Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa otomotif Volkswagen mengumumkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 100.000 karyawannya pada akhir dekade ini. Keputusan drastis tersebut terpaksa diambil setelah perusahaan dihantam keras oleh tarif impor Amerika Serikat (AS) dan persaingan sengit dari rival-rival asal China.
Mengutip Guardian, Jumat (4/9/2026), manajemen dan serikat pekerja telah menyepakati rencana pemotongan biaya besar-besaran dengan memangkas 50.000 posisi tambahan pada tahun 2030, sehingga total PHK yang direncanakan mencapai 100.000 orang. Jumlah model mobil yang diproduksi oleh grup Volkswagen, yang juga menaungi merek Bentley dan Audi, akan dipangkas hingga setengahnya.
"Sangat penting untuk secara sistematis menyelaraskan tingkat tenaga kerja dengan realitas ekonomi," paparnya.
CEO Volkswagen, Oliver Blume, sebelumnya sempat disoraki oleh para staf pada bulan lalu selama tur di kantor pusat perusahaan di Wolfsburg saat berdialog mengenai tantangan keuangan. Saat itu, rencana restrukturisasi ini belum disetujui oleh dewan pengawas yang mewakili tenaga kerja dan pemegang saham.
Namun pada hari Kamis, perusahaan memastikan bahwa dewan yang kuat tersebut kini telah memberikan lampu hijau sepenuhnya.
"Dewan pengawas telah dengan suara bulat menyetujui rencana masa depan dewan eksekutif yang disajikan hari ini. Ini adalah sinyal kuat untuk masa depan grup Volkswagen," ungkapnya.
Total 100.000 posisi yang dieliminasi ini akan menjadi restrukturisasi terbesar yang pernah dilakukan dalam industri otomotif global. Angka tersebut setara dengan sekitar 15% dari total 650.000 karyawan Volkswagen di seluruh mereknya, yang juga mencakup Skoda, Seat, Porsche, Cupra, dan Lamborghini.
Selain pemangkasan tenaga kerja besar-besaran, manajemen dan serikat pekerja juga sepakat bahwa masa depan empat pabrik di Jerman yakni di Hanover, Emden, Zwickau, dan Neckarsulm tidak dapat dijamin kelangsungannya memasuki tahun 2030-an dan berpotensi ditutup secara permanen dalam delapan tahun ke depan.
Tekanan berat yang dialami Volkswagen sejatinya tak terlepas dari tren penurunan laba dan masalah kelebihan produksi di Eropa yang telah membayangi selama bertahun-tahun. Persaingan dengan merek China di Eropa maupun di Negeri Tirai Bambu sendiri telah menjadi salah satu katalis buruk performa raksasa otomotif Jerman ini.
Persoalan serupa juga dialami pabrikan otomotif Jerman lainnya seperti BMW. Perusahaan asal Munich itu terpaksa memangkas panduan laba tahun ini akibat gangguan rantai pasokan dari perang Iran dan sulitnya menembus pasar domestik China.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

4 hours ago
4

















































