Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
17 August 2026 11:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Perayaan 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia hari ini (17/8/2026) turut beriringan dengan momentum 49 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia. Dua perjalanan tersebut menjadi cerminan pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus transformasi Bursa Efek Indonesia dari masa ke masa.
Sejak kembali diaktifkan pada 10 Agustus 1977, pasar modal Indonesia telah melewati berbagai periode kejayaan. Setiap era menghadirkan sektor unggulan yang berbeda, mengikuti perkembangan ekonomi, pergerakan harga komoditas, kemajuan teknologi, daya beli masyarakat, serta arah kebijakan pemerintah.
Industri dasar dan manufaktur menjadi wajah utama bursa pada periode awal. Memasuki dekade 2000-an, pertumbuhan ekonomi dan lonjakan harga komoditas mengangkat nama-nama besar seperti Astra International (ASII), Bumi Resources (BUMI), Telkom Indonesia (TLKM), dan United Tractors (UNTR).
Kepemimpinan pasar kemudian silih berganti, mulai dari sektor konsumsi, perbankan besar, bank digital, teknologi, batu bara, energi terbarukan, mineral, hingga infrastruktur digital. Dalam semangat 81 tahun Indonesia merdeka dan 49 tahun kebangkitan kembali pasar modal, berikut rangkaian masa-masa terbaik yang pernah mewarnai perjalanan Bursa Efek Indonesia.
Dari Emiten Perintis hingga Lahirnya Blue Chip
PT Semen Cibinong, yang kini bernama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), menjadi emiten pertama ketika pasar modal diaktifkan kembali pada 1977. Setelah itu, muncul perusahaan tekstil, manufaktur, farmasi, makanan-minuman, dan consumer seperti CNTX, TFCO, GDYR, MERK, MLBI, UNVR, serta BATA.
Perkembangan bursa semakin cepat setelah pemerintah meluncurkan deregulasi pada akhir 1980-an. Kemudahan IPO dan masuknya investor asing mendorong perusahaan besar mencatatkan saham.
HMSP, GGRM, dan ASII masuk pada 1990, disusul INDF pada 1994 dan TLKM pada 1995. Saham-saham tersebut kemudian berkembang menjadi blue chip utama karena memiliki merek kuat, skala usaha besar, dan posisi penting dalam ekonomi Indonesia.
Telkom Berjaya Sebelum Smartphone
Awal dekade 2000-an menjadi masa pertumbuhan industri telekomunikasi. Penetrasi telepon seluler masih rendah, sementara pendapatan operator terutama berasal dari suara, SMS, sambungan tetap, dan penambahan pelanggan.
Smartphone, aplikasi pesan, video streaming, serta perusahaan OTT belum mendominasi komunikasi masyarakat. Kondisi tersebut membuat TLKM menjadi salah satu saham paling populer.
Saham Telkom yang diperdagangkan di New York melalui American Depositary Receipt naik sekitar 42,2% pada 2001, 58,3% pada 2002, dan 110,5% pada 2003. Pada 2006, saham tersebut kembali meningkat sekitar 91,8%.
Kenaikan itu didorong pertumbuhan pelanggan seluler dan posisi Telkomsel sebagai pemain utama industri telekomunikasi nasional.
Dok Telkom Foto: Dok Telkom
BUMI dan Astra Merajai Dekade 2000-an
Pertumbuhan ekonomi China mendorong permintaan batu bara, nikel, tembaga, dan emas. Indonesia sebagai eksportir komoditas memperoleh keuntungan besar.
BUMI menjadi ikon utama commodity supercycle. Data historis menunjukkan harga terendah tahunan BUMI berada di sekitar Rp20 pada 2002, naik menjadi Rp500 pada 2003 dan sekitar Rp6.000 pada 2007.
ANTM, INCO, dan PTBA ikut diburu karena memberikan eksposur terhadap emas, nikel, serta batu bara. UNTR memperoleh manfaat dari penjualan alat berat dan bisnis kontraktor pertambangan.
Pada masa yang sama, ASII menjadi saham "serba ada". Investor memperoleh eksposur terhadap otomotif, pembiayaan, alat berat, pertambangan, perkebunan, dan infrastruktur melalui satu kelompok usaha.
Khusus pada 2009, saham Astra meningkat sekitar 228,9%. Kenaikannya didorong pemulihan penjualan kendaraan, pertumbuhan kredit pembiayaan, serta kontribusi bisnis alat berat dan komoditas.
