Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
01 August 2026 08:52
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan terakhir Juli 2026. Kekhawatiran terhadap gangguan pengiriman minyak kembali meningkat setelah konflik di Timur Tengah meluas ke sejumlah negara dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih sangat terbatas.
Merujuk Refinitiv, harga minyak Brent ditutup menguat 1,22% ke posisi US$90,12 per barel pada perdagangan Jumat (31/7/2026). Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,29% menjadi US$84,67 per barel.
Kenaikan tersebut menutup perjalanan tajam minyak sepanjang Juli. Dalam satu bulan, Brent melesat 23,59%, sementara WTI melonjak 21,83%. Keduanya membukukan kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2026.
Kepala Analis Komoditas Commerzbank Carsten Fritsch mengatakan konflik di Timur Tengah terus memicu volatilitas tinggi di pasar komoditas, termasuk minyak.
Ketegangan kembali meningkat setelah Garda Revolusi Iran dilaporkan menghentikan dua kapal tanker yang akan melintasi Selat Hormuz. Empat kapal lainnya terpaksa mengubah arah.
Dua kapal tanker berukuran sangat besar atau very large crude carrier memang berhasil keluar dari Selat Hormuz pada Jumat. Namun, data pelacakan kapal Kpler menunjukkan lalu lintas di jalur tersebut masih sepi.
"Pasar telah berhenti memperdagangkan perang dan mulai memperdagangkan data pelayaran," ujar Analis Pasar SEB Research Ole Hvalbye, dikutip dari Reuters.
Selat Hormuz sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Gangguan pada jalur tersebut membuat jutaan barel pasokan dari Timur Tengah tertahan.
Ancaman terhadap pasokan juga meluas ke Laut Merah. Kelompok Houthi di Yaman mengancam kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb, jalur alternatif yang digunakan Arab Saudi dan sejumlah produsen di kawasan Teluk.
Meski demikian, peluang diplomasi menahan kenaikan minyak lebih tinggi. Pakistan yang menjadi mediator mengatakan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali berunding untuk meredakan konflik. Iran dan Oman juga melanjutkan pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz.
Sebanyak 29 kapal komoditas tercatat berhasil melewati Selat Bab el-Mandeb pada Kamis. Namun, arus pengiriman masih jauh dari kondisi normal.
Perjanjian Damai Gagal, Minyak Kembali Terbang
Kenaikan tajam harga minyak sepanjang Juli bermula dari retaknya nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) perdamaian AS dan Iran.
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani MoU pada 17 Juni 2026. Perjanjian 14 poin tersebut memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, membuka kembali Selat Hormuz, serta menjadi jalan menuju kesepakatan damai permanen.
Namun, kesepakatan mulai runtuh pada 7 Juli ketika AS mencabut izin penjualan minyak Iran. Washington menilai tindakan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz tidak dapat diterima. Teheran kemudian menyebut keputusan tersebut sebagai pelanggaran terhadap MoU.
Ketegangan meningkat pada 11-12 Juli. Iran kembali menyatakan Selat Hormuz ditutup setelah menembaki kapal yang dianggap melintas tanpa izin. AS membalas dengan serangan terhadap ratusan target militer Iran, sedangkan Teheran menyerang fasilitas AS di sejumlah negara Teluk.
Trump kemudian menyatakan gencatan senjata telah berakhir. Iran juga menuding Washington membawa perjanjian tersebut ke dalam krisis. Perbedaan penafsiran mengenai pengelolaan Selat Hormuz menjadi salah satu sumber utama perselisihan.
Konflik yang kembali memanas membuat pasar memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak. Kekhawatiran semakin besar karena gangguan tidak hanya terjadi di Selat Hormuz, tetapi juga merambat ke Laut Merah, Mesir, Irak, hingga kawasan Laut Hitam.
Puncaknya terjadi pada 23 Juli 2026. Brent melonjak 7% dan ditutup di posisi US$100,69 per barel, penutupan tertinggi sejak 22 Mei 2026. WTI melesat 6,2% menjadi US$92,19 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah Houthi mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi, Encelia dan Layla, menggunakan rudal dan drone. Salah satu kapal dilaporkan terbakar setelah terkena serangan di dekat Pelabuhan Jizan, Arab Saudi.
Houthi juga mengumumkan blokade laut terhadap pengiriman minyak Arab Saudi. Langkah tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb dapat terganggu secara bersamaan. Kedua jalur itu membawa minyak dalam jumlah setara sekitar seperempat pasokan dunia.
Harga minyak kemudian turun kembali dari atas US$100 setelah muncul jeda serangan dan upaya diplomasi. Namun, belum pulihnya lalu lintas kapal membuat Brent tetap menutup Juli di atas US$90 per barel.
Pasokan domestik AS yang mengetat turut menopang harga. Persediaan minyak mentah komersial AS turun ke level terendah sejak 2018, sedangkan produksi pada Mei menyusut sekitar 2% dari rekor tertinggi pada April. Di sisi lain, serangan Ukraina terhadap kilang Volgograd di Rusia dan serangan drone terhadap kapal gas di Pelabuhan Damietta, Mesir, menambah kekhawatiran terhadap pasokan global.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/wur)

1 hour ago
3

















































