Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
01 August 2026 06:58
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia terperosok pada perdagangan Jumat akibat bangkitnya dolar Amerika Serikat (AS). Kendati demikian, emas berhasil mengakhiri tren penurunan bulanan yang berlangsung selama empat bulan berturut-turut.
Merujuk Refinitiv, harga emas dunia ditutup di posisi US$4.040,94 per troy ons pada perdagangan Jumat (31/7/2026), atau mengalami depresiasi hingga 1,50%.
Pelemahan tersebut memangkas kenaikan emas sepanjang Juli menjadi 0,84%. Namun, hasil ini tetap menjadi kenaikan bulanan pertama sejak Februari 2026 setelah emas selalu berakhir di zona merah selama empat bulan beruntun.
Tekanan terhadap emas pada Jumat kemarin muncul setelah dolar AS bangkit dari level terendah dalam lebih dari satu bulan. Sehari sebelumnya, indeks dolar anjlok sekitar 2,4%, yang sekaligus menjadi penurunan harian terbesar sejak Januari 2023.
Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain sehingga permintaannya cenderung berkurang. Meski berakhir melemah, harga emas masih mampu bertahan di atas level psikologis US$4.000 per troy ons. Data inflasi AS yang lebih rendah turut menjaga harga emas dari tekanan yang lebih dalam.
Data yang dirilis pada Kamis menunjukkan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) AS turun 0,1% secara bulanan pada Juni. Perlambatan inflasi tersebut membuat pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS, Federal Reserve.
Kepala Analis Pasar Bybit Han Tan menilai emas masih kesulitan bergerak jauh di atas level psikologis US$4.000 meskipun berada di ambang mengakhiri penurunan selama empat bulan.
"Meski emas hampir mengakhiri penurunan empat bulan berturut-turut, logam mulia tersebut masih kesulitan menciptakan jarak yang lebih lebar dari level psikologis US$4.000," ujar Han Tan, dikutip dari Reuters.
Menurut Tan, harga emas masih mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa Ketua The Fed Kevin Warsh dapat memperluas fokus bank sentral, tidak hanya terpaku pada indikator inflasi pilihan The Fed dan kenaikan suku bunga.
Warsh pada pekan ini kembali menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi. Namun, ia belum memberikan sinyal jelas bahwa The Fed siap kembali menaikkan suku bunga.
Berdasarkan perangkat FedWatch CME Group, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September sebesar 65%. Angka tersebut turun dari lebih dari 80% pada sepekan sebelumnya.
Berkurangnya peluang kenaikan suku bunga menjadi sentimen positif bagi emas. Suku bunga yang tinggi biasanya menekan daya tarik logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Bank Sentral Kembali Memborong Emas di Kuartal II-2026
World Gold Council (WGC) melaporkan permintaan bersih emas dari bank sentral mencapai 289 ton pada kuartal II-2026. Jumlah tersebut melonjak lima kali lipat dibandingkan kuartal I-2026 yang telah direvisi menjadi 57 ton, sekaligus menjadi rekor tertinggi untuk periode kuartal II.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 177,9 ton, pembelian bersih tersebut meningkat sekitar 62%. WGC menilai ketegangan geopolitik, penurunan harga emas, dan kebutuhan diversifikasi cadangan turut mendorong bank sentral kembali meningkatkan pembelian.
Polandia menjadi pembeli terbesar dengan tambahan 51 ton sepanjang kuartal II. Cadangan emasnya mencapai 632 ton pada akhir Juni, sedangkan total pembelian selama semester I-2026 mencapai 82 ton.
Bank sentral China menambah 33 ton pada kuartal II, pembelian kuartalan terbesar sejak akhir 2023. Sepanjang semester pertama tahun ini, China membeli 40 ton sehingga total cadangan emasnya mencapai 2.346 ton.
Pembelian juga dilakukan Uzbekistan sebesar 16 ton, Kazakhstan 15 ton, serta Yordania dan Republik Ceko masing-masing 6 ton. Sebaliknya, Rusia menjadi penjual terbesar dengan melepas 22 ton emas.
Meski pembelian melonjak pada kuartal II, permintaan bersih bank sentral sepanjang semester I-2026 hanya mencapai 345 ton, terendah untuk periode semester pertama sejak 2022. Hal ini disebabkan besarnya penjualan oleh Turki, Rusia, dan Azerbaijan pada kuartal pertama.
WGC memperkirakan permintaan bank sentral akan tetap berada di atas rata-rata jangka panjang. Survei lembaga tersebut menunjukkan 89% pengelola cadangan devisa memperkirakan kepemilikan emas bank sentral global meningkat dalam 12 bulan mendatang. Sebanyak 45% responden bahkan berencana menambah cadangan emas institusinya sendiri.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/wur)

3 hours ago
3

















































