Jakarta, CNBC Indonesia - Pemaparan di pengadilan mengungkap strategi Instagram dan YouTube untuk membuat anak kecanduan menggunakan produk mereka. Strategi tersebut membuat seorang warga Amerika Serikat menyeret Meta dan Google ke pengadilan.
Pengacara bernama Mark Lanier membeberkan cara Instagram dan YouTube membuat perempuan bernama Kaley G. M. kecanduan mengakses platformnya di depan juri pengadilan. Tujuan utama Lanier adalah membuktikan bahwa korban yang kecanduan Instagram dan YouTube bisa menuntut ganti rugi.
Menurut dokumen internal perusahaan yang dibeberkan Lanier, Meta dan Google membuat mesin yang dirancang untuk membuat otak anak kecanduan secara sengaja.
Kaley merasa aplikasi media sosial adalah faktor utama yang membuatnya merasa depresi dan berpikir untuk bunuh diri. Ia meminta agar perusahaan teknologi bertanggung jawab atas penurunan kondisi mentalnya.
Pengacara Kaley berargumen bahwa perusahaan teknologi lalai dalam desain produk karena tidak memberikan peringatan ke pengguna soal risiko aplikasi mereka ke kesehatan mental. Jika pengadilan menerima argumen tersebut, perusahaan teknologi bisa diberondong gugatan dari pengguna media sosial lain.
Selain kasus Kaley, perusahaan media sosial menghadapi 2.300 gugatan serupa yang diajukan oleh orang tua, sekolah, hingga jaksa. Putusan juri di sidang Kaley berpotensi membuka jalan bagi kasus-kasus tersebut.
Pengacara Meta dan Google berencana membawa argumen bahwa faktor lain dalam kehidupan Kaley lebih berdampak ke kesehatan mentalnya. Mereka juga tak ingin disebut bertanggung jawab atas konten negatif yang diunggah oleh pengguna.
Carolyn Kuhl, hakim yang mengawasi sidang Kaley, menegaskan kepada para juri bahwa perusahaan tidak bisa dinyatakan bertanggung jawab atas konten yang diciptakan oleh orang lain, meskipun mereka memberikan rekomendasi kepada pengguna. Perusahaan hanya bisa bertanggung jawab atas desain dan operasi aplikasi.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
3

















































