Ketika Pendidikan Menengah Tertinggal, Daya Saing RI Dipertaruhkan

2 hours ago 2

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

06 February 2026 14:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Pendidikan merupakan salah satu kunci pembangunan suatu negara. Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat pendidikan di Indonesia menunjukkan tren menuju perbaikan, baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA/SMK.

Capaian ini menunjukkan adanya perbaikan dalam akses pendidikan dan kesadaran masyarakat terkait pentingnya pendidikan.

Namun, capaian positif belum sepenuhnya berlanjut pada jenjang pendidikan menengah.

Data di atas menunjukkan semakin tinggi jenjang pendidikan, tingkat penyelesaian pendidikan justru semakin rendah.

Pada 2024, lebih dari 97% berhasil menyelesaikan pendidikan SD/MI dan lebih dari 91% berhasil menyelesaikan pendidikan SMP/MTs. Tetapi di tahun yang sama, hanya 67.07% yang dapat menyelesaikan jenjang SMA/SMK.

Penurunan jumlah kelulusan dari SMP/MTs ke SMA/SMK dapat menimbulkan tantangan bagi pembangunan nasional. Kondisi ini membatasi peningkatan kualitas sumber daya manusia, karena sebagian besar penduduk memasuki pasar tenaga kerja tanpa keterampilan yang memadai.

Akibatnya, risiko pengangguran, pekerjaan informal, dan upah rendah meningkat, terutama di kalangan kelompok rentan atau kelas menengah ke bawah. Dalam jangka panjang, tingkat kelulusan yang rendah di pendidikan menengah dan atas dapat memperlebar ketidaksetaraan sosial dan melemahkan daya saing nasional.

Penurunan jumlah lulusan di setiap jenjangnya juga sejalan dengan jumlah sekolah SD dan SMP yang lebih banyak, daripada jumlah sekolah SMA dan SMK.

Pada tahun ajaran 2024/2025, penambahan jumlah sekolah paling banyak ada pada jenjang SMP yang meningkat 550 sekolah.

Sementara itu, pada jenjang SD terjadi peningkatan sebesar 276 sekolah, dan jenjang SMA terdapat peningkatan 230 sekolah. Sedangkan, peningkatan terendah terjadi pada jenjang SMK yang hanya meningkat sebesar 73 sekolah.

Selain jumlah lulusan dan ketersediaan sekolah di setiap jenjang pendidikan, kualitas dan pemerataan akses terhadap infrastruktur dasar juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan pendidikan.

Akses terhadap listrik hampir merata di seluruh jenjang pendidikan, dengan nilai diatas 90 persen. Untuk akses internet yang digunakan dalam proses pembelajar, paling tinggi pada jenjang SMK dan SLB dan paling rendah pada jenjang SD/MI.

Sementara itu, akses terhadap komputer untuk keperluan pengajaran menunjukkan kesenjangan yang lebih besar pada tingkat SD/MI yang hanya 10.85%, akses terhadap komputer untuk keperluan pengajaran paling tinggi pada jenjang SMA/MA dan SMK.

Akses terhadap air minum layak sudah cukup tinggi, yaitu di atas 90 persen untuk semua jenjang. Namun, ketersediaan fasilitas sanitasi dasar seperti toilet layak masih belum merata. Selain itu, fasilitas cuci tangan yang memenuhi standar air, sanitasi, dan higienitas juga masih perlu diperkuat.

Program Prioritas Pemerintah dalam Pendidikan

Pemerintah memiliki peran penting dalam menentukan keberlanjutan pendidikan, program prioritas tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemerataan akses dan kualitas pendidikan, mengurangi kesenjangan pendidikan antar wilayah, serta memutus rantai kemiskinan. Beberapa program prioritas pemerintah dalam Pendidikan, yaitu:

a. Sekolah Rakyat (SR)

Sekolah Rakyat berperan memutus rantai kemiskinan antar generasi melalui perluasan akses pendidikan berkualitas bagi anak dari keluarga kurang mampu melalui layanan kesehatan, pemenuhan gizi, dan pembelajaran digital. Hingga akhir 2025, program ini telah memberi manfaat untuk 15.895 siswa serta 6.849 guru dan tenaga kependidikan yang beroperasi di 166 Sekolah Rakyat.

b. Sekolah Unggulan Garuda (SUG) dan Revitalisasi Sekolah

Sekolah Unggul Garuda dan revitalisasi sekolah diarahkan untuk memperkuat kualitas SDM serta kapasitas sains dan teknologi melalui peningkatan sarana, kurikulum, dan pembinaan pendidik, guna menyiapkan talenta unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional dan global. Realisasi Sekolah Unggulan Garuda mencapai Rp 176,8 miliar untuk Sekolah Unggulan Garuda baru dan transformasi, serta Rp 18,9 triliun untuk revitalisasi sekolah dan madrasah.

c. Makan Bergizi Gratis (MBG)

Program MBG hadir untuk memenuhi kebutuhan gizi, meningkatkan partisipasi sekolah, serta menggerakkan perekonomian lokal. Hingga akhir 2025, realisasi MBG mencapai Rp51,5 triliun dan menjangkau 53,8 juta penerima (per 7 Januari 2026 menjangkau 56,1 juta penerima), termasuk siswa, balita, ibu hamil/ menyusui, serta guru dan tenaga kependidikan. Selain dampak gizi dan kesehatan, MBG juga memberikan multiplier effect ekonomi melalui aktivitas 19.343 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mempekerjakan 789.319 tenaga kerja serta pemanfaatan bahan pangan lokal dari UMKM dan petani setempat.

Pendidikan yang selama ini kerap dianggap sebagai tanggung jawab sektor publik, sejatinya memiliki peran yang strategis dan potensi yang sangat luas dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pendidikan bukan hanya alat untuk meningkatkan pengetahuan tetapi juga fondasi penting untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia, memperkuat mobilitas sosial, dan menciptakan ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.

Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan, khususnya di jenjang pendidikan menengah, di mana akses, kualitas, dan relevansi dengan kebutuhan dunia kerja masih menjadi masalah.

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi yang masih ada melalui peningkatan akses dan kualitas pendidikan menengah, penguatan infrastruktur digital yang merata, dan pembentukan ekosistem kolaboratif antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan dunia bisnis.

Pendidikan yang sesuai dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar kerja akan mendorong lahirnya tenaga kerja yang mampu, produktif, dan berdaya saing. Pada saat yang sama, ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Berhasilnya pendidikan bagi suatu negara akan memberikan kontribusi yang besar dan tercermin dalam pencapaian SDGs nomor 1 (Tanpa Kemiskinan), nomor 4 (Pendidikan Berkualitas), nomor 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan nomor 10 (Berkurangnya Kesenjangan).

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |