Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa negara di Eropa mulai mengambil langkah darurat menghadapi gelombang panas ekstrem yang kian memburuk. Sejumlah sekolah ditutup, layanan kereta dikurangi, hingga berbagai acara publik dibatalkan karena suhu udara diperkirakan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Di Prancis, pemerintah menetapkan status siaga merah cuaca panas di 49 dari total 96 departemen daratan. Otoritas setempat juga menutup 845 sekolah pada Senin (22/6/2026), sementara sekitar 1.800 sekolah lainnya memperbolehkan siswa pulang lebih awal untuk mengurangi risiko kesehatan akibat suhu yang sangat tinggi.
Menteri Muda Ekologi Prancis Mathieu Lefevre menyebut gelombang panas kali ini sebagai fenomena yang tidak biasa. Pernyataan itu muncul setelah sejumlah negara Eropa juga mencatat rekor suhu tertinggi untuk periode musim semi hingga awal musim panas tahun ini.
"Gelombang panas ini sangat intens dan datang sangat awal," ujarnya, seperti dikutip CNA.
Panas ekstrem juga memaksa sejumlah kota di Prancis membatalkan festival musik tahunan. Pemerintah bahkan melarang konsumsi alkohol di ruang publik pada wilayah yang berstatus siaga merah dengan alasan kesehatan dan menjaga ketertiban umum.
Beberapa wilayah Prancis mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius, angka yang tergolong ekstrem untuk bulan Juni. Di kawasan Gironde, Prancis barat daya, otoritas setempat melaporkan tiga warga berusia 80 hingga 95 tahun meninggal dunia, dengan cuaca panas disebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kematian mereka.
Kondisi serupa terjadi di Belgia. Operator kereta nasional SNCB membatalkan sejumlah perjalanan kereta pada jam sibuk selama Senin dan Selasa guna mengurangi risiko kerusakan rel akibat suhu tinggi.
"Negara itu berpotensi mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah pada pekan ini," kata Kepala Peramalan Institut Meteorologi Belgia (IRM), David Dehenauw.
Di Spanyol, badan meteorologi Aemet memperingatkan suhu "sangat tinggi" akan bertahan hingga Rabu dengan perkiraan mencapai 44 derajat Celcius di sejumlah wilayah. Pemerintah Kota Madrid juga membatalkan acara nonton bareng kemenangan tim nasional Spanyol atas Arab Saudi di Piala Dunia karena cuaca yang dinilai terlalu berbahaya bagi masyarakat.
Sementara itu, Inggris diperkirakan mengalami pemecahan rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni. Kepala Eksekutif Royal Meteorological Society, Liz Bentley, memperkirakan suhu dapat mencapai 38-39 derajat Celcius.
"Minggu depan akan membawa gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya," katanya. Rekor suhu tertinggi Inggris pada Juni sebelumnya berada di level 35,6 derajat Celsius.
Para ilmuwan menilai perubahan iklim menjadi faktor utama di balik semakin seringnya gelombang panas ekstrem terjadi. Peneliti senior Pusat Sains Atmosfer Nasional Universitas Reading, Akshay Deoras, mengatakan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia telah meningkatkan panas di atmosfer sehingga suhu ekstrem menjadi jauh lebih intens dibandingkan masa lalu.
Badan meteorologi Prancis bahkan memperingatkan bahwa gelombang panas saat ini berpotensi menyamai tingkat keparahan peristiwa panas ekstrem pada Agustus 2003, yang menewaskan hampir 15.000 orang di negara tersebut.
(tfa/sef)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































