Lampu Kuning di Balik Laba FORE yang Melonjak 60%

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia — PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) mulai menunjukkan perbaikan kinerja dengan mencatatkan laba pada awal 2026. Namun di balik pertumbuhan tersebut, sejumlah indikator keuangan menunjukkan bahwa kondisi fundamental perusahaan belum kuat.

Berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026, Fore membukukan laba bersih sebesar Rp9,43 miliar, naik sekitar 60% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,88 miliar. 

Kenaikan ini sejalan dengan lonjakan penjualan yang mencapai Rp444,45 miliar, dari sebelumnya Rp291,68 miliar.

Meski demikian, margin keuntungan perusahaan masih relatif tipis. Laba bersih tersebut setara dengan margin 2,12% dari total penjualan, tidak jauh berbeda dengan tiga bulan pertama 2025 yang sebesar 2,02%. Hal ini terjadi karena beban operasional yang tinggi, mencapai Rp257,41 miliar, hampir menggerus seluruh laba bruto sebesar Rp273,67 miliar. 

Sebagai perbandingan, Cisarua Mountain Dairy (CMRY) mencatat margin sekitar 19% pada 2025. Lalu Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company (ULTJ) 15%.

Di sisi lain, laporan arus kas menunjukkan tekanan likuiditas. Kas dan bank turun signifikan dari Rp327,53 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp253,80 miliar per Maret 2026, atau berkurang sekitar Rp73,7 miliar dalam tiga bulan. 

Penurunan kas ini terjadi di tengah aktivitas ekspansi yang masih agresif, termasuk belanja aset tetap lebih dari Rp54 miliar dan total arus kas investasi yang mencapai Rp60,3 miliar.

Selain itu, beban tetap perusahaan, terutama dari liabilitas sewa mencapai lebih dari Rp220 miliar. Struktur biaya tetap yang tinggi menjadi tantangan tersendiri, khususnya jika pertumbuhan penjualan melambat.

Dari sisi neraca, Fore juga masih mencatatkan akumulasi rugi sebesar Rp168,36 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa laba yang dihasilkan saat ini belum cukup untuk menutup kerugian historis perusahaan.

Dalam keterangan tertulis, Direktur Utama FORE Vico Lomar menyatakan bahwa perusahaan sangat cermat dalam mengalokasikan modal. "Setiap
gerai baru yang kami buka merupakan hasil seleksi lokasi yang matang dan penggunaan dana IPO yang disiplin, dengan fokus yang jelas pada penciptaan imbal hasil yang berkelanjutan bagi para pemegang saham kami," katanya.

Sementara itu, FORE melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 14 April 2025 dengan harga 188. Pada akhir sesi 1 hari ini, Senin (20/4/2026) saham FORE parkir di level 940, turun 1,05% secara harian. Akan tetapi dalam sebulan terakhir saham FORE sudah naik 74,07%. 

Adapun berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek yang berakhir pada 31 Maret 2026, co-founder dan managing partner East Ventures Willson Cuaca merupakan penerima manfaat akhir FORE. Dia mengendalikan FORE melalui Fore Holdings Pte. Ltd. dengan kepemilikan 78,92%.

(mkh/mkh)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |