Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Hingga akhir Januari 2026, harga nikel acuan diperdagangkan dalam kisaran US$ 18.000-18.700 per metrik ton, dengan harga rata-rata LME tiga bulan terakhir sekitar US$ 18.705/mt. Ini merupakan pemulihan cukup signifikan dari harga rata-rata tahun 2025 sekitar US$ 15.300/mt .
Namun, harga "pemulihan" ini masih tetap lebih rendah dibandingkan level harga pada tahun 2022. Pasar agaknya sedang merespons potensi disrupsi di sisi pasokan, namun dengan tetap mengakomodasi risiko ketidakpastian. Secara lebih khusus, hal ini terutama berkaitan dengan dengan kebijakan kuota pertambangan nikel di Indonesia dan keberlanjutan ketersediaan bijih nikel secara global.
Prospek Pasokan
Konsensus berbagai lembaga riset internasional menunjukkan pasar nikel global akan tetap surplus sepanjang tahun 2026, dengan Indonesia terus bertindak sebagai pemasok utama.
International Nickel Study Group memproyeksikan produksi nikel primer global sebesar 4,085 juta ton pada tahun 2026, dibandingkan dengan penggunaan sebesar 3,824 juta ton, yang menyiratkan surplus sekitar 261 ribu ton. Proyeksi serupa juga dikemukakan oleh berbagai lembaga, termasuk ING Research (~261 kt surplus), S&P Global (~179 kt surplus), dan Nornickel (~200 kt surplus).
Pendorong struktural pertumbuhan pasokan nikel global dalam hal ini adalah (tetap) Indonesia. Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 60% dari produksi nikel global, didukung oleh ekspansi berkelanjutan dalam produksi nikel pig iron berbiaya rendah untuk sektor stainless steel dan percepatan investasi hilir dalam produk antara terkait baterai.
Pandangan pasar sejauh ini cenderung ke arah bahwa ekspansi ini dapat memperpanjang kondisi surplus hingga setelah tahun 2026, yang menggarisbawahi sifat struktural dari ketidakseimbangan tersebut. Indonesia mungkin paling tepat digambarkan sebagai produsen-penyeimbang di pasar nikel global untuk tahun 2026.
Pangsa pasarnya dalam nikel yang ditambang secara global telah meningkat dari 34% pada tahun 2020 menjadi lebih dari 50% pada tahun 2023, sementara pangsa pasarnya dalam nikel olahan telah meningkat dari sekitar 23% menjadi 37% pada periode yang sama. Dominasi ini memberi Indonesia pengaruh yang cukup signifikan terhadap keseimbangan global dan pembentukan harga.
Kebijakan nikel Indonesia di atas kertas telah bergeser ke arah kontrol administratif yang lebih ketat. Pemerintah telah memberi sinyal pemotongan kuota penambangan dan rencana kerja anggaran belanja (RKAB) tahunan untuk tahun 2026 menjadi sekitar 250-260 juta ton dari sekitar 379 juta ton pada tahun 2025.
Sebuah langkah yang agaknya ditafsirkan oleh pasar sebagai potensi pembatasan pasokan. Langkah ini secara konseptual mewakili pergeseran dari strategi yang mengutamakan volume menuju manajemen pasar dan harga. Namun, dalam praktiknya, pembatasan kuota tidak secara otomatis diterjemahkan menjadi pengurangan produksi yang terealisasi.
Asosiasi peleburan Indonesia (FINI) telah memproyeksikan permintaan bijih domestik sekitar 340-350 Mt pada tahun 2026, yang tentu memerlukan pemenuhan dari sisi pasokan. Dari perspektif pasar, kebijakan Indonesia tampaknya lebih dilihat sebagai sumber volatilitas dan sinyal, bukan sebagai pengetatan pasokan secara struktural yang pasti terjadi.
Kecuali, jika penegakan hukum secara material dengan membatasi produksi secara fisik benar-benar dilakukan, diiringi penyerapan domestik dari pemanfaatan di sisi hilir (industri) benar-benar sudah berjalan.
Di luar Indonesia, pasokan nikel global pada dasarnya cenderung tertekan. Produsen berbiaya tinggi, khususnya di Australia, telah menghadapi penutupan tambang, pengurangan produksi, dan penurunan nilai aset karena mereka berjuang untuk bersaing dengan basis biaya Indonesia yang lebih rendah.
Berbagai upaya rasionalisasi dilakukan produsen nikel global, seperti halnya Australia, untuk tetap dapat menjaga profil biaya kompetitif dengan kurva biaya global. Namun, dampaknya pada keseimbangan pasar secara keseluruhan relatif terbatas. Pertumbuhan pasokan Indonesia secara relatif masih dapat terus mengimbangi penurunan produksi di tempat lain, mengkondisikan pasar untuk lebih tidak berada dalam keadaan ketat.
Prospek Permintaan
Prospek permintaan nikel, terutama bersumber dari baja tahan karat - yang masih merupakan penggunaan akhir nikel terbesar - terlihat relatif stabil menjelang tahun 2026, dengan pola pertumbuhan yang relatif stabil dengan divergensi regional.
WorldStainless melaporkan produksi pabrik peleburan baja tahan karat sepanjang tahun 2024 naik 7% YoY menjadi 62,6 Mt, dan produksi Januari-September 2025 naik 3,0% YoY menjadi 48,0 Mt; di antaranya, produksi China Januari-September 2025 naik menjadi 30,45 Mt (+4,7% YoY), sementara Eropa menurun (-4,2%) dan AS tumbuh (+9,3%).
