Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara mematikan terhadap sebuah kapal yang dicurigai mengangkut narkoba di Samudra Pasifik bagian timur pada Selasa, (5/5/2026). Serangan brutal ini menewaskan tiga orang pria di atas kapal tersebut, menambah panjang daftar korban jiwa dalam kampanye agresif Washington di perairan Amerika Latin.
Mengutip laporan The Associated Press pada Rabu (6/5/2026), serangan ini terjadi hanya sehari setelah pasukan AS menggempur kapal yang diduga pengangkut narkoba di Laut Karibia yang menewaskan dua orang. Kampanye pemerintahan Donald Trump untuk meledakkan kapal-kapal yang dituduh melakukan perdagangan narkoba telah berlangsung sejak awal September dan telah menewaskan sedikitnya 191 orang secara total.
"Komando Selatan AS sekali lagi menyatakan bahwa mereka telah menargetkan tersangka pengedar narkoba di sepanjang rute penyelundupan yang telah diketahui," tulis laporan militer tersebut.
Meskipun saat ini AS tengah terlibat dalam perang dengan Iran, intensitas serangan terhadap kapal-kapal di belahan bumi barat ini justru meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan agresif pemerintahan Trump untuk menghentikan apa yang mereka sebut sebagai "narkoterorisme" tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Namun, hingga saat ini militer AS belum memberikan bukti nyata bahwa kapal-kapal yang dihancurkan tersebut benar-benar membawa narkoba.
Serangan-serangan ini bermula ketika AS membangun kehadiran militer terbesarnya di kawasan tersebut dalam beberapa generasi. Langkah ini juga terjadi beberapa bulan sebelum penggerebekan pada Januari lalu yang menangkap Presiden Venezuela saat itu, Nicolás Maduro, yang kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba.
"Militer mengunggah video di media sosial X yang memperlihatkan sebuah kapal sedang melaju di atas air sebelum ledakan besar menghanguskan kapal tersebut dalam kobaran api," lapor saksi mata melalui dokumentasi resmi tersebut.
Presiden Donald Trump sendiri secara tegas menyatakan bahwa Amerika Serikat saat ini berada dalam kondisi konflik bersenjata dengan kartel-kartel di Amerika Latin. Ia membenarkan serangan-serangan mematikan tersebut sebagai eskalasi yang diperlukan untuk membendung arus masuk narkoba ke Amerika Serikat yang telah menyebabkan banyak warga Amerika tewas akibat overdosis.
"Amerika Serikat sedang berada dalam 'konflik bersenjata' dengan kartel-kartel di Amerika Latin," tegas Trump dalam pernyataannya.
Kendati demikian, kebijakan ini menuai kecaman luas dari berbagai pihak. Para kritikus mulai mempertanyakan legalitas secara keseluruhan dari serangan terhadap kapal-kapal tersebut di perairan internasional, mengingat minimnya bukti kuat yang ditunjukkan oleh pemerintah terkait klaim pembunuhan para "narkoteroris" tersebut.
(tps/luc)
Addsource on Google

8 hours ago
7

















































