Iran Kehilangan Taring, Sekutu Mulai Membangkang dan Tidak Satu Komando

7 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama bertahun-tahun, pejabat Iran menggaungkan istilah "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance), merujuk pada jaringan sekutu dari Beirut hingga Sana'a yang akan bersatu menghadapi musuh bersama. Namun, ketika Iran diserang dua kali dalam 15 bulan terakhir, masing-masing kelompok justru mengambil keputusan berbeda soal keterlibatan mereka dalam konflik.

Poros Perlawanan mungkin belum mati, tetapi merknya dinilai sudah lebih besar daripada kekuatan bisnisnya.

Strategi Iran mendukung milisi Arab bermula sejak 1980-an, ketika Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengirim pasukan untuk melatih pejuang Hizbullah di Lebanon. Kelompok-kelompok tersebut dipandang sebagai pengganti kekuatan militer konvensional Iran yang relatif lemah.

Milisi-milisi itu berfungsi sebagai pertahanan garis depan, sekaligus menjadi alat proyeksi kekuatan Iran tanpa harus membawa perang langsung ke wilayah Iran.

Namun, strategi tersebut jelas gagal menjalankan fungsi pertahanannya.

Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 memicu rangkaian perang yang pada akhirnya membuat Iran sendiri menjadi sasaran serangan. Hizbullah dan Hamas kini melemah drastis.

Rezim Bashar al-Assad di Suriah telah tumbang, sementara pemerintah Irak memerintahkan kelompok-kelompok milisi untuk melucuti senjata paling lambat Oktober.

Sejumlah lawan rezim berharap Iran terpaksa mengurangi dukungannya kepada para milisi, mungkin sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Langkah tersebut dinilai dapat memicu keruntuhan Poros Perlawanan.

Peta sekutu IranPeta sekutu Iran Foto: Economist

Namun, kemungkinan itu kecil.

Milisi-milisi tersebut memang terluka, tetapi masih hidup. Bahkan, alasan strategis Iran untuk mempertahankan dukungan terhadap mereka kini justru semakin kuat.

Masalahnya, Poros Perlawanan juga akan menghadapi kesulitan untuk kembali dibangun sebagai satu kesatuan. "Perusahaan induk" di Teheran sedang kehabisan sumber daya, sementara sejumlah "anak perusahaan"-nya dikelola dengan buruk.

Kemungkinan yang lebih besar adalah masing-masing kelompok tetap bertahan, tetapi semakin berjalan sendiri-sendiri.

Sebagian akan menjadi anak asuh Iran, dikendalikan secara ketat tetapi digunakan secara terbatas. Sebagian lainnya bisa "lulus" dari Poros Perlawanan. Kelompok lain mungkin berubah menjadi mitra liar, yakni klien yang memiliki pilihan untuk mencari pelindung baru.

Ironisnya, Iran kemungkinan justru akan memperketat kontrol terhadap kelompok yang mengalami pukulan paling berat terhadap kemampuan militernya.

Hizbullah: Dari Proxy Kuat Jadi Anak Asuh Iran

Hizbullah pernah menjadi proxy Iran yang paling ditakuti.

Hingga 2023, kelompok tersebut memiliki lebih dari 100.000 roket dan rudal yang diarahkan ke Israel, serta pasukan komando terlatih yang memperoleh pengalaman tempur dalam upaya mempertahankan rezim Bashar al-Assad di Suriah.

Pemimpin karismatik Hizbullah, Hassan Nasrallah, yang dibunuh Israel pada 2024, memandang dirinya bukan sekadar proxy Iran. Ia merupakan pendukung ideologi revolusioner Iran, tetapi tetap berusaha mempertahankan tingkat otonomi tertentu.

Kini kondisinya berubah.

Pengganti Nasrallah, Naim Qassem, dipandang sebagai figur manajemen menengah yang tidak terlalu populer. Serangan Israel juga telah menewaskan banyak komandan berpengalaman Hizbullah.

Pemerintah Lebanon menuntut Hizbullah menyerahkan persenjataannya yang kini jauh lebih terbatas.

Dengan banyak komandan tewas, IRGC mengirim personelnya sendiri ke Lebanon untuk mengendalikan langsung kelompok tersebut. Kondisi itu membuat Hizbullah memiliki ruang gerak yang semakin sempit, termasuk ketika akhirnya kembali terlibat dalam perang dengan Israel pada Maret.

Di saat yang sama, popularitas Hizbullah di dalam negeri Lebanon juga merosot tajam.

Bagi Iran, mempertahankan Hizbullah kini bukan semata karena apa yang masih bisa dilakukan kelompok tersebut, tetapi karena hilangnya Hizbullah akan menjadi simbol besar bagi melemahnya pengaruh Iran di kawasan.

Houthi: Sekutu yang Makin Mandiri

Di sisi lain terdapat Houthi, kelompok yang dianggap paling independen di antara sekutu Iran.

