Jakarta, CNBC Indonesia - Media asing menyoroti langkah terbaru Indonesia dan China dalam mempererat kerja sama sistem pembayaran lintas negara menggunakan mata uang lokal. Langkah ini dinilai menjadi bagian dari upaya mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi internasional.
Melansir South China Morning Post (SCMP), China dan Indonesia resmi meluncurkan sistem pembayaran QR lintas batas yang memungkinkan masyarakat kedua negara melakukan transaksi ritel menggunakan mata uang masing-masing.
Melalui skema tersebut, pengguna aplikasi domestik seperti Alipay dari China dan QRIS dari Indonesia kini bisa memindai kode QR untuk bertransaksi langsung di kedua negara tanpa perlu bergantung pada dolar AS sebagai mata uang perantara.
Kepala Ekonom Asia-Pasifik bank investasi Prancis Natixis, Alicia Garcia-Herrero mengatakan, kerja sama tersebut merupakan langkah praktis untuk memperdalam hubungan finansial kedua negara.
Menurut dia, penggunaan mata uang lokal akan membantu memangkas biaya transaksi dan mengurangi risiko nilai tukar bagi Indonesia maupun China.
"Bagi Beijing, pendorong utamanya tampaknya adalah memajukan upaya de-dolarisasi, mempromosikan penggunaan yuan secara internasional, dan memperkuat integrasi ekonomi dengan mitra-mitra utama ASEAN di tengah dorongan geopolitik yang lebih luas untuk otonomi keuangan," kata Garcia-Herrero melansir SCMP, Sabtu (9/5/2026).
Adapun Bank Indonesia (BI) sebelumnya mengumumkan peluncuran inisiatif tersebut pada Kamis lalu. Peluncuran sistem pembayaran baru itu muncul di tengah agresifnya China memperluas konektivitas finansial dengan negara-negara ASEAN, yang merupakan mitra dagang terbesar Beijing di kawasan.
Sebelumnya, wisatawan asal China di Thailand sudah dapat menggunakan dompet digital domestik untuk membayar pedagang lokal menggunakan yuan sejak Oktober tahun lalu. Skema serupa juga mulai diterapkan di Vietnam melalui UnionPay sejak Desember, lalu diperluas bulan lalu untuk mencakup Alipay.
Layanan pembayaran lintas batas berbasis yuan juga telah tersedia di Malaysia dan Singapura.
Garcia-Herrero memperkirakan Beijing akan memperluas kerjasama serupa dengan lebih banyak negara ASEAN dan mitra dagang lainnya sepanjang tahun ini, seiring meluasnya jejak digital dan finansial China.
Sementara itu, dorongan pembayaran lintas batas tersebut selaras dengan strategi besar China untuk memperkuat posisi yuan di sistem keuangan global. Langkah itu dinilai penting bagi Beijing untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan yang didominasi dolar AS, terutama di tengah meningkatnya tensi dengan Washington.
China diketahui juga terus memperkuat Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), sistem pembayaran internasional alternatif yang dikembangkan sebagai tandingan jaringan keuangan Barat.
Garcia-Herrero mengatakan, semakin banyak bank asing kini mulai terhubung langsung dengan CIPS sehingga mempercepat efisiensi penyelesaian transaksi berbasis yuan.
Pada Minggu lalu, Wakil Gubernur Bank Rakyat China, Zhu Hexin, juga bertemu para pemimpin bank sentral ASEAN, Jepang, dan Korea Selatan di Uzbekistan untuk membahas kerjasama pembayaran lintas batas regional.
Di sisi lain, sistem pembayaran baru ini juga diharapkan dapat mendorong belanja wisatawan asing di China. Selama ini, sistem pembayaran digital China yang sangat bergantung pada aplikasi domestik disebut menjadi tantangan bagi turis internasional.
Pariwisata antara China dan Asia Tenggara sendiri melonjak sepanjang tahun lalu, didukung kebijakan bebas visa serta penyederhanaan syarat perjalanan.
Indonesia mencatat sebanyak 1,34 juta wisatawan asal China sepanjang 2025. Jumlah itu menjadi yang tertinggi dalam enam tahun terakhir dan setara 8,7% dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
China juga menjadi negara tujuan wisata terpopuler keempat bagi warga Indonesia tahun lalu, dengan kontribusi hampir 6,8% dari total perjalanan luar negeri warga RI.
(haa/haa)
Addsource on Google

3 hours ago
4

















































