Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat (AS) akan membantu "memandu" kapal-kapal yang terdampar akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Mengutip laporan BBC pada Selasa (5/5/2026), Selat Hormuz sebagian besar tetap terblokir sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menutup jalur air krusial tempat lewatnya 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Hanya sehari setelah pengumuman tersebut, pertempuran terbatas dilaporkan kembali pecah. AS menyatakan telah menyerang beberapa kapal kecil Iran, sementara Iran dikabarkan meluncurkan serangkaian serangan balasannya sendiri. Operasi bertajuk "Project Freedom" ini kini menjadi sorotan dunia mengenai apakah akan memicu dimulainya kembali permusuhan skala besar atau tidak.
Apa yang Dikatakan Trump?
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu, Presiden Trump menyatakan bahwa AS telah diminta oleh negara-negara "dari seluruh dunia" untuk membantu membebaskan kapal-kapal mereka yang "terkunci di Selat Hormuz" dan merupakan "pihak netral yang tidak bersalah." Sebagai tanggapan, AS akan "memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur perairan yang dibatasi ini."
"Pergerakan kapal ini semata-mata dimaksudkan untuk membebaskan orang-orang, perusahaan, dan negara-negara yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun - Mereka adalah korban keadaan," kata Trump.
Trump menambahkan bahwa langkah ini merupakan "gerakan kemanusiaan atas nama Amerika Serikat, negara-negara Timur Tengah, tetapi secara khusus, negara Iran." Menurutnya, banyak kapal tersebut "mulai kehabisan makanan dan segala kebutuhan lain bagi awak kapal dalam jumlah besar untuk tetap berada di atas kapal dengan cara yang sehat dan higienis."
Apa Tanggapan Iran?
Meskipun Trump mengeklaim operasi ini juga dilakukan demi kepentingan Iran, Teheran dengan tegas menolak narasi tersebut. Iran bersikeras memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz dan mengancam akan menyerang "kekuatan bersenjata asing mana pun" yang mencoba mendekat atau masuk, terutama militer AS yang mereka sebut agresif.
Mayor Jenderal Ali Abdollahi menegaskan bahwa jalur aman melalui selat tersebut harus dikoordinasikan dengan Iran "dalam segala keadaan." Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuliskan kritik tajamnya melalui media sosial X pada Selasa kemarin.
"Peristiwa di Hormuz memperjelas bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik. Project Freedom adalah Project Deadlock (Proyek Jalan Buntu)," tulis Araghchi.
Bagaimana Militer AS Menjalankan Rencana Trump?
Berdasarkan data Organisasi Maritim Internasional (IMO), diperkirakan 20.000 pelaut dan 2.000 kapal terjebak di Teluk sejak dimulainya perang dengan Iran. Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan telah mengerahkan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat, platform tanpa awak, serta 15.000 personel militer untuk mendukung operasi ini.
Komandan Centcom Laksamana Brad Cooper menjelaskan bahwa helikopter serang yang mendukung misi tersebut telah digunakan untuk menenggelamkan enam kapal kecil Iran yang menargetkan kapal sipil. Ia juga mengeluarkan peringatan keras terhadap pihak mana pun yang mencoba mengganggu jalannya operasi.
"Kami akan menembak setiap kapal Iran yang dianggap mengganggu upaya lebih luas untuk membantu kapal-kapal melewati area tersebut," tegas Cooper.
Mantan pejabat pertahanan AS, Mick Mulroy, berpendapat bahwa Project Freedom kemungkinan besar akan berfokus pada penyediaan perlindungan udara dan pertahanan dari serangan rudal atau drone, bukan sekadar pengawalan fisik. Namun, ia meragukan efektivitasnya karena faktor kepercayaan dari perusahaan asuransi kapal terhadap keamanan jalur tersebut.
Apakah Kapal-Kapal mulai melintas?
Pada Senin sore, Centcom mengeklaim kapal perusak AS telah beroperasi di Teluk untuk mendukung Project Freedom dan berhasil membantu dua kapal dagang berbendera AS melintasi Selat Hormuz dengan selamat. Perusahaan pelayaran Maersk mengonfirmasi salah satu kapalnya berhasil keluar dari Teluk dengan pendampingan militer AS, namun Korps Garda Revolusi Islam Iran membantah adanya kapal yang berhasil melintas.
Pakar Timur Tengah Grant Rumley menilai bahwa mengamankan jalur bagi seluruh kapal di Teluk akan sangat sulit dan kemungkinan besar memerlukan opsi militer yang lebih kuat secara kinetik.
"Saya pikir konsensus umumnya adalah bahwa dimulainya kembali permusuhan adalah masalah kapan, bukan jika," ujar Rumley.
Apakah Iran Menembaki Kapal Perang AS?
Beberapa jam setelah operasi dimulai, militer Iran mengeklaim telah menembaki kapal perusak musuh, namun klaim adanya kapal AS yang terkena rudal langsung dibantah oleh Centcom. Meski begitu, Centcom mengakui bahwa Iran memang menembakkan rudal jelajah ke kapal perang dan kapal komersial berbendera AS, serta menggunakan drone terhadap kapal komersial.
Dalam unggahan terbarunya, Trump menuduh Iran telah "melepaskan beberapa tembakan" ke negara-negara yang tidak terkait, yang memicu serangan balasan AS terhadap kapal-kapal kecil Iran. Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan sebuah kapal tanker milik perusahaan minyak negara Adnoc menjadi sasaran dua drone saat melintasi selat, namun tidak ada korban luka dalam insiden tersebut. Trump juga menyebut adanya serangan yang diduga menghantam kapal kargo Korea Selatan yang sedang berlabuh di perairan dekat UEA.
(tps/luc)
Addsource on Google

6 hours ago
5














































