Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
28 June 2026 18:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang penutupan semester pertama tahun 2026, pasar saham di kawasan Asia-Pasifik memperlihatkan dinamika pergerakan yang sangat bervariasi.
Berdasarkan data historis indeks bursa utama hingga akhir Juni 2026, aliran modal asing dan sentimen makroekonomi global memberikan dampak yang signifikan terhadap performa masing-masing negara. Kondisi suku bunga global serta proyeksi pertumbuhan ekonomi regional menjadi faktor penentu arah investasi.
Secara umum, bursa saham di wilayah Asia Timur berhasil mencatatkan rekam jejak yang solid dan mendominasi kinerja, sementara beberapa bursa di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan masih berjuang keras menghadapi tekanan jual dari para pelaku pasar.
Dominasi Bursa Asia Timur
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, indeks KOSPI dari Korea Selatan memimpin penguatan dengan mencatatkan pertumbuhan yang sangat signifikan mencapai 99.59% secara ytd.
Sentimen positif dari sektor teknologi dan permintaan global untuk produk semikonduktor terus menopang laju indeks acuan di Seoul tersebut.
Menyusul di posisi kedua, indeks TAIEX dari Taiwan juga menorehkan kinerja yang impresif dengan apresiasi sebesar 55.26%. Ekspansi industri teknologi informasi global yang berkelanjutan dinilai menjadi motor penggerak utama bagi bursa saham Taiwan.
Tidak tertinggal, indeks Nikkei 225 dari Jepang turut mencetak pertumbuhan positif yang kuat sebesar 37.79%. Kebijakan moneter yang mendukung serta penyesuaian nilai tukar yen dinilai berhasil mendorong daya saing produk ekspor Jepang di kancah internasional.
Hal ini secara langsung memicu minat beli investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar di Tokyo. Di sisi lain, bursa saham China yakni Shanghai Composite bergerak lebih moderat dengan kenaikan terbatas sebesar 1.57%.
Berbeda nasib dengan rekan regionalnya, indeks Hang Seng di Hong Kong justru terkoreksi cukup dalam mencapai -12.31%.
Tantangan di Asia Tenggara dan Sekitarnya
Beralih ke kawasan Asia Tenggara, performa bursa saham menunjukkan tren yang jauh lebih beragam. Indeks SET dari Thailand dan STI dari Singapura berhasil mencetak rapor hijau dan menjaga momentum positif dengan kenaikan masing-masing sebesar 22.44% dan 11.52%.
Indeks VN-Index dari Vietnam juga turut menambah deretan bursa yang menguat dengan apresiasi 5.94%. Kinerja positif pada bursa-bursa ini didorong oleh stabilitas ekonomi domestik serta rilis data makroekonomi yang cukup stabil. Di wilayah Oseania, indeks ASX All Ordinaries dari Australia tumbuh tipis sebesar 0.72%.
Kendati demikian, tantangan berat masih membayangi pasar ekuitas di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan yang paling dalam, di mana pelemahan tercatat mencapai -31.81% secara ytd.
Kondisi tersebut menempatkan IHSG pada posisi kinerja terendah di antara bursa utama Asia lainnya pada paruh pertama tahun ini. Arus keluar modal asing ditengarai menjadi salah satu pemicu utama pelemahan pasar.
Di negara tetangga, indeks KLCI Malaysia dan PSEi Filipina juga tergelincir ke zona merah dengan koreksi masing-masing sebesar -1.00% dan -1.02%. Sementara itu, di kawasan Asia Selatan, indeks BSE SENSEX dari India mencatatkan penurunan sebesar -8.95%.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

4 hours ago
2

















































