Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Eropa bersiap memperluas cakupan sanksi terhadap Rusia dengan langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yakni menargetkan pelabuhan di negara ketiga yang terlibat dalam penanganan minyak Rusia. Dalam dokumen proposal terbaru, dua pelabuhan yang disebut secara spesifik adalah Kulevi di Georgia dan Karimun di Indonesia.
Proposal tersebut, yang ditinjau Reuters dan dipresentasikan kepada negara-negara anggota Uni Eropa pada Senin (9/2/2026), mengusulkan agar Kulevi dan Karimun dimasukkan ke dalam daftar sanksi. Jika disetujui, perusahaan dan individu di Uni Eropa akan dilarang melakukan transaksi apapun dengan kedua pelabuhan tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari paket sanksi ke-20 Uni Eropa terhadap Rusia sejak invasi ke Ukraina. Paket tersebut disusun bersama oleh dinas diplomatik Uni Eropa, European External Action Service (EEAS), dan Komisi Eropa.
Seperti paket-paket sebelumnya, penerapan sanksi ini mensyaratkan persetujuan bulat dari seluruh negara anggota Uni Eropa agar dapat diberlakukan secara hukum.
Pada Jumat lalu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan bahwa paket terbaru mencakup pembatasan lintas sektor, termasuk perubahan signifikan dari kebijakan sebelumnya.
Ia menyebut paket tersebut akan mengalihkan pendekatan dari pembatasan harga minyak Rusia yang disepakati negara-negara G7 menjadi larangan penuh atas layanan maritim terkait pengangkutan minyak mentah Rusia.
Selain sektor energi, proposal sanksi juga mencakup larangan impor baru untuk berbagai komoditas logam. Uni Eropa berencana menghentikan masuknya produk seperti batang nikel, bijih besi dan konsentratnya, tembaga mentah maupun olahan, serta berbagai jenis besi tua termasuk aluminium.
Tak hanya itu, daftar komoditas yang dilarang juga diperluas mencakup garam, amonia, kerikil, silikon, hingga kulit bulu.
Dalam paket ini, Uni Eropa juga mengaktifkan untuk pertama kalinya instrumen anti-pengelakan (anti-circumvention tool) terhadap negara ketiga. Melalui mekanisme ini, penjualan mesin pemotong logam serta peralatan komunikasi untuk transmisi suara, gambar, dan data seperti modem dan router, ke Kyrgyzstan akan dilarang.
Uni Eropa menilai negara tersebut berpotensi menjadi jalur pengelakan sanksi Rusia, sehingga pembatasan diberlakukan untuk mencegah teknologi sensitif mengalir ke Moskow secara tidak langsung.
Selain sektor perdagangan, blok Eropa juga mengusulkan sanksi terhadap sektor keuangan di negara-negara lain. Dua bank Kyrgyztan, yakni Keremet dan OJSC Capital Bank of Central Asia, diusulkan masuk daftar sanksi karena dinilai menyediakan layanan aset kripto kepada Rusia.
Dalam daftar yang sama, Uni Eropa juga mengusulkan sanksi terhadap bank-bank di Laos dan Tajikistan, namun di saat bersamaan justru menghapus dua lembaga keuangan asal China dari daftar sanksi.
Jika proposal ini disetujui, bank-bank yang tercantum akan dilarang melakukan transaksi dengan individu maupun perusahaan di wilayah Uni Eropa.
Untuk kerangka sanksi yang sudah mencakup pembekuan aset dan larangan perjalanan, EEAS juga mengusulkan penambahan 30 individu dan 64 perusahaan ke dalam daftar hitam.
Di antara entitas yang diusulkan masuk daftar adalah Bashneft, anak perusahaan Rosneft yang terdaftar di bursa, serta delapan kilang minyak Rusia. Dua di antaranya merupakan kilang besar yang dikuasai Rosneft, yakni Tuapse dan Syzran.
Meski demikian, proposal tersebut tidak sampai memasukkan Rosneft atau Lukoil sebagai target utama, meskipun kedua raksasa energi Rusia itu sudah lebih dulu terkena sanksi dari Amerika Serikat.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































