Menanam Harapan: TANDURASA dan Jalan Sunyi Entaskan Kemiskinan Petani

2 hours ago 2

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

07 February 2026 13:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Badai pandemi Covid-19 pada 2020 memicu krisis kesehatan dan ekonomi. Namun, pandemi juga melahirkan "pahlawan".

Ketika pandemi Covid-19 mengganggu aktivitas perdagangan para petani dan pedagang sayur di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, seorang guru yang banting setir menjadi entrepreneur memutuskan untuk mengambil peran. Ia berpikir bagaimana petani kecil dapat berdaya secara ekonomi, meningkatkan keterampilan, dan membangun usaha yang berkelanjutan dengan komunitas.

Entrepreneur tersebut bernama Janu Muhammad. Dengan latar belakang pendidikan di ilmu Geografi serta pengalaman sebagai guru dan kepala sekolah di salah satu sekolah di Yogyakarta, langkah pertama Janu terlibat dalam dunia agribisnis sesederhana karena ia ingin membantu orang tuanya yang merupakan petani.

Janu membantu orang tua dan 100 pedagang sayur Pasar Sleman lainnya dari tekanan lockdown akibat pandemi Covid 19. Ia mulai memasarkan sayur secara online lewat platform yang diciptakannya sendiri, Sayur Sleman. Bermula dari Sayur Sleman, Janu melahirkan karya lainnya yang dinamakan TANDURASA. Inisiasi ini kemudian membantu lebih banyak petani di Yogyakarta.

Dimulai dari Tanah Bengkok

TANDURASA merupakan projek capstone yang digarap Janu dan tim nya saat mereka mengambil peran di SDG Academy Indonesia. Projek ini dirancang untuk mendukung tujuan SDG nomor 1, yaitu mengentas kemiskinan yang kemudian dikombinasikan dengan tekad peningkatan ketahanan pangan nasional.

Perlu diketahui, SDG (Sustainable Development Goal) atau yang juga dikenal sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah 17 agenda global yang bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi planet, serta menjamin kemakmuran bagi semua orang. Ide ini memiliki prinsip "No One Left Behind" (tidak ada yang tertinggal).

Pada tahun 2023, Janu dan tim nya menemukan sebuah desa bernama Desa Margorejo yang ada di Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman. Desa tersebut merupakan salah satu desa paling miskin di Daerah Istimewa Yogyakarta, di mana kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai petani.

Ia beserta timnya mulai membentuk sebuah sistem dengan semangat kelembagaan yang diberi nama Pertanian Terpadu Rakyat Sleman (disingkat sebagai TANDURASA) untuk membantu para petani di Desa Margorejo.

Terdapat tiga pilar utama yang menggerakan TANDURASA: pertanian pintar, keterkaitan agribisnis, dan edukasi petani. Projek ini kemudian dimulai dengan menggunakan tanah bengkok desa, yaitu sebidang tanah milik desa yang boleh dikelola oleh kepala desa dan perangkat desa sebagai sumber penghasilan tambahan atau kompensasi jabatan selama mereka menjabat.

Dengan dukungan pemerintah setempat, Janu dan timnya mulai bekerja serta melibatkan 10 petani muda, 15 gapoktan, dan 25 wanita tani yang ada di Desa Margorejo. TANDURASA akhirnya berjalan dengan fokus pada agribisnis tanaman melon yang dibudidayakan di dalam rumah kaca yang kemudian dijadikan lokasi agrowisata.

Belajar dari Praktik dan Melalui Kesesuaian Budaya

Langkah cerdas yang diambil Janu adalah proses sosialisasi dan pelatihan yang ditujukan kepada petani setempat.

Alih-alih asal melatih, Janu merekrut praktisi yang telah berhasil menjalankan bisnis dengan model bisnis serupa untuk menjadi edukator dan mentor. Bahkan, komoditas yang mereka kembangkan pun disesuaikan agar relevan dengan praktik yang diajarkan.

Selain itu, Janu memilih praktisi yang memiliki latar belakang sosial budaya yang serupa dengan para petani di Margorejo. Janu dan timnya mendatangkan para mentor ini dari Tegal. Hal ini dilakukan agar transfer ilmu berjalan lebih efektif dan efisien, dengan hambatan komunikasi seminimal mungkin.

Sebagai alumni SDG Academy Indonesia, Janu merancang model bisnisnya dengan melibatkan prinsip keberlanjutan. Masing-masing poin pada kerangka Bisnis Model Kanvas yang ia gunakan, dikawinkan dengan poin-poin SDG. hal ini ia lakukan salah satunya atas dasar kesadaran terhadap pentingnya sustainable finance, atau keuangan yang berkelanjutan.

Walau pada awalnya projek ini didukung oleh sponsor CSR sebesar Rp50.000.000, Janu sadar bahwa TANDURASA tidak bisa terus-terusan bergantung pada dana eksternal.

Dengan pola pikir tersebut didukung oleh konsistensi dalam menjalankan bisnis, TANDURASA berhasil melakukan panen sebanyak lima kali dalam setahun yang membuatnya balik modal atau mencapai titik BEP (Break Even Point) pada tahun pertamanya beroperasi.

Selain aspek finansial, Janu juga menyadari bahwa tantangan terbesar dalam menjalankan bisnis yang terpadu ada pada aspek kelembagaannya. Untuk itu Janu dan timnya menerapkan ilmu manajemen kelembagaan bisnis pertanian kepada setiap anggota TANDURASA. Ia selalu membuka ruang komunikasi secara berkala, memastikan semua hal berjalan dengan baik.

TANDURASA: The Best Capstone Project

Pada perjalanannya, TANDURASA telah berhasil meningkatkan daya tawar dan kapasitas petani di Desa Margorejo. Model bisnis B2C yang diterapkan TANDURASA, memungkinkan petani mendapatkan harga yang lebih bagus untuk hasil tanaman garapan mereka, sehingga pemasukan rumah tangga petani pun ikut meningkat.

Selain itu, para petani yang diberi pelatihan pertanian pintar sudah mulai terampil membuat rumah kaca dan instalasi pertanian modern lainnya. Para petani ini juga semakin mahir menjalankan bisnis agrikultur dengan perbekalan ilmu manajemen pertanian serta keuangan.

Para petani tersebut bahkan sampai mengikuti acara-acara konferensi dan lomba pertanian untuk menunjukan kebolehan dan menyerap lebih banyak ilmu lagi. Hal ini menunjukan bahwa TANDURASA berhasil meningkatkan kapasitas petani, mengganti pandangan yang awalnya skeptis menjadi optimis terhadap profesi ini.

Keberhasilan TANDURASA kemudian menginspirasi Janu untuk mereplikasikannya ke daerah Timur Indonesia, Kupang.

Wilayah yang memiliki keterbatasan air ini mengganggu pasokan hasil tani, sehingga sayur di sana menjadi langka juga mahal harganya. Janu dan timnya kemudian menggodok rencana dengan memilih jenis tanaman, teknologi, mekanisme kelembagaan dan finansial yang cocok untuk diterapkan di Kupang.

Karena kesuksesannya ini, TANDURASA diapresiasi sebagai The Best Capstone Project oleh SDG Academy. Sementara itu, Janu turut diapresiasi sebagai The Most Outstanding Leader pada upacara kelulusannya dari SDG Academy Indonesia

Memberdayakan Petani, Memperkuat Kedaulatan Pangan

TANDURASA mendemonstrasikan cara pragmatis yang dapat dilakukan untuk mendukung tujuan keberlanjutan tanpa menciptakan ketergantungan pada bantuan pembiayaan. Kombinasi dari semangat berdaya dan pola pikir modern, berhasil membangun keberlanjutan finansial dan peningkatan kesejahteraan sosial.

Janu berpendapat bahwa petani merupakan kelompok yang harus selalu diberdayakan.

Di balik peran pentingnya dalam pelestarian industri pertanian, petani kerap berada pada posisi paling rentan di rantai nilai agribisnis. Sehingga dukungan sistematis yang menyasar tepat pada akar-akar masalah yang dihadapi petani menjadi sangat penting, mulai dari peningkatan kapasitas, akses pasar, hingga penguatan daya tawar petani dalam rantai.

Janu juga menekankan bahwa sektor pertanian berperan penting dalam menopang kedaulatan bangsa. Upaya pelestarian sektor ini dapat dimulai oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Langkah paling sederhana untuk mendukung keberlanjutan pertanian adalah dengan mengapresiasi para aktor di dalamnya.

"Dengan tidak menyisakan makanan, kita sudah melakukan bentuk apresiasi terhadap hasil pertanian sekaligus kepada petani yang menanamnya," ujar Janu.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |