Jakarta, CNBC Indonesia - Dokter spesialis saraf mengatakan, kebiasaan mendengkur saat tidur bisa menjadi tanda gangguan tidur serius yang berisiko menyebabkan stroke hingga demensia.
Kepala Neurologi, Epileptologi, dan Sleep Medicine di Manipal Hospital Old Airport Road, Bengaluru, India, Dr. Pramod Krishnan mengatakan, mendengkur bukan sekadar kebiasaan, melainkan dapat menjadi gejala obstructive sleep apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif.
"Semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa mendengkur bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Kondisi ini dapat menjadi tanda gangguan tidur serius yang disebut obstructive sleep apnea," kata Krishnan dikutip dari Hindustan Times, Senin (5/7/2026).
OSA merupakan gangguan tidur yang menyebabkan saluran napas bagian atas tersumbat saat tidur. Akibatnya, napas dapat berulang kali berhenti dan kembali berlangsung sepanjang malam. Selain mendengkur keras, OSA juga ditandai dengan beberapa gejala lain, seperti:
- Tidur tetapi tetap merasa tidak segar saat bangun.
- Mengantuk berlebihan pada siang hari.
- Sakit kepala saat bangun tidur.
- Mudah mengantuk dan sulit berkonsentrasi sehingga aktivitas sehari-hari terganggu.
Meski demikian, Krishnan menjelaskan, mendengkur tanpa disertai gejala-gejala tersebut umumnya tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, jika muncul bersamaan dengan keluhan lain, pemeriksaan ke dokter sangat dianjurkan.
Mengapa Ngorok Bisa Sebabkan Stroke dan Demensia?
Krishnan menjelaskan, pada penderita OSA terjadi penurunan kadar oksigen dalam darah secara berulang akibat saluran napas yang tersumbat saat tidur. Kondisi tersebut membuat kualitas tidur terus terganggu sepanjang malam.
"Pada penderita OSA, tidur menjadi terfragmentasi karena kadar oksigen darah berulang kali turun akibat sumbatan pada saluran napas bagian atas. Napas tampak berhenti dan kembali berlangsung berulang kali selama tidur," ujarnya.
Ia bilang, kurangnya kualitas tidur yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk gangguan pada otak seperti stroke dan demensia. Ia juga menambahkan, penurunan kadar oksigen yang berulang dapat memicu peradangan, stres oksidatif, hingga kerusakan sel-sel saraf, terutama pada bagian otak yang berperan dalam memori dan fungsi kognitif.
Berbagai penelitian juga menunjukkan, penderita OSA cenderung mengalami penurunan kemampuan berpikir, perhatian, fungsi eksekutif, kecepatan memproses informasi, hingga daya ingat.
Cara Mengatasi Sleep Apnea
Krishnan menekankan, gangguan tidur ini sebaiknya segera ditangani, terutama jika seseorang mengalami kebiasaan mendengkur secara terus-menerus.
Ia menyarankan, terapi utama untuk OSA adalah penggunaan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), yaitu alat yang membantu menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur. Selain itu, penurunan berat badan juga menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi tingkat keparahan penyakit.
Meski demikian, ia mengingatkan diagnosis OSA harus dilakukan oleh tenaga medis. Seseorang yang sering mendengkur disertai rasa kantuk berlebihan di siang hari, sakit kepala saat bangun, atau pasangan melihat napasnya sering berhenti ketika tidur, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

4 hours ago
1















































