besar yang pernah melanda Spanyol belum lama ini. Pada Oktober 2024, negara tersebut mengalami banjir paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir, dengan lebih dari 230 orang tewas, sebagian besar di wilayah timur Valencia.
Dampak badai Leonardo tidak hanya dirasakan di Spanyol. Di Portugal, negara tetangga di sebelah barat, sebagian wilayah pesisir ditetapkan dalam status siaga oranye saat badai masuk dari Samudra Atlantik. Pekan lalu, cuaca ekstrem di Portugal dilaporkan telah menewaskan lima orang.
Sementara itu, wilayah utara dan tengah Portugal juga berada dalam status waspada terhadap potensi hujan salju lebat. Angin kencang dan presipitasi diperkirakan masih akan berlangsung hingga Sabtu.
Para ilmuwan menilai meningkatnya intensitas badai seperti Leonardo berkaitan erat dengan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Mereka menyebut pemanasan global membuat peristiwa cuaca ekstrem menjadi lebih lama, lebih sering terjadi, dan lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































