Jakarta, CNBC Indonesia - China terus menjadi salah satu negara terdepan dalam pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Nilai industrinya sendiri telah menembus Rp 3.000 triliun pada tahun lalu.
Laporan dari China Academy of Information and Communications Technology (CAICT) menyebutkan skala industri AI China melampaui 1,2 triliun yuan (sekitar Rp 3.180 triliun) pada 2025. Angka tersebut mencatatkan lonjakan hingga 40% secara tahunan (year-on-year), mengutip China Daily, Rabu (12/8/2026).
Laporan yang sama turut menyoroti populasi pelaku usaha di sektor ini. Saat ini terdapat lebih dari 6.600 perusahaan AI di China, yang menyumbang sekitar 15% dari total perusahaan AI di seluruh dunia.
China dinilai telah berhasil membangun ekosistem industri AI yang lengkap dan matang, mencakup infrastruktur dasar, kerangka kerja (framework) dan model AI, hingga aplikasi khusus untuk berbagai sektor domestik.
Dari seluruh rantai industri AI di Negeri Tirai Bambu, segmen aplikasi mendominasi dengan kontribusi 55% pada 2025 (naik 22% secara tahunan). Segmen infrastruktur menyumbang 38% dengan pertumbuhan 59%.
Sementara itu, segmen model dan kerangka kerja menyumbang 7%, meski mencatatkan laju pertumbuhan paling agresif mencapai 189% dalam setahun.
Kendati demikian, sebarannya masih terkonsentrasi di beberapa wilayah kunci saja, seperti Beijing, Guangdong, Shanghai, Zhejiang, dan Shandong.
Di sisi lain, inovasi pada model AI berskala besar (large language models), agen AI (AI agents), hingga chip AI terus menunjukkan penetrasi pesat. Berbagai produk AI baru makin beragam dan pemanfaatannya kian meluas ke beragam sektor industri lokal.
Guna menopang ekosistem ini, CAICT memimpin penyusunan dua standar industri terkait definisi sektor AI dan identifikasi perusahaan AI. Langkah ini diambil untuk memberikan standar terpadu dalam pengumpulan statistik industri, perumusan kebijakan pemerintah, maupun transaksi bisnis.
Pencapaian ini membuktikan ketangguhan China dalam mengembangkan teknologi canggih, ketika Amerika Serikat (AS) terus melancarkan sanksi dagang untuk menghambat pengembangan AI di negara kekuasaan Xi Jinping.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

7 hours ago
1

















