Consumer Menjadi Favorit
Pertumbuhan kelas menengah dan konsumsi rumah tangga membawa UNVR, HMSP, GGRM, ICBP, INDF, dan KLBF menjadi saham favorit pada 2009-2013.
UNVR memiliki kekuatan pada produk rumah tangga dan personal care. HMSP serta GGRM didukung besarnya pasar rokok domestik. ICBP dan INDF memiliki produk makanan yang dikonsumsi luas, sedangkan KLBF memperoleh manfaat dari kebutuhan obat, nutrisi, dan produk kesehatan.
GGRM melonjak lebih dari 400% pada 2009 berdasarkan harga yang telah disesuaikan. HMSP naik sekitar 191% pada 2010, sedangkan UNVR meningkat sekitar 46% pada 2009 dan 53% pada 2010.
Kekuatan merek, jaringan distribusi, kemampuan menaikkan harga, serta permintaan yang berulang menjadi alasan utama saham consumer memperoleh valuasi tinggi.
foto : Ist/indofood.com Foto: Ist/indofood.com
Bank Besar Menguasai Bursa
Pada 2014-2019, pusat perhatian beralih kepada BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Keempatnya menjadi tujuan utama investor karena mampu mencetak pertumbuhan laba secara berulang.
BBCA unggul melalui dana murah, kualitas aset, dan transaksi. BBRI memiliki dominasi kredit mikro, sedangkan BMRI dan BBNI memperoleh manfaat dari kredit korporasi, konsumer, serta aktivitas perusahaan nasional.
Pada 2014, BBRI naik sekitar 65%, BBNI 59%, BMRI 41%, dan BBCA 38%. Kinerja kembali kuat pada 2017 ketika BBNI meningkat sekitar 85%, BBRI 61%, BBCA 43%, dan BMRI 41%.
Secara sektoral, indeks keuangan membukukan kenaikan kumulatif sekitar 150,8% sepanjang 2014-2019, jauh di atas IHSG yang naik sekitar 47,5%.
Euforia Bank Digital dan Teknologi
Pandemi mempercepat penggunaan layanan keuangan digital. Bank-bank kecil yang memperoleh investor strategis dan bertransformasi menjadi digital mengalami lonjakan valuasi.
ARTO menjadi primadona setelah masuknya Gojek sebagai investor. BBHI, BANK, BBYB, dan AGRO ikut diburu karena menawarkan cerita pertumbuhan pengguna dan integrasi dengan ekosistem digital.
Sepanjang 2021, kenaikan saham bank digital berada pada kisaran 79% hingga 4.368%. Kapitalisasi pasar ARTO bahkan sempat mencapai sekitar Rp218,8 triliun.
EMTK ikut terkenal melalui bisnis media dan investasi digital. DCII menarik perhatian karena memberikan eksposur terhadap pertumbuhan pusat data, sedangkan BUKA menjadi pusat perhatian melalui salah satu IPO terbesar di BEI.
Allo Bank
Tahun 2025, Puncak Saham Konglomerasi
Tahun 2025 bukan hanya menjadi tahunnya teknologi, tetapi juga puncak saham konglomerasi. Secara sektoral, IDX Technology menjadi indeks dengan kinerja paling tinggi, naik sekitar 138,35%. Namun, dari sisi saham individual dan pengaruh terhadap IHSG, kepemimpinan pasar tersebar di berbagai emiten konglomerasi.
DCII memperoleh sentimen dari pertumbuhan data center dan infrastruktur kecerdasan buatan. DSSA ditopang ekosistem energi, pertambangan dan digital Sinarmas. Sementara itu, PTRO, BRPT, CUAN dan CDIA memperpanjang dominasi saham Grup Prajogo Pangestu.
Dengan demikian, teknologi merupakan sektor dengan kenaikan indeks tertinggi, tetapi konglomerasi merupakan tema pasar terbesar pada level saham individual. Bahkan DCII dan DSSA sempat menjadi dua penopang penting IHSG pada 2025, sebagaimana tercermin dalam data perdagangan BEI.
Dari SMCB pada 1977, TLKM sebelum era smartphone, BUMI pada supercycle komoditas, consumer dan bank besar, hingga saham konglomerasi pada 2025, sejarah bursa memperlihatkan satu pola: setiap zaman mempunyai juaranya sendiri. Yang berubah bukan hanya nama saham, melainkan juga mesin pertumbuhan ekonomi yang sedang dipercaya pasar.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

4 hours ago
3
















































