Krisis Energi Mulai Cekik Eropa, Putin Tawarkan Diri Jadi Juru Selamat

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu jalur perdagangan energi dunia kini membuka peluang baru bagi Rusia untuk kembali menawarkan pasokan minyak dan gas ke Eropa. Presiden Rusia menyatakan negaranya siap memasok energi ke kawasan tersebut secara bersyarat jika negara-negara Eropa ingin kembali menjalin kerja sama.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Moskow siap kembali bekerja sama dengan pelanggan di Eropa setelah pengiriman energi melalui jalur strategis dunia terganggu akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pernyataan itu disampaikan Putin dalam komentar yang disiarkan televisi pada Senin (9/3/2026) waktu setempat, ketika konflik di Timur Tengah membuat pengiriman energi melalui Selat Hormuz praktis terhenti.

Selat tersebut merupakan salah satu jalur paling penting bagi perdagangan energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair melewati perairan sempit itu.

Dalam pernyataannya, Putin mengatakan Rusia tidak menutup kemungkinan untuk kembali memasok energi ke Eropa, asalkan hubungan tersebut didasarkan pada kerja sama jangka panjang yang stabil dan bebas dari tekanan politik.

"Jika perusahaan-perusahaan Eropa dan para pembeli Eropa tiba-tiba memutuskan untuk mengalihkan kembali orientasi mereka dan memberi kami kerja sama jangka panjang yang berkelanjutan, bebas dari tekanan politik, bebas dari tekanan politik, maka ya, kami tidak pernah menolaknya. Kami siap bekerja dengan orang Eropa juga," kata Putin, dilansir Al Jazeera.

Putin juga mendorong perusahaan energi Rusia untuk memanfaatkan situasi konflik di Timur Tengah yang memicu gangguan pasokan energi global.

Pernyataan Putin juga muncul hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán mendesak Uni Eropa agar mempertimbangkan kembali sanksi terhadap energi Rusia.

Orbán meminta blok tersebut menangguhkan sanksi terhadap minyak dan gas Rusia guna menahan lonjakan harga energi yang dipicu oleh perang di Timur Tengah. Seruan itu menyoroti perdebatan yang masih berlangsung di Eropa mengenai keseimbangan antara tekanan politik terhadap Rusia dan kebutuhan menjaga stabilitas pasokan energi.

Adapun sejak perang Ukraina pecah, negara-negara Eropa telah berupaya keras mengurangi ketergantungan mereka pada energi Rusia. Uni Eropa melarang impor minyak mentah Rusia melalui jalur laut pada 2022 sebagai bagian dari sanksi terhadap Moskow.

Selain itu, ekspor minyak Rusia melalui jaringan pipa Druzhba menuju Hungaria dan Slovakia secara efektif terhenti sejak Januari setelah kerusakan pada jalur yang melewati Ukraina.

Sebelum perang Ukraina, lebih dari 40% kebutuhan gas Eropa dipasok oleh Rusia. Namun pada 2025, gabungan pasokan gas Rusia melalui pipa dan LNG hanya menyumbang sekitar 13% dari total impor energi Uni Eropa.

Hilangnya pasar Eropa selama perang Ukraina memaksa Rusia mencari pembeli baru di Asia. Moskow akhirnya menjual minyak dan gasnya ke negara-negara Asia dengan diskon besar untuk mempertahankan volume ekspor.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |