Jakarta, CNBC Indonesia - Iran memberi respons pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) yang menyetop sementara perang. Bahkan, Presiden Donald Trump mengatakan Washington dan Teheran telah mengadakan "percakapan produktif" selama dua hari terakhir menuju "resolusi lengkap dan total" permusuhan di Timur Tengah.
"Saya telah memerintahkan departemen perang untuk menunda semua serangan militer terhadap PLTU Iran," sesumbar Trump lagi di media sosialnya Senin waktu setempat, dimuat Selasa (24/3/2026), seraya kembali menegaskan ada pembicaraan "sangat baik" untuk mengakhiri perang Timur Tengah selama tiga minggu dengan Iran.
Lalu bagaimana respons Iran?
Ketua parlemen Iran dan salah satu tokoh non-ulama yang paling terkemuka, Mohammad Bagher Ghalibaf, membantah keras adanya pembicaraan. Teheran juga menuduh Trump sedang melakukan "manipulasi ke pasar energi".
Pernyataan Trump itu dikatakan setelah sebelumnya, ia memberi waktu hingga Selasa malam untuk membuka Selat Hormuz seraya mengancam akan membombardir pembangkit listrik Iran. Perlu diketahui, harga minyak turun dan pasar saham melonjak usai pernyataan ia berikan.
Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan memang mereka telah menerima pesan melalui "negara-negara sahabat" tentang permintaan dari Amerika untuk berdialog. Namun membantah ada "negosiasi" sejak awal perang, sesuatu yang sebelumnya juga diklaim Trump.
"Selama beberapa hari terakhir, pesan diterima melalui beberapa negara sahabat yang menunjukkan permintaan AS untuk negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri perang," kata juru bicara kementerian luar negeri Esmaeil Baqaei, menurut kantor berita resmi IRNA, dikutip AFP.
"Namun kami membantah adanya negosiasi atau pembicaraan dengan Amerika Serikat selama 24 hari terakhir perang yang dipaksakan," tegasnya.
(sef/sef)
Addsource on Google

4 hours ago
3

















