Secara umum, permintaan baja tahan karat memberikan dasar yang kuat (terutama yang dipimpin oleh China) untuk sisi permintaan nikel global. Adapun distribusi-divergensi regional di dalam permintaan menyiratkan bahwa pasar tetap rentan terhadap siklus pengisian kembali stok oleh China dibandingkan permintaan (murni) yang berasal dari industri Eropa yang dalam hal pertumbuhan relatif lebih lemah.
Secara fundamental, kondisi ini mendukung dasar permintaan nikel global tahun 2026 untuk tetap stabil, tetapi karena baja tahan karat bersifat siklikal dan bergantung pada persediaan China, hal ini dapat menyebabkan lonjakan singkat permintaan nikel yang lebih tinggi. Namun hal ini, karena bersifat siklikal, semestinya tidak akan menjadikan pasar menjadi ketat di sepanjang tahun.
Permintaan EV masih terus berkembang, tetapi tahun 2026 tampaknya akan mengalami pertumbuhan terbatas dengan volatilitas, dan cenderung tidak linier. Pada 2024 lalu, IEA mencatat penjualan mobil listrik mencapai lebih dari 17 juta unit (+25% YoY) atau lebih dari 20% dari penjualan mobil baru secara global, dengan China mencatat penjualan mencapai lebih dari 11 juta unit.
Ini artinya, separuh lebih dari pangsa pasar pertumbuhan penjualan mobil listrik global dikuasasi China. Dengan demikian, China masih akan menjadi pemain utama dari EV, sekaligus masih akan cukup menentukan pasar untuk material baterainya.
Sinyal-sinyal terkini yang mengarah ke tahun 2026 lebih beragam; Reuters memperkirakan pertumbuhan penjualan EV + PHEV China akan melambat menjadi sekitar 15,2% pada tahun 2026 (dari sekitar 28,2% tahun sebelumnya), sementara artikel Reuters menyebutkan risiko melemahnya permintaan baterai pada awal tahun 2026 yang terkait dengan potensi penurunan penjualan EV domestik dan ekspor baterai yang lebih lambat.
China sebenarnya terus mencatat volume produksi EV yang tinggi, sekitar 1,8 juta unit dalam satu bulan, dengan penetrasi mendekati 50% dari penjualan kendaraan pada tahun 2025), dan pasar EV diperkirakan akan tetap dinamis dalam jangka menengah.
Namun, dampak pada permintaan nikel relatif "dinetralkan" karena pertumbuhan EV semakin banyak berasal dari BEV dan PHEV yang banyak menggunakan LFP, mengurangi intensitas nikel per kendaraan. Akibatnya, profil permintaan nikel China hingga tahun 2026 paling tepat digambarkan sebagai siklik dan tidak merata, daripada mengalami percepatan pertumbuhan secara struktural.
Prospek Harga Jangka Pendek-2026
Berdasarkan uraian di atas, harga nikel diperkirakan akan tetap (sangat) fluktuatif, namun cenderung tertekan. Penilaian pasar pertengahan tahun 2025 menyoroti bahwa harga nikel secara efektif telah turun setengahnya dari harga tertinggi tahun 2022, stabil di sekitar level US$ 15.000/mt-kisaran yang secara luas dianggap menimbulkan tekanan bagi produsen berbiaya tinggi, terutama di luar Indonesia.
Selama satu hingga tiga bulan ke depan, arah harga akan bergantung pada apakah sinyal kebijakan di Indonesia diterjemahkan menjadi berkurangnya pasokan secara riil - yang dapat diamati -, seperti penundaan persetujuan, ketatnya pasokan bijih, atau terbatasnya pasokan peleburan.
Tanpa "bukti" tersebut, peningkatan persediaan dan kondisi surplus yang berkelanjutan dan cenderung mendorong penurunan harga lebih mungkin terjadi. Namun, dalam hal ini tetap rentan terhadap pembalikan cepat karena gangguan pasokan dari produsen berbiaya tinggi juga berpotensi terjadi.
Sepanjang tahun 2026, tanpa ada kejadian luar biasa - perang skala luas misalnya - , secara fundamental, kecenderungan akan terjadinya surplus di sisi pasokan tetap lebih kuat. Perkiraan berbagai lembaga internasional secara konsisten menunjukkan potensi terjadinya kelebihan pasokan yang signifikan itu, terutama didorong oleh perluasan kapasitas berbiaya rendah di Indonesia.
Pertumbuhan permintaan tetap mendukung, tetapi kemungkinan tidak akan cukup untuk menyerap kelebihan pasokan. Dengan dasar ini, maka patokan harga dari berbagai lembaga internasional untuk tahun 2026 yang umumnya konservatif, memang menjadi rasional. Acuan yang umum dikutip oleh Bank Dunia menempatkan harga nikel sekitar US$ 15.500/mt, sementara Goldman Sachs memperkirakan harga akan turun menuju sekitar US$ 14.500/mt pada akhir tahun 2026.
(miq/miq)

3 hours ago
3
















































