Jakarta, CNBC Indonesia - Niat hati keliling dunia dengan sepeda, dua pemuda Indonesia ini justru harus mengalami nasib tak terduga dan terbayangkan, yakni hidup menggelandang setelah kehabisan ongkos di tengah perjalanan.
Mereka adalah Saleh Kamah dan Darmadjati. Pada 1955, keduanya sedang menjalankan misi ambisius, yakni mengelilingi dunia dengan sepeda sambil memperkenalkan Indonesia ke berbagai negara.
Perjalanan awal berjalan lancar. Saleh dan Darmadjati berhasil melintasi Malaysia, Pakistan, India, hingga Burma. Namun setibanya di Rangoo, Myanmar, keduanya menghadapi masalah besar. Uang yang dibawa habis, sementara rencana mencari pekerjaan serabutan untuk membiayai perjalanan ternyata tidak berjalan sesuai harapan.
Tanpa pekerjaan dan tanpa bekal yang cukup, perjalanan mereka nyaris berakhir di Burma. Mereka terpaksa bertahan dengan bantuan berbagai pihak yang tertarik pada kisah petualangan dua pemuda asal Indonesia tersebut.
Beruntung, bantuan itu memungkinkan Saleh dan Darmadjati kembali melanjutkan perjalanan. Dari Burma, mereka meneruskan perjalanan menuju Timur Tengah dan Eropa. Setelah itu keduanya menyeberang ke Amerika Serikat dengan kapal laut sebelum melanjutkan perjalanan ke Jepang dan Filipina.
Kisah Saleh dan Darmadjati sebenarnya merupakan bagian dari petualangan lima pemuda Indonesia yang pada 1955 bertekad mengelilingi dunia. Selain mereka berdua, rombongan juga terdiri dari Rudolf Lawalata, Abdullah Balbed, dan Sujono.
Menariknya, kelima pemuda tersebut awalnya tidak saling mengenal. Mereka dipersatukan oleh mimpi yang sama, yakni menjelajahi dunia dan memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat internasional.
Sebelum berangkat, mereka bahkan sempat menemui Presiden Soekarno di Istana Negara pada 8 Januari 1955. Dalam memoar Rp.50 Keliling Dunia (2009), Sujono menceritakan bahwa Soekarno menyambut rencana tersebut dengan bangga dan berpesan agar mereka menjaga nama baik Indonesia selama perjalanan.
Tak hanya memberi restu, Soekarno juga memberikan bantuan berupa uang Rp50, kamera, ransel, dan pakaian batik sebagai bekal awal perjalanan.
"Anakku Rudolf Lawalata, Sujono, Abdullah Balbed, bawalah dirimu mengelilingi dunia tapi tunjukkanlah jiwamu tetap kepada Tuhan dan Indonesia," ujar Soekarno sambil menepuk dada mereka.
Sementara Saleh dan Darmadjati memilih menggunakan sepeda, tiga rekannya yakni Rudolf Lawalata, Abdullah Balbed, dan Sujono menjelajahi dunia dengan berjalan kaki. Mereka melintasi Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Amerika Serikat, Amerika Latin, hingga Rusia.
Petualangan mereka kemudian menarik perhatian media internasional. Pada 2 Agustus 1956, kantor berita United Press di Amerika Serikat memberitakan kedatangan Sujono dan Abdullah Balbed di New York setelah menempuh perjalanan panjang dari Eropa.
"Dua mahasiswa Indonesia, Sujono dan Abdullah Balbed yang sedang melakukan perjalanan keliling dunia dengan berjalan kaki, tiba di kota ini pada hari Rabu dengan Kapal Norwegia dari Eropa," tulis media tersebut.
Secara keseluruhan, petualangan tersebut berlangsung sekitar enam tahun. Namun tidak semua anggota rombongan kembali ke Indonesia. Hanya Sujono dan Saleh Kamah yang pulang ke Tanah Air. Abdullah Balbed menetap di Amerika Serikat, Rudolf Lawalata tinggal di Jerman, sementara jejak Darmadjati kemudian menghilang dari berbagai catatan sejarah.
(mfa/wur)
Addsource on Google

4 hours ago
2

















