Houthi awalnya merupakan kelompok pemberontak lokal di Yaman utara yang muncul pada 1990-an. Baru beberapa dekade kemudian Iran memberikan bantuan finansial dan militer dalam skala besar.

Bantuan tersebut secara drastis meningkatkan kemampuan mereka.

Dari kelompok yang dulu diremehkan sebagai pejuang bersenjata seadanya, Houthi kini memiliki rudal antikapal untuk mengganggu pelayaran di Laut Merah serta sistem pertahanan udara yang mampu menembak jatuh drone Reaper milik Amerika Serikat.

Namun, Houthi tetap menjaga otonominya.

Keterlibatan mereka dalam perang setelah 7 Oktober 2023 naik-turun dan lebih banyak ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri dibandingkan instruksi Teheran.

Kemampuan Houthi memproduksi senjata sendiri juga terus meningkat. Mereka bahkan mulai membangun aliansi sendiri, termasuk dengan al-Shabab, kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan menguasai sebagian besar wilayah Somalia.

Delegasi Houthi juga telah mengunjungi Rusia dan melakukan pembicaraan dengan China.

Iran dan Houthi kemungkinan tetap memiliki kepentingan bersama. Keduanya sama-sama memusuhi Amerika Serikat, Israel, dan Arab Saudi.

Namun, memiliki kepentingan yang sama tidak berarti Houthi akan menerima perintah dari Teheran.

Di antara Hizbullah dan Houthi terdapat kelompok-kelompok yang semakin berstatus sebagai "sekutu liar".

Banyak milisi Syiah di Irak merupakan produk invasi yang dipimpin Amerika Serikat pada 2003. Setelah itu, Iran menggelontorkan senjata dan uang ke Irak untuk menghadapi kepentingan Amerika.

Namun, dua dekade kemudian, prioritas kelompok-kelompok tersebut berubah.

Iran masih menjadi sekutu, tetapi pelindung utama mereka kini adalah negara Irak, yang memiliki lebih dari 200.000 anggota milisi dalam daftar penggajian.

Beberapa milisi memang melancarkan serangan terhadap pangkalan Amerika Serikat pada awal tahun ini. Namun, mereka khawatir konflik terbuka dengan pemerintah Irak atau sekutunya akan mengancam posisi mereka sendiri.

IRGC disebut telah mengirim penasihat ke Irak untuk membangun sel-sel kecil yang bertugas menyerang negara-negara Teluk. Hal tersebut menjadi sinyal bahwa milisi-milisi besar Irak semakin enggan mengambil risiko tersebut.

Hamas: Sekutu yang Selalu Berbeda

Hamas sejak awal merupakan anggota yang agak janggal dalam Poros Perlawanan karena kelompok tersebut beraliran Sunni, sementara sebagian besar blok tersebut didominasi kelompok Syiah.

Hamas juga pernah berselisih dengan Iran terkait dukungan Teheran terhadap rezim Assad di Suriah.

Pemimpin baru Hamas, Khalil al-Hayya, dianggap sebagai sekutu Iran yang loyal. Namun, sejumlah pejabat Hamas lainnya lebih memilih mengarahkan kelompok tersebut kepada kekuatan Sunni, khususnya Turki dan negara-negara Teluk.

Pada Maret, Hamas bahkan meminta Iran menghentikan serangannya terhadap negara-negara Teluk.

Iran tidak akan meninggalkan Hamas. Dukungan terhadap Palestina merupakan bagian penting dari identitas rezim Iran.

Namun, dukungan tersebut kemungkinan akan lebih banyak bersifat retoris daripada material.

Bahkan jika Iran ingin membangun kembali seluruh jaringan sekutunya, kemampuan finansialnya terbatas.

Perang telah menyebabkan kerusakan senilai ratusan miliar dolar. Amerika Serikat juga memblokade pelabuhan Iran dan memperketat sanksi terhadap perekonomiannya.

Jatuhnya rezim Assad turut memutus jalur darat Iran menuju Lebanon. Dengan kondisi tersebut, Iran harus menentukan prioritas.

Nasib Poros Perlawanan dalam beberapa hal bisa menyerupai negara-negara klien Uni Soviet pada 1980-an, ketika Moskow tidak lagi mampu memberikan dukungan besar kepada sekutu-sekutunya.

Namun, analogi ini tidak sepenuhnya tepat.

Sekutu Moskow ketika itu masih memiliki kekuatan superpower lain sebagai alternatif. Sementara itu, kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Teheran menghadapi peta geopolitik yang jauh lebih rumit.

Sebagian memiliki sejumlah pilihan mitra baru. Sebagian lainnya tidak memiliki pilihan sama sekali.

Meski demikian, jaringan milisi paling ambisius di Timur Tengah tampaknya sedang menuju fase restrukturisasi besar-besaran.

(mae/mae)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |